Yuk #BersamaBergerakBerdaya Menjaga Hutan Kita, Rumah Kita!




Hutan adalah rumah bagi 80% spesies tumbuhan dan hewan. 
Hutan adalah rumah bagi 300 juta orang. 
Hutan adalah rumah

(IFCC Hutan Lestari) 


Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.

           (Definisi Hutan menurut Pasal 2 UU tentang Kehutanan) 

Luas Kawasan Hutan Indonesia

Berdasarkan data dari Dataindonesia.id yang bersumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) total kawasan hutan di Indonesia pada 2022 mencapai 125,76 juta hektare (ha). Ini setara dengan 62,97% dari luas daratan Indonesia yang sebesar 191,36 juta ha. Kawasan hutan di Indonesia yang berbentuk daratan seluas 120,47 juta ha, sedangkan kawasan hutan perairan dengan luas 5,32 juta ha. 

Adapun berdasarkan jenisnya, kawasan hutan lindung merupakan yang paling luas, yakni 29,56 juta ha (23,5% dari total kawasan hutan secara nasional), kawasan hutan produksi tetap sebesar 29,23 juta ha, kawasan hutan konservasi memiliki luas 27,41 juta ha, luas hutan produksi terbatas sebesar 26,8 juta ha sedangkan hutan produksi yang dapat dikonversi memiliki luas 12,79 juta ha.



Terlepas dari adanya perbedaan antara luas hutan secara hukum (de jure) seperti data yang bersumber dari KLHK, dengan luas hutan secara faktual (defacto) yang disampaikan oleh beberapa lembaga pemerhati bidang kehutanan yang kemudian menghitung hanya luas hutan Indonesia yang masih benar-benar memiliki tutupan hutan. 

Istilah tutupan hutan (forest coverage) belakangan populer karena Undang-Undang tentang Cipta Kerja menghapus Pasal 18 ayat (2) Undang-Undang tentang Kehutanan. Sebagai iniformasi, pasal ini mewajibkan pemerintah mempertahankan rasio luas kawasan hutan dan tutupan hutan minimal 30% untuk setiap daerah aliran sungai (DAS) dan/atau pulau dengan sebaran proporsional. Dalam penjelasan Pasal 18 ayat (1), tutupan hutan didefinisikan sebagai penutupan lahan oleh vegetasi dengan komposisi dan kerapatan tertentu, sehingga tercipta fungsi hutan antara lain iklim mikro, tata air, dan tempat hidup satwa sebagai satu ekosistem hutan.

Pemerintah menetapkan bahwa kawasan hutan Indonesia seluas 125,76 juta hektare pada 2022. Dari luas tersebut, nyata ada kawasan yang memiliki tutupan hutan dan ada pula yang tak memilikinya. Sebaliknya, tutupan hutan bisa terjadi dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Kawasan dan bukan kawasan hutan adalah pengertian penguasaan oleh negara dan oleh pihak lain. Jika disebut “kawasan hutan” maka hak pengelolaannya berada di tangan negara.

Indahnya Hutan Indonesia

Hutan itu gericik air dari bukit sana

Bermuara di gelas dan cangkir kita;

Hutan itu desau udara melintas cakrawala

Lewat paru-paru dan pori-pori kita

Hutan itu tempat tinggal Adam kakek kita

Terlempar dari Sorga. Kita ke sana, Saudara  

(Hutan: Sapardi Djoko Damono)


Indahnya puisi hutan dari Sastrawan Sapardi Djoko Damono, seindah itulah hutan Indonesia. Bahkan definisi hutan dalam UU tentang Kehutanan sekalipun, jika kita baca dengan hati yang penuh sudah menggambarkan indahnya hutan pada asalnya. Keanekaragaman hayati dan ekosistem yang terdalam di dalam hutan Indonesia yang menjadikan hutan Indonesia sedemikian indah.


Jenis hutan di Indonesia cukup beragam, hutan hujan tropis, hutan bakau, hutan sabana, hutan homogen, hutan produksi dan banyak lainnya. Hutan hujan tropis merupakan jenis hutan yang paling umum di Indonesia, antara lain Indonesia terletak di daerah tropis yang banyak mendapat sinar matahari, memiliki curah hujan tinggi, serta temperatur dengan nilai yang rata-rata tinggi. 

Hutan hujan tropis adalah bioma berupa hutan yang selalu basah atau lembap, yang dapat ditemui di wilayah sekitar khatulistiwa (lintang 0°–10° ke utara dan ke selatan garis khatulistiwa). Persebaran hutan hujan tropis di Indonesia berada di pulau-pulau besar seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Karakteristik hutan hujan tropis antara lain :
  • memiliki pepohonan yang berdaun lebat, tinggi, dan rapat, 
  • dasar hutan atau lantai hutan penuh tetumbuhan lumut dan rumput
  • sinar matahari tidak menembus sampai dasar hutan
  • memiliki kelembapan udara yang tinggi
  • mendapatkan curah hujan yang tinggi
  • banyak terdapat sumber air dan genangan air di lantai hutan akibat curah hujan yang tinggi.

Indonesia bersama Brazil dan Kongo merupakan 3 negara dengan kekayan hutan tropis di dunia. Sebagai hutan tropis, hutan Indonesia adalah rumah. Rumah bagi ribuan spesies tumbuhan dan hewan yang unik, langka , dan hanya bisa ditemukan di wilayah hutan kita. Hutan Indonesia tempat berlindung banyak spesies yang terancam punah. Selain itu, hutan tropis Indonesia memiliki pemandangan alam yang luar biasa indah dengan berbagai macam flora dan fauna yang hidup di dalamnya

Manfaat Hutan Indonesia

Hutan Indonesia merupakan bagian dari lingkungan global yang sangat penting. Ada beberapa manfaat utama dari hutan Indonesia. 

🌳 Sumber Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya

Sebagaimana disampaikan sebelumnya, hutan adalah rumah bagi keanekaragaman hayati yang meliputi semua bentuk kehidupan yang ditemukan di kawasan hutan dan peran ekologis. Beragam jenis pohon dan tanaman, beragam jenis hewan, beragam jenis mikroorganisme, bahkan aneka ragam genetika yang berkembang biak di dalam hutan Indonesia. 

Hutan memiliki 60.000 spesies pohon yang berbeda dan hidup di dalamnya. Hidup didalamnya  80% dari spesies amfibi, 75% dari spesies burung, dan 68% dari spesies mamalia di bumi. Ragam tanaman dalam hutan dapat digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit.  Sebagai contoh, kandungan theophylline didapatkan dari tanaman cacao yang tumbuh di hutan merupakan obat asma. Sekitar 70% tanaman yang memiliki zat anti-kanker juga berasal dari hutan.

Ekosistem hutan mampu menampung beragam kebutuhan hayati dan nabati yang berfungsi sebagai sumber makanan manusia.  Hutan juga menyediakan varietas tanaman yang tumbuh liar dan bisa digunakan sebagai bahan makanan baik bagi manusia maupun hewan. 

πŸ€ Paru-Paru Dunia


Hutan Indonesia berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan di seluruh dunia. Salah satunya sebagai paru-paru dunia yang membantu menghasilkan oksigen.  Oksigen kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup di bumi. Banyaknya tumbuhan hijau di hutan bekerja sebagai penyerap karbondioksida dan mengubahnya menjadi oksigen. Udara bersih yang dibutuhkan manusia merupakan akibat dari terjaganya hutan. Satu pohon dewasa mampu menyediakan kebutuhan oksigen bagi 2-10 orang dalam sehari. Selain itu hutan bermanfaat mengurangi jumlah karbon dioksida yang masuk ke atmosfer. 

🚰 Sumber Air dan Penyedia Hujan

Hutan hakikatnya bermanfaat dalam mengendalikan daur air. Bukan hanya sekedar menyediakan air bersih,  tetapi juga berperan dalam pengendalian erosi dan banjir. Daun dan ranting pohon berperan sebagai penghalau dalam proses intersepsi air hujan yang turun ke bumi sehingga dapat mencegah air langsung turun ke tanah.

Hutan Indonesia juga menyediakan hujan. Hutan memiliki ekosistem yang kompleks. Pepohonan dalam hutan menyerap air dari tanah dan melepaskan kelebihannya ke udara. Jika ukuran hutan cukup besar, peristiwa ini mampu mempengaruhi curah hujan. 

Air hujan yang turun dalam hutan diserap oleh berbagai pepohonan, kelebihan air yang tidak diserap kemudian disimpan dalam tanah . Tanah memiliki beberapa lapisan alami seperti batu dan pasir yang berfungsi menyaring air hujan sehingga menjadi bersih.  Itulah mengapa penyedia air minum mengambil pasokan air dari pegunungan.  Pegunungan memiliki hutan yang lebat yang mampu memurnikan air.



🌍 Menjaga Stabilitas Iklim Global.

Pemanasan global terjadi karena emisi karbon dioksida yang terus meningkat membuat bumi menjadi panas. Suhu panas mengakibatkan es kutub yang meleleh sehingga air laut naik dan berpotensi menenggelamkan kota-kota pesisir. Selain itu, suhu panas juga dapat meningkatkan suhu air laut yang berakibat pada matinya terumbu karang. Padahal, terumbu karang berperan penting untuk ekosistem laut. Dengan lebih banyak hutan, maka lebih banyak pula karbon dioksida yang diserap sehingga pemanasan global dapat dicegah dan mendinginkan bumi.

☔ Mencegah Erosi dan Banjir, serta Menjaga Kesuburan Tanah

Dengan pepohonan yang tumbuh lebat dengan akar yang kuat, hutan mampu menahan erosi tanah. Hutan juga mampu menjadi daerah resapan air yang baik karena mampu menyerap kelebihan air sehingga mencegah tanah longsor. 

Sebagai daerah resapan air, hutan juga dapat mencegah banjir. Tingginya curah hujan tidak menjadi masalah selama ada hutan. Hutan memiliki kemampuan untuk menyerap air dengan maksimal sehingga mencegah banjir. Tanpa hutan, air tidak akan terserap, mudah tergenang menimbulkan banjir. 

Seluruh tumbuhan yang ada di dalam hutan juga turut berperan dalam menyuburkan tanah. Daun yang berguguran kemudian membusuk dan terurai di atas permukaan menjadi kompos yang berfungsi menyuburkan tanah. Tanah yang subur dapat menjadi lahan bagi penanaman pohon kembali.

πŸ’°Sumber Devisa

Manfaat ekonomi dari hutan juga tidak dapat kita pungkiri. Hutan menghasilkan beragam kayu dan olahan kayu. Jasa lingkungan dan sosial dari hutan yang antara lain dimanfaatkan di sektor pariwisata juga menjadi penyedia devisa untuk membangun sektor lain.


Begitu indahnya hutan Indonesia terutama dengan hutan hujan tropis yang paling dominan ternyata juga menghadapi berbagai tantangan. Saat ini banya terjadi kerusakan dan kebakaran hutan dan lahan hutan. Perusakan hutan menyebabkan banyak spesies yang hidup di dalamnya mengalami kepunahan dan hilangnya sumber daya alam yang sangat penting bagi masyarakat.

Kebakaran Hutan dan Lahan: Fakta, Dampak, dan Solusi

Data Kebakaran Hutan dan Lahan

Salah satu yang masih menghantui hutan Indonesia adalah masih banyaknya kejadian kebakaran hutan di Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan menjadi peristiwa musiman. Saat tiba musim kemarau maraklah kebakaran hutan dan lahan. Sebagaimana dikutip oleh data.goodstats.id yang bersumber dari KLHK, tercatat luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sepanjang tahun 2022 sebesar 204.894 hektare.



Berdasarkan data KLHK tersebut, luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang tahun 2022  adalah 204.894 hektare (ha). Angka ini turun seluas 253.973 ha atau setara dengan 42,9% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat seluas 358.867 ha. Pada satu dekade terakhir, total area kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 8.032.062 ha. Luas kebakaran hutan dan lahan yang paling parah terjadi pada tahun 2015 yaitu seluas 2,6 ha.

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada 2022 melanda 30 provinsi di Indonesia. Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat sebagai provinsi yang paling terdampak kebakaran hutan dan lahan yang mencapai 70.637 ha pada 2022. Nusa Tenggara Barat (NTB) juga menjadi salah satu provinsi yang paling terdampak yaitu luasnya mencapai 70.637 ha.

Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan

Ada banyak faktor penyebab kebakaran hutan baik itu karena faktor alam maupun faktor manusia. Salah satu faktor alam yang sering terjadi adalah petir.  Petir yang menyambar pohon atau semak kering yang kemudian menimbulkan api dan membakar hutan. Faktor yang mendukung dan membuat pohon atau lahan kering mudah tersulut api misalnya cuaca, jenis pohon, dan lanskap hutan.  

Cuaca panas sering menjadi pemicu karena keringnya pepohonan dan semak sehingga sangat potensial untuk mudah terbakar. Cuaca memengaruhi proses penyalaan dan penjalaran kebakaran hutan. Selain itu, faktor-faktor cuaca seperti suhu, kelembapan, stabilitas udara, serta kecepatan dan arah angin secara langsung juga memengaruhi terjadinya kebakaran hutan.  



Letusan vulkanik gunung berapi juga menjadi faktor alami penyebab kebakaran hutan. Umumnya, kebakaran hutan terjadi akibat lava panas yang mengalir akibat dari letusan gunung yang dapat merusak segala infrastruktur yang dilaluinya. Sebagaimana diketahui beberapa gunung berapi aktif dikelilingi hutan yang luas. Lava panas yang ekstrem dapat menyebabkan vegetasi terbakar dan kemudian menyebar hingga timbul kebakaran huran.

Memasuki musim kemarau, potensi terjadinya kebakaran hutan makin meningkat. Selama musim kemarau mungkin akan jarang atau bahkan sama sekali tidak terjadi hujan. Tinggi rendahnya intensitas hujan berpengaruh pada jumlah kebakaran yang diidentifikasi dengan adanya hotspot (titik panas). Makin rendah intensitas curah hujan semakin meningkat pula jumlah hotspot yang ada. 

Kondisi Tutupan Lahan dan Jenis Tanah. Di beberapa spesifik lokasi seperti Sumatra dan Kalimantan, penyebab kebakaran hutan sangat dipengaruhi oleh kondisi tutupan lahan maupun jenis tanah serta berkaitan dengan ketersediaan biomassa yang menjadi salah satu komponen utama terjadinya kebakaran.

Dalam kondisi musim kemarau yang ekstrem, ketersediaan biomassa yang tinggi akan memperbesar potensi terjadinya kebakaran lahan. Selain itu, jenis tanah juga ikut berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya kebakaran hutan. Lahan gambut adalah salah satu ekosistem yang mempunyai tingkat kerawanan kebakaran cukup tinggi. 

Dari faktor manusia kita tidak dapat memungkiri bahwa aktivitas manusia seperti membuka lahan dengan cara membakar bisa menjadi penyebab kebakaran hutan. Aktivitas masyarakat mengolah lahan pertanian/perkebunan dengan menggunakan metode tebas-bakar (slash and burn)  karena mempertimbangkan keterbatasan tenaga kerja, keterbatasan mobilitas menuju lahan, serta keterbatasan modal. 

Pembakaran dianggap sebagai salah satu cara penyiapan lahan yang paling mudah dan murah. Padahal pembukaan lahan dengan cara membakar berisiko meluas sehingga menyebabkan kebakaran hutan.  Selain itu, kelalaian mematikan api unggun secara benar ketika berkemah di hutan atau gunung juga turut menyumbang faktor penyebab kebakaran hutan.

Dampak Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan dan lahan berdampak pada rusaknya ekosistem dan menyebabkan musnahnya flora dan fauna yang tumbuh dan hidup di hutan. Rusaknya hutan nerarti hancurnya segala manfaat baik yang terkandung dalam sebuah kawasan hutan. 

Kebakaran hutan mengakibatkan hutan menjadi gundul, sehingga tidak mampu lagi menampung cadangan air di saat musim hujan, hal ini dapat menyebabkan tanah longsor ataupun banjir. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan juga mengakibatkan berkurangnya sumber air bersih dan bencana kekeringan, karena tidak ada lagi pohon untuk menampung cadangan air.


Kebakaran hutan menurunkan kualitas udara. Dampak lainnya dari asap yang ditimbulkan dapat menyebabkan penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), Asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronik, Penyakit Jantung serta iritasi pada mata, tenggorokan dan hidung. Kabut asap dari kebakaran hutan juga dapat mengganggu bidang transportasi, khususnya transportasi penerbangan. Tersebarnya asap dan emisi gas karbondioksida dan gas-gas lain ke udara juga akan berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim. 
Kebakaran hutan dapat memiliki dampak merugikan yang besar pada masyarakat, ekonomi, kesehatan dan mata pencaharian manusia, keanekaragaman hayati dan penyimpanan karbon. Dampak ini umumnya diperbesar dalam kasus ini dari kebakaran hutan.
(Dr Matthew Jones, penulis utama dari Tyndall Center for Climate Change Research di UEA).

Sebuah studi terbaru yang terbit di jurnal Frontiers in Climate pada 8 Februari 2022 mengungkapkan bahwa kebakaran deforestasi di Indonesia menyumbang 7% dari total emisi gas rumah kaca (GRK) global pada tahun 2019 dan 2020. Di tempat kedua, ada kebakaran deforestasi di Brasil yang menyumbang 3% dari total emisi gas rumah kaca (GRK) di planet Bumi ini pada tahun 2019 dan 2020.

Dari jumlah tersebut, kebakaran di lahan gambut berkontribusi antara 40% dan 60% dari dampak emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu, para peneliti mendesak kebijakan perlindungan hutan dan lahan gambut yang lebih baik. Studi ini menyoroti perlunya pemetaan ekosistem lahan gambut dan kebakaran lahan gambut yang lebih baik. Pengukuran tanah sebelum dan sesudah kebakaran secara teratur untuk melengkapi pengukuran satelit juga diperlukan untuk memberikan hasil pemetaan yang lebih akurat sehingga bisa menghasilkan kebijakan yang lebih tepat.

Tak bisa kulupakan hutan, tak bisa kulupakan
Sedapnya daun gugur, lembutnya lumut cendawan.
Tak bisa kulupakan hutan, tak bisa kulupakan
Muramnya kasih gugur, lembutnya kecup penghabisan.
Tak bisa kulupakan hutan. tak bisa kulupakan
Muramnya senyum hancur, lembutnya kubur ketiduran.
Tak bisa kulupakan hutan, tak bisa kulupakan
Meski ditikam dalam-dalam, tak bisa kulupakan.

(Tak Bisa Kulupakan: W.S. Rendra)
Puisi W.S. Rendra ini menggambarkan luka saat melihat hutan hancur. Sedemikian mendalam hingga sulit bagi kita melupakan hutan yang telah sedemikian baik menjaga kita sekian lama. Karenanya penting bagi kita melakukan upaya dengan penuh kesungguhan untuk menjaga keindahan dan keanekaragaman hayati hutan Indonesia tercinta.

 Upaya Menjaga Hutan dan Solusi Kebakaran Hutan daan Lahan

Apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga rumah kita, hutan kita, tempat berlindung kita? Yuk #BersamaBergerakBerdaya  bahkan dengan upaya sederhana yang bisa kita mulai dengan memuliakan hutan sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati dan ekosistem di dalamnya. Karena lestarinya hutan berarti lestarinya bumi. Jika tidak berusaha bergerak #UntukmuBumiku, kemana kita akan menghuni jika bumi telah rusak dan tak dapat ditinggali. Hutan hakikatnya telah menjaga kita sekian lama. Hutan adalah suaka paling sempurna bagi kita.

Sebagai upaya menjaga kelestarian hutan, kita tidak menebang pohon sembarangan, dapat menanam pohon serta reboisasi, tidak membuka lahan dengan membakar hutan, tidak melakukan penebangan pohon secara liar namun dengan menerapkan metode tebang pilih atau tebang tanam, dan melaporkan pada pihak berwajib jika mengetahui adanya praktik illegal logging.




Yang juga tidak kalah penting adalah merawat hutan, dengan melindungi dan menjaga habitat yang ada di hutan. Tidak melakukan tindakan merusak hutan yang sering kta anggap sebagai hal yang sepele seperti membuah sampah sembarangan di hutan dan mencoret-coret pohon di hutan

Langkah yang juga penting adalah mengidentifikasi dan mencegah terjadinya kebakaran hutan. Penelitian terkait dengan kebakaran hutan di lahan gambut tadi misalnya merupakan salah satu upaya mitigasi yang kemudian menawarkan rekomendasi dan solusi bagi penanganan lahan gambut agar tidak mudah terbakar. Kebijakan terkait izin dan pengelolaan lahan gambut harus berangkat dari hasil penelitian yang mendalam. 

Beberapa langkah guna menghindari dan meminimalisir potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan antara lain dengan menghindari melakukan pembakaran di area hutan. Penduduk di sekitar hutan sebaiknya tidak membakar rumput atau apapun yang berpotensi membesar. Jika melakukan pembakaran harus ditunggu dan dipastikan hingga api benar-benar padam. 

Upaya lainnya adalah dengan memantau titik api secara rutin. Harus ada pengawasan ketat di titik rawan kebakaran. Patroli di kawasan hutan dilakukan oleh instansi terkait seperti Polisi Hutan. Rutin melakukan patroli dan pengawasan bisa mengurangi kebakaran hutan. Terutama jika dilakukan ketika musim kemarau. Masyarakat pecinta alam dan juga mereka yang sering mendaki gunung bisa ikut andil dalam melakukan pengawasan juga ketika berada di lingkungan hutan.

Yang juga bisa dilakukan adalah dengan mendeteksi kebakaran hutan dan lahan sedini mungkin agar sebelum api membesar dapat dipadamkan. Deteksi dini dapat dilakukan dengan: 
  • Mendirikan menara pengawas dengan jarak pandang jauh yang dilengkapi sarana deteksi seperti teropong dan juga sarana alat komunikasi.
  • Membuat pos jaga di sekitar area tanaman dan juga dikawasan perbatasan dengan penduduk ataupun di dekat lahan usaha.
  • Memanfaatkan dengan baik data satelit terkait cuaca dan juga titik api dikawasan hutan.
 “Yuk #BersamaBergerakBerdaya menjaga hutan!”


Referensi:


  • Dataindonesia.id (2023), Luas Kawasan Hutan Indonesia Mencapai 125,76 Juta Hektare, https://dataindonesia.id/agribisnis-kehutanan/detail/luas-kawasan-hutan-indonesia-mencapai-12576-juta-hektare.
  • Data.goodstats.id (2023), Luas Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia Turun Pada 2022, https://data.goodstats.id/statistic/Fitrinurhdyh/luas-kebakaran-hutan-dan-lahan-indonesia-turun-pada-2022-h5Qrs#:~:text=Sampai%2Dsampai%20kebakaran%20hutan%20dan,sebesar%20204.894%20hektare%20(ha).
  • Dinas Pemadam KebakaranKota Banda Aceh (2020), Cara Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan, https://damkar.bandaacehkota.go.id/2020/07/19/cara-mencegah-kebakaran-hutan-dan-lahan.
  • Dinas LHK Kota Semarang (2020), Manfaat Hutan Bagi Keberlangsungan Hidup Manusia dan Lingkungan, https://dlh.semarangkota.go.id/manfaat-hutan-bagi-keberlangsungan-hidup-manusia-dan-lingkungan/#:~:text=Keberadaan%20hutan%20ternyata%20membawa%20dampak,pabrik%20maupun%20sumber%2Dsumber%20lainnya.
  • Forest Digest (2021), Apa itu Tutupan Hutan, https://www.forestdigest.com/detail/1019/perbedaan-tutupan-hutan-dan-kawasan-hutan.
  • Iftitah Nurul Laily/Katadata.co.id  (2021), Pentingnya Mengenal Manfaat Hutan Bagi Kehidupan, https://katadata.co.id/safrezifitra/berita/6103accd9876b/pentingnya-mengenal-manfaat-hutan-bagi-kehidupan.
  • LindungiHutan.com (2022), Hutan Adalah: Pengertian, Jenis, Ciri-ciri dan Manfaat Hutan,  https://lindungihutan.com/blog/hutan-adalah-jenis-ciri-dan-manfaat-hutan/.
  • LindungiHutan.com (2022), 10+ Penyebab Kebakaran Hutan di Indonesia, https://lindungihutan.com/blog/10-penyebab-kebakaran-hutan-di-indonesia.
  • National Geographic Indonesia (2021), Dampak Perubahan Iklim: Risiko Kebakaran Hutan Meningkat Secara Global, https://nationalgeographic.grid.id/read/133355018/dampak-perubahan-iklim-risiko-kebakaran-hutan-meningkat-secara-global?page=all.
  • National Geographic Indonesia (2022), Kebakaran Deforestasi Indonesia Sumbang 7% Emisi Gas Rumah Kaca Dunia, https://nationalgeographic.grid.id/read/133134323/kebakaran-deforestasi-indonesia-sumbang-7-emisi-gas-rumah-kaca-dunia.
  • YIARI (2023), Kenali 5 Manfaat Hutan bagi Kehidupan, https://www.internationalanimalrescue.or.id/kenali-5-manfaat-hutan-bagi-kehidupan/.

24 comments

  1. Karena hutan mempunyai banyak manfaat bagi kita, maka memang sudah seharusnya kita melestarikannya

    ReplyDelete
  2. Jadi inget serial Korea yg waktu itu ceritanya ttg kebakaran hutan. Ngeriiii. Jalan keluar seolah ga ada, saking luasnya hutan. Itu udah seperti neraka versi mini dunia.

    Sedih sih memang, melihat hutan Indonesia semakin menipis, padahal kita salah2 satu sumber paru2 dunia :(.

    Waktu kebakaran hutan hebat 2015, aku 2 tahun ga traveling mba, Krn saat itu memang dunia penerbangan juga kena imbasnya. Banyak pesawat dibatalkan Krn asap tebal. Apalagi rara2 HUB penerbangan asia di singapur dan Malaysia, yg mana dua negara ini kena efek dr kebakaran hutan kita.

    Jangan sampe kejadian lagi :(. Ga kebayang manusia bakal gimana kalo sampe semua hutan di sini rusak 😭

    ReplyDelete
  3. Aku suka banget kalau lihat aktivitas di hutan, rasanay sejuk & bebas gitu. Tapi sayang banget ya akalu kondisi hutan rusak dan tidak segera diperbaiki padahal hutan sebagai paru-paru dunia, apalagi di Indonesia hutan juga sebagai sumber keanekaragaman hayati & ekosistemnya ya. Dukung penyelamatan hutan untuk masa depan generasi penerus

    ReplyDelete
  4. Kebakaran hutan yang diakibatkan alam atau tidak disengaja ini masih bisa ditolerir ya. Dan yakin dampaknya tidak terlalu berat. Yang menjengkelkan itu kebakaran hutan yang disengaja alias dibuat manusia demi memperlancar bisnis dan usahanya. Mereka tidak memperhitungkan risiko yang sangat buruk bukan hanya untuk alam itu sendiri, tapi manusia dan akan datang

    ReplyDelete
  5. Baru tau ternyata petir juga bisa menjadi penyebab hutan terbakar. Hutam memang punya peran yang sangat banyak untuk bumi kita, semoga makin banyak msyarakat termasuk saya yang sadar akan pentingnya merawat hutan dan menanam pohon.

    ReplyDelete
  6. Karhutla yang tak ppernah padam khususnya di Kalimantan tentu sudah banyak memakan korban. Komersialisasi mengalahkan kesehatan manusia. Efeknya bisa memunculkan penyakit ISPA dan lain2. Menjaga hutan dan segala isinya adalah tanggung jawab kita semua. Mari jaga dan rawat lingkungan mulai dari rumah sendiri dan meluas hingga hutan agar kehidupan kita lebih sehat dan nyaman.

    ReplyDelete
  7. mari cintai bumi dengan merawat hutan :D

    ReplyDelete
  8. Melihat semua fakta nyata ini, gak bs dipungkiri hutan itu sepenting itu buat Kita, buat Indonesia, juga buat dunia. Hutan kita menyangga paru2 bumi kita ya mbak, semoga terus lestari

    ReplyDelete
  9. Sedihnya itu selain berdampak pada bumi.. karhutla ini bikin penyakit. Heu. Belum ekstrem aja bulan agustus ini udah banyak yang kena batuk pilek. Anakku juga. Kami di kalimantan. Kalau berdasar riwayat tahun kemarin kabutnya parah banget. Berdoa semoga tahun ini enggak separah itu dan segera turun hujan

    ReplyDelete
  10. Hutan itu banyak fungsi dan manfaatnya. Sayangnya, sekarang sering beralih dan akhirnya terjadi karhutla. Padahal ini bahaya banget ya. Jadi sebisa mungkin kita bantu mencegahnya demi kehidupan di bumi ini

    ReplyDelete
  11. Sedih banget kalau lihat hutan kebakaran tuh, padahal hutan itu memiliki peran penting dalam menjaga ekosistemn di bumi ya mbak. Selain menyediakan oksigen, menyerap karbon dioksida dan membantu mengatur iklim. Makanya harus dijaga hutan ini agar tetap sehat dan hijau.

    ReplyDelete
  12. Semoga puisi bapak Sapardi jangan hanya menjadi kenangan. Puisi nya membawa kita membayangkan ada di hutan, jadi ikut mendengar gemericik air. Karena aku jaman masih sekolah sampai kuliah ikut menikmati bersihnya air dari bambu yang mengalirkan air gunung alami. Merasakan kesegaran airnya yang bening tak beraroma, jernih, dan bikin candu balik lagi ke hutan atau gunung. Dan kemarin sedih banget mendengar kabar gunung Arjuno mengalami kebakaran. Semoga jangan lagi ada pihak yang sengaja membakar hutan demi membuka lahan, pendaki yang bikin api unggun tapi lupa mematikan atau tidak sabar nungguin apinya beneran mati. Karena banyak banget manfaat hutan bagi penduduk bumi

    ReplyDelete
  13. Hutan itu paru-paru dunia, kalau terjadi kebakaran hutan maka dampaknya membahayakan banyak pihak. Memang menjaga kelestarian hutan itu tugas kita semua. Perlu kerja sama berbagai pihak buat menjaga agar hutan tetap lestari

    ReplyDelete
  14. Hutan Indonesia memiliki fungsi yang hebT dan mencegah bencana alam. Sayangnya saat ini masih ada aja kebakaran hutan yang berakibat fatal salah satunya ISPA yang menyerang manusia.

    Belum lagi akibat matinya binatang di hutan bisa menimbulkan virus lainnya.

    ReplyDelete
  15. Hutan adalah sumber kehidupan y mbak
    Sedih rasanya kalau hutan terus dirusak
    Sudah saatnya kita semua #BersamaBergerakBerdaya menjaga hutan

    ReplyDelete
  16. Meskipun bukan siapa2, bukan org LSM pecinta lingkungan, bukan pemerintah yang bikin regulasi, tapi sebagai bagian dari masyarakat memang sebaiknya ikut memikirkan bagaimana supaya kebakaran hutan gak terjadi lagi ya mbak. Soalnya hutan Indonesia nih udah banyak berkurang, belum lagi setelah ini ada ibukota baru. Minimal peduli sama lingkungan sendiri dan berusaha mendorong pemerintah melalui channel2 yang tersedia utk lebih perhatian pada masalah ini.

    ReplyDelete
  17. Kebakaran hutan tentu yang terkena dampaknya bukan hanya yang di sekitarnya, tapi dampak jangka panjang dan ke keseimbangan iklim dunia.

    Sungguh meresahkan dan semoga dengan cara-cara yang sudah dimiliki saat ini, semakin dipercanggih lagi dengan deteksi dini dan penanggulangan lebih gercep, bisa mencegah terjadinya karhutla.

    ReplyDelete
  18. Sedih banget ya membaca berbagai berita tentang karhutla. Indonesia dengan hutan segitu luasnya malah kurang terjaga, malah dibakar hiks... Yuk kita ikut meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian hutan demi anak cucu di masa depan. Mereka juga berhak menikmati bumi dengan segala kekayaan alamnya.

    ReplyDelete
  19. Hutan Indonesia, tak cuma indah, namun memiliki manfaat yang besar buat kehidupan manusia kini dan juga dimasa depan. Sudah selayaknya kita semua turut berperan menjaga kelestariannya ya mbak

    ReplyDelete
  20. Kalo lihat berita tentang kebakaran hutan itu selalu bikin sedih. Apalagi aku pernah ngerasain kebakaran hutan yg lumayan parah di Siak Riau, pandangan jarak 2 meter udah nggak kelihatan sangking tebelnya :(

    ReplyDelete
  21. Hutan adalah rumah bagi manusia, hewan dan tumbuhan ya kak. Tanpa hutan kita bakal kehilangan banyak hal termasuk kebutuhan penting seperti air dan hasil hutan. Makanya harus dilestarikan

    ReplyDelete
  22. Kalimantan ini ya, sedih banget melihatnya karena selalu menjadi headline pemberitaan terjadinya karhutla belum lagi dampak yang dirasakan bagi warga sekitar terutama masalah pernapasan ini, semoga kita semua terus diberikan edukasi tentang pentingnya merawat hutan

    ReplyDelete
  23. karena itu keindahannya harus selalu kita jaga dan lestarikan yaa mba. Kita sendiri yang rugi kalau samai hutan kita tidak dijaga dengan baik

    ReplyDelete
  24. Selama ini aku mikir kenapa ya bisa terjadi kebakaran hutan. Tapi dari artikel Mbak Ophie ini aku jadi tercerahkan bahwa letusan gunung berapi bisa menyebabkan kebakaran hutan akibat lava panas yang bisa membakar hutan

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.