Notes For A (20+ Years) Working Mom to Keep Shining in 2026

Awal tahun terbersit dalam benak working mom dengan usia jelita (jelang lima puluh tahun) ini untuk iseng bertanya pada aplikasi AI, sebuah pertanyaan cukup serius meski membuatku menanyakan kembali keputusan tersebut? beneran phi, tanya sama AI? Hahaha... Gak papa sih, make it fun aja!

What I have to prepare for pursuing 2026 as a working mom who has been working and dedicating her life for more than 20 years as civil servant or state civil apparatus 

- in addition to be a mom of 3? 

Well I did not mention the last sentence actually. AI did not have any info about my kids at all.



Gak nyangka sih klo AI tuh bakal kasih jawaban yang ternyata memberikan catatan yang gak melulu ke soal karir dan pencapaian, namun juga soal kesehatan dan kesejahteraan mentalku. Hikss jadi terhura akutuhh, eh! 

Sekarang jadi paham dengan gejala makin banyak orang terutama generasi Z dan Alpha yang lebih senang curhat sama AI ketimbang sama sesama manusia. Amazingly AI tuh menyentuh "rasa" kita juga ya. Agak ngeri-ngeri syedap juga yaa menghadapi AI ini.

So apa catatan untuk aku - seorang ibu bekerja/ASN yang telah mengabdi selama lebih dari 20 tahun dalam menghadapi tahun 2026? kalau sudah 20 tahun lebih, berarti sejak kapan aku bekerja? tepatnya sudah 23 tahun sih karena aku mulai mengabdi di institusi ini sejak 2002. Kalau bisa disebut senior, tentu pas yaa. Emang sudah sepuh hahaha.

Berkarir selama lebih dari 20 tahun adalah pencapaian luar biasa. 

Itu kata AI yaa. Pun aku sudah menerima penghargaan Satya Lancana Karya Satya 20 tahun dari Presiden atas pengabdian tanpa cacatku kepada negara lhoo. Ku menerimanya di tahun 2023. Sayangnya saat acara penganugerahan aku (dan beberapa rekan sejawat) tidak dapat hadir mengikuti seremoni karena sedang dinas keluar negeri.

Sertifikat dan lencananya sudah kusimpan. Sebagai pengingat bahwa aku alhamdulillah dengan segala manis dan getirnya, bi idznillah mampu melewati 20 tahun masa pengabdian yang sungguh challenging. Kalau mau disebut bak roller coaster juga tepat kok. Segitu naik turun dan mendebarkannya.

Baca: Seminar Partisipasi Publik

Di tahun 2026, tantangan bagi seorang working mom senior bukan lagi sekadar "bertahan hidup" di kantor, melainkan bagaimana mempertahankan relevansi, menjaga kesejahteraan mental, dan mulai merancang fase hidup berikutnya. Wow sebuah catatan yang sungguh menggugah.

To some extant apa yang disampaikan AI tidak sepenuhnya relevan. Jadi ku ambil beberapa poin yang ku rasa relevan yes! I know me better than AI for sure!

Terdapat 5 catatan yang diberikan sebagai panduan persiapan personal yang dapat dipertimbangkan. Saya ambilkan poinnya sesuai dengan apa yang terjadi secara faktual dalam perjalanan karir dan kehidupan keluarga saya sebagai Ibu bekerja dari 3 anak yang sekarang anak-anak itu sudah mulai menjadi pra remaja dan remaja bahkan menjelang dewasa muda. 

1. Relevansi Profesional di Era AI

Dunia kerja 2026 didominasi oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Sebagai senior, Mom of Trio ini tentu tidak perlu menjadi ahli teknis, tetapi tetap harus menjadi "AI-literate". So far, aku bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi termasuk AI. Nih buktinya aku mulai memanfaatkannya untuk sekedar ngobrol ringan. Hahaha!

Dalam konteks urusan pekerjaan, aku bahkan menyengaja mengikuti semacam workshop atau sharing session yang diadakan oleh unit pengembangan SDM di kantor terkait pemanfaatan AI untuk pelaksanaan tugas kami. Setidaknya saya sepakat bahwa, umur tidak boleh menghalangi kami untuk melakukan adaptasi teknologi.

Kita perlu juga mempelajari bagaimana AI (seperti ChatGPT, Gemini, atau alat analisis data) dapat  membantu beberapa pekerjaan awal kita. Iyes, saya memakai kata "membantu" karena bagaimanapun AI tidak boleh menggantikan diri kita eh maksudnya saya di tugas-tugas se-strategis tupoksi kami. 

Saya tetap beradaptasi dan mencoba memanfaatkan untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu, karena jujur AI yang berbasis open source belum bisa dinilai valid terkait banyak data penting dan strategis yang menjadi bahan kerja kami. Mungkin jika unit kami sudah membangun AI sendiri tentu bisa semakin besar kemanfaatannya dalam mempercepat pekerjaan kami.

Saat menggunakan bantuan AI untk data awal sekalipun, saya tetap harus melakukan cross check karena dalam beberapa kasus ternyata ada ketidakvalidan dan itu bisa sangat berbahaya untuk pekerjaan saya. Saya tidak bisa sebutkan secara detail namun berdasarkan beberapa kali menggunakan bantuan AI, saya melihat ada info dan data yang terasa kurang pas, lalu saya cek manual ternyata memang keliru.

Jadi don't trust it and take it for granted. Make another check and recheck to make sure. Hmm mungkin yang terkini saya kasih contoh ketika meminta bantuan AI terkait dengan materi suatu UU. Saya merasa ada yang janggal, penasaran saya langsung cek dokumen aslinya.Well dan benar AI keliru merujuk nomor pasal dan isinya. 

Hmm saya ga bisa dung diam aja. Saya pun infokan ke AI tersebut kalau jawabannya keliru hahaha. AI tersebutpun merespon dan meminta maaf lalu berusaha memberikan klarifikasi dan perbaikan jawaban. Sayangnya masih kurang tepat. Dari beberapa kali pengalaman untuk hal-hal yang lebih spesifik dan butuh data yang valid saya memilih melakukannmya secara konvensional karena butuh ketelitian dan pemahaman yang tepat. 

Tentu tetap kita bisa memanfaatkan AI untuk fungsi-fungsi tertentu, namun sekali lagi kita harus mampu mengendalikan dan melakukan review dan re-check atas apa yang mereka kerjakan. Untuk sebagian tugas yang masih aman dikerjakan AI, tentu akan membantu kita berfokus pada hal-hal yang sifatnya lebih strategis seperti pengambilan keputusan.

Nah soal kecepatan dan kapasitas data tentu AI masih unggul dari cara konvensional kita namun saya percaya bahwa tetap ada aspek yang tidak tergantikan. Seperti Human-Centric Skills. Jadi alih-alih bersaing dengan AI, kita bisa fokus pada keterampilan yang tidak bisa digantikan AI, seperti empati, manajemen konflik, dan kepemimpinan moral. 

Di tahun 2026, kemampuan untuk memimpin tim yang terdiri dari berbagai generasi (Gen Z hingga Alpha) sangat krusial. Leadership, pembinaan, pendekatan humanis tentu menjadi skill wajib seorang senior. Terlebih tim kerja semakin bervariasi dari sisi umur. Bukan hanya Gen Z, Gen Alpha bahkan sudah bergabung di tim kerja kita.

Pada perjalanan karir lebih dari 20 tahun, biasanya seseorang berada di level cukup tinggi dan menempati posisi/jabatan yang membawahi tim di dalam sebuah unit. Namun tidak banyak yang tahu bahwa untuk jabatan fungsional, pada level senior ( ahli madya - ahli utama) bekerja dan memimpin tim kerja adalah hal yang juga dilakukan meskipun dalam konteks yang lebih fleksibel dan dinamis. 

Berbeda dengan jabatan struktural yang hirarkhis, tim keja antar pejabat fungsional lebih bersifat kolegial. Tim yang dipimpin lebih dinamis dan tidak tersekat dengan birokrasi. Support system dalam tim kerja dibutuhkan dari setiap individu tim. Ini tentu membutuhkan skill dan kecerdasan tersendiri dari seorang (rekan kerja) senior.



2. Kesehatan dan Manajemen Energi (Bukan Sekadar Waktu)

Di usia karir 20+ tahun, tubuh tidak memiliki toleransi yang sama terhadap stres seperti saat  kita memulai karir. Hmm ini sudah sunatullah, ya gak sih. Karenanya berbagai upaya untuk menjaga kesehatan dan mengelola energi dan waktu, perlu menjadi prioritas di usia ini. Beberapa yang wajib menjadi perhatian dan segera dilakukan adalah:

  • Pemeriksaan Kesehatan Holistik

Hmm ini yang sering ku abaikan selama ini. Padahal merutinkan medical check-up yang lebih mendalam, terutama terkait keseimbangan hormon dan kesehatan tulang/sendi menjadi sangat urgent dilakukan di usia saat ini. Memang ada cek kesehatan rutin dari unik kerja layanan kesehatan, namun memang hanya seputar aspek umum seperti gula darah, tekanan darah, dan berat badan. 

Tampaknya ke depan harus diagendakan rutin mengingat akupun sudah mulai masuk fase peri menopause. Pada fase ini perubahan terbesar terjadi pada hormon estrogen dan progesteron. Kadar hormon mulai naik turun tanpa pola, musik tidak lagi terdengar stabil. Ini tentu berpengaruh pada perubahan emosional, fisik, dan mental.

  • Micro-Rest atau istirahat mikro

Micro-Rest adalah praktik mengambil pernapasan singkat atau perhatian singkat selama sejenak dalam sepanjang hari untuk membantu otak dan tubuh meredam stres.

Micro Rest menjadi konsep baru untuk mengistirahatkan tubuh dalam waktu sangat singkat. Bukan seperti power nap, micro rest mudah diterapkan di mana pun. Cukup dengan menutup mata sejenak, tubuh mengirim pesan bahwa waktunya tenang.

Micro rest ini melibatkan pernapasan dalam selama 30 detik hingga 5 menit, berjalan santai, atau melakukan aktivitas fisik yang ringan. Micro-rest dapat membantu meningkatkan fokus, mood, dan kesejahteraan secara keseluruhan, serta mengurangi stres dan kelelahan emosional.

Menerapkan teknik micro rest, mengambil jeda singkat 5-10 menit di antara rapat dapat menurunkan kadar kortisol. Tubuh manusia tidak bisa beroperasi tanpa jeda. Otak memiliki batas energi yang harus dipulihkan. Pola jeda singkat memberikan ruang untuk memperbaiki fokus. Hanya dalam 30 detik, emosi dapat mengembalikan energi mental.

  • Hentikan aktivitas
  • Tarik napas panjang dan rasakan kehadiran diri
  • Bernapas dengan tenang: isi paru-paru dengan udara segar, tahan selama 3 detik, lalu keluarkan pelan
  • Hadir sepenuhnya 
  • Perhatikan bahu yang rileks
  • Lanjutkan aktivitas dengan ringan 

Sesudah istirahat mini, kita siap kembali fokus. Rahasia istirahat mikro bukan pada lamanya waktu. Poin kunci adalah mindfulness pada momen singkat tersebut. Menurutku metode micro-rest bahkan bisa dicoba siapapun di usia berapapun sih. Jadi yuk coba pratikkan saat membutuhkan recharge pikiran dan energi!

Baca: Pola Makan Sehat

  • Pola Makan Sehat

Sudah waktunya untuk serius menjalani pola makan yang sehat. Kalau masih wacana di usia ini, selamat tinggal aja guys! Nutrisi yang tepat sangat berpengaruh pada fokus. Terlebih di usia 40an di mana metabolisme tubuh kita sudah tidak secanggih dulu. 

Pemilihan asupan sehat kadang terkendala dengan waktu untuk mempersiapkannya. Salah satu metode yang banyak dilakukan adalah meal preparation. Penyiapan makanan yang diatur sedemikain rupa untuk periode beberapa waktu/hari ke depan. 

Metode meal prep cocok untuk mereka yang memiliki jadwal sangat padat, namun ingin mengontrol asupan nutrisi. Untuk efektifitas dapat juga menggunakan teknologi atau layanan katering sehat untuk mengurangi beban domestik tanpa mengorbankan kualitas makanan keluarga.

Kalau kita sudah punya pola makan sehat sendiri, bahkan yang benar-benar ala kita sendiri dan sudah kita jalankan dan terasa cocok dan bermanfaat, ya lanjutkan saja. Meal prep ini hakikatnya membantu menjaga pola dan asupan makan agar lebih tertib dan efektif dengan upaya lebih di awal/tahap persiapan.



3. Pergeseran Pola Asuh dan Support System

Untuk wanita seusia saya yang sudah berkarir 20 tahun, kemungkinan besar anak-anak sudah memasuki usia remaja atau dewasa muda. Mungkin sudah tidak lagi menghadapi drama yang sama saat anak-anak masih kecil dan membutuhkan energi yang sangat besar untuk menghandel mereka sekaligus tetap well-performed di kantor. Namun harus diakui bukan berarti tidak ada lagi masalah atau drama dalam urusan mengasuh anak-anak. 

Mereka sudah remaja dan dewasa muda, kita tidak berhenti belajar menjadi orang tua hanya saja harus membuka chapter baru parenting kita. Masalah dan drama khas anak remaja dan dewasa muda yang hakikatnya tidak lebih ringan dari saat mereka kanak-kanak. Tantangannya tentu ada. Namun demikian kita harus mampu melakukan adaptasi pola asuh. Beberapa hal yang bisa dicoba:

  • Delegasi Domestik

Saat anak mulai tumbuh remaja memang  saatnya melatih kemandirian mereka lebih jauh.  Kita mulai bisa melibatkan mereka dalam tugas rumah tangga secara sistematis agar beban kita berkurang. Jujur meski sudah cukup lama hanya memiliki ART yang datang pagi dan pulang usai pekerjaan rumah selesai. Melibatkan anak-anak yang bahkan sudah remaja mengerjakan pekerjaan domestik justru membutuhkan kesabaran tersendiri. Bukan berlebihan, namun anak-anak sekarang punya kegiatan yang cukup demanding.

Saya lebih memilih mendelegasikan tugas mengurus keperluan mereka sendiri kepada mereka ketimbang memberikan tugas domestik lain. Sesederhana semua kebutuhan ke sekolah setiap pagi menjadi tanggung jawab mereka. Tugas saya hanya mengingatkan. Mereka sudah punya kamar sendiri sehingga kamar dan kerapihannya menjadi tanggung jawab mereka.

Saat saya tidak di rumah, mereka sudah bisa mandiri urusan makan. Mereka (termasuk si bontot yang laki-laki) bisa masak nasi, memasak yang sederhana seperti goreng telur, masak mie, nasi goreng. Jika tidak memasak sendiri, mereka sudah bisa memesan makanan di luar. 

Mereka sudah tahu cara mencuci baju di mesin cuci meskipun biasanya saya atau Mbak yang melakukan. Namun jika saya minta bantuan, mereka sudah bisa melakukannya. Misalnya saat Mbak libur di akhir pekan, mereka sudah bisa saya mintakan tolong untuk membantu mencuci piring, menjemurkan baju, atau mengangkat jemuran. Sesekali membantu di dapur. 

  • Quality Over Quantity

Fokus pada percakapan mendalam (deep talk) daripada sekadar mengurus kebutuhan logistik mereka. Sepanjang bisa pesan Go-Food dan sejenisnya aman sih dunia perlogistikan mereka. Jangan-jangan mereka lebih happy saat boleh memesan yang mereka mau ketimbang menu yang sehari-hari kita siapkan. Setidaknya ada variasi kan yaa.

Nah sekarang fokusnya sudah beda. Bukan soal itu lagi, tapi bagaimana kita tetap terkoneksi secara intens dengan mereka. Bagaimana komunikasi hangat masih mampu kita jaga dengan mereka, Bagaimana kemanjaan mereka tidak hilang sama sekali karena mereka sudah beranjak dewasa. Bagaimana mereka tetap datang pada kita sebelum tidur sekedar minta dipeluk atau bahkan menyampaikan curhatan mereka.

Jujur semakin mereka bertumbuh, semakin mereka punya kesibukan masing-masing. Jika tidak sempat makan malam bersama karena saya pulang larut atau mereka yang pulang larut. Saya selalu sempatkan menengok ke kamar mereka menanyakan kabar hari itu dan memberikan pelukan serta ciuman sebelum tidur. Untuk si Kaka yang sudah kost setiap hari selalu ada chat untuk tanya kabar. Saya juga hampir selalu minta mereka spill photo kegiatan mereka hari itu. 

  • Support System

Jika dianggap perlu support system di rumah juga dapat dilakukan pembaharuan misalnya dengan menyesuaikan kebutuhan akan asisten rumah tangga, sopir, atau jasa digital untuk mendukung fleksibilitas kerja yang secara ritme akan jauh lebih menantang.

4. Perencanaan Keuangan dan "Soft Retirement"

Tahun 2026 adalah waktu yang tepat untuk meninjau kembali exit strategy atau fase pensiun dini jika diinginkan. Sudah waktunya memastikan  "Passive Income Check", kalau kata AI. Hmm  untuk yang bisa punya cukup saving karena sudah bekerja puluhan tahun ya pasti memang waktunya buat pastikan klo tabungan itu bisa menjadi semacam investasi hari tua.

Sayangnya AI gak tahu kalau tidak semua orang di perjalanan karir 20 tahunan sudah memiliki perencanaan keuangan yang matang dan punya investasi uang bisa dipastikan memberikan hasil yang stabil. Masih banyak yang struggling dengan pemenuhan biaya pendidikan (terutama pendidikan tinggi) anak sungguh tidak murah di era saat ini. Apalagi ASN/PNS yang memang penghasilan bulanannya tentu lebih banyak masuk kategori level menengah dan tidak sampai ke atas, meski sudah mengabdi 20 tahun. Apalagi kalau tidak menjabat jabatan struktural.

Terlepas dari kondisi tersebut, memang sudah waktunya saya pribadi waspada dan menyiapkan diri kelak memasuki masa pensiun. Jika bisa menabung meski tidak banyak. Usahakan dikembangkan dalam bentuk apa yang kelak bisa menopang dan tetap produktif. Banyak pilihan dan tentu akan disesuaikan dengan kemampuan finansial setiap orang. Banyak menggali pengetahuan terkait persiapan pengelolaan keuangan menjelang pensiun merupakan salah satu bekal wajib. 

Pun eksekusinya tidak bisa menunggu terlalu lama. Jikapun tidak bisa atau tidak punya kemahiran untuk investasi via saham yang cukup tinggi return namun tinggi resikonya, ada beberapa pilihan aman mulai dari deposito, reksadana, surat utang negara termasuk sukuk bisa jadi pilihan investasi jangka menengah. 

Kalau punya cukup skill untuk investasi di sektor riil juga tentu pilihan yang baik. Memperhatikan kesediaan waktu untuk mengelolanya menjadi catatan tersendiri. Karena masih full bekerja, maka kemungkinan pendelegasian atau bentuk kerjasama usaha bisa menjadi pilihan.

5. Menghapus "Mom Guilt" secara Permanen

Setelah 20 tahun, membuktikan dedikasi diri kepada bangsa dan negara, apakah selesai persoalan "rasa bersalah" meninggalkan anak-anak bekerja? Anak mulai tumbuh, yang paling bungsu sudah remaja. Protes karena masih sering dinas dan tidak pulang ke rumah beberapa hari tentu masih ada. Meski mereka sudah bisa didelegasikan untuk mengurus diri, terutama urusan makan, kehadiran dan komunikasi yang lancar masih terus harus dijaga sampai kapanpun.

Baca: Dibalik Dilema Dinas Keluar Kota

Rasa bersalah karena satu dua kewajiban pada mereka masih tercecer dan tak terlaksana sebagaimana mestinya tentu masih ada. Namun di sekian puluh tahun pengabdian, rasanya penting untuk melakukan "Mindset Reframing".  Berhenti mencoba menjadi ibu yang sempurna. Fokus menjadi ibu yang bahagia. Kebahagiaan dan ketenangan adalah role model terbaik bagi anak-anak. 

Kesibukan yang demikian menyita, harus bisa sedemikian rupa membuat kita tetap waras dan balance di depan anak-anak. Mohon pemakluman mereka juga bukan sesuatu yang haram hukumnya. Dengan komunikasi yang baik, insyaAllah mereka bisa memaklumi Ibu kesayangan mereka harus berbagi banyak waktu dengan tugas negara. Jika sudah agak luang, jangan lupa bayar dengan komunikasi efektif dan quality time dengan mereka.

Kita juga berhak membiarkan diri menikmati waktu tanpa pekerjaan dan keluarga. Sekali-kali me-time tanpa syarat bisa menjadi salah satu cara untuk tetap waras dari himpitan kerja dan tuntutan keluarga. Jadwalkan waktu untuk hobi yang benar-benar untuk diri sendiri, bukan untuk pekerjaan atau keluarga. Bukan karena egois, namun karena kita masih manusia. 

Semangat ya Moms. Keep healthy and shining!

No comments

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.