Friday, October 2, 2015

[Tana Toraja Trip] Kete' Kesu

travelling, tana toraja trip, indonesia

Selesai menyaksikan bukti nyata eksotisme upacara adat kematian di Kalimbuang Bori. '(Jangan lupa baca postingannya ya *modus). One Day - Tana Toraja Trip kami berlanjut ke tujuan berikutnya, Kete' Kesu. Sebetulnya destinasi ini merupakan destinasi terfavorit di Tana Toraja. Selain dapat menyaksikan salah satu bukti upacara kematian yang unik, juga ada rumah tradisional Tana Toraja yang super keren. Namun untuk memudahkan kami  Pak Petrus mengatur rundown trip kami dengan terlebih dahulu ke Kalimbuang Bori. Mengingat Kete'Kesu dan Londa, - our next destination- letaknya berdekatan.


Sayangnya kami harus terjebak kemacetan di tengah jalan. Ada masyarakat yang tengah mengadakan pesta dan banyak kendaran para tamu yang diparkir sembarangan di jalan. Jalan yang sempit yang dibatasi pesawahan membuat kami harus benar-benar sabar menunggu macet terurai.. Tidak ada jalan lain.

Akhirnya tengah hari sampailah kami ke Kete' Kesu. Desa adat dengan kompleks rumah adat tradisional Toraja (Tongkonan) ini sebetulnya hanya berjarak sekitar  5 kilometer dari pusat Kota Rantepao atau 14 kilometer dari sebelah utara Kota Makale. Kawasan Kete' Kesu tepatnya berada di Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Namun karena kami dari Kalimbuang Bori, rasanya agak berputar-putar.

tana toraja, travelling, indonesia

Setelah parkir dan membayar tiket masuk, kita akan disambut deretan toko souvenir. Sebuah "gerbang"dari rerimbunan pohon bambu menandai kita akan memasuki wilayah desa. Jalan setapak sepanjang sekitar 100 meter dengan sawah yang membentang di satu sisi. Kita kemudian akan disambut pemandangan khas yang sangat menawan. Pemandangan yang hanya saya temui di situs-situs wisata Internasional . Berderet dengan rapi Tongkonan atau rumah adat Toraja yang tampak sangat anggun. 6 rumah adat khas Tana Toraja (Tongkonan) yang berbaris rapi berhadapan dengan 12 lumbung padi (alang). 

Kabarnya rumah-rumah ini telah berusia sekitar atau lebih dari 400 tahun. Kondisinya tetap sama seperti 400 tahun yang lalu. Kecuali tumbuhnya lumut serta tumbuhan di atap-atap tongkonan. Tongkonan yang aseli peninggalan masa lalu hanya bisa disaksikan di sini. Uniknya ke 6 Tongkonan itu masih berfungsi sebagai tempat tinggal.

kete kesu, tana toraja, indonesia, travelling

Bentuk Tongkonan sangat khas sehingga mudah dikenali. Rumah tradisional yang memiliki atap yang besar dan tinggi menjulang, berbentuk seperti tanduk kerbau atau perahu. Atapnya terbuat dari bambu belah yang disusun bertumpuk mirip lego. Pintu Tongkonan ini dapat dibuka ke atas. Ukiran khas Toraja menghiasi dinding Tongkonan.  Tanduk-tanduk kerbau disusun di tiang bagian depan Tongkonan. Susunan tanduk kerbau menjadi penanda status sosial pemilik rumah. Semakin tinggi susunan tanduk, makin tinggi status sosialnya. Di bagian samping Tongkonan kita juga bisa melihat deretan tulang gigi kerbau dibariskan rapih. Beberapa saya lihat masih basah. Mungkin sang kerbau belum lama dikurbankan dalam pesta kematian.

tana toraja trip, travelling, indonesia

Tidak hanya rumah adat tradisional. Di wilayah desa adat ini kita juga bisa melihat komplek pemakaman kuna. Sekitar 500 meter di belakang komplek perumahan terdapat kawasan pekuburan kuno. Kanan kiri jalan setapak dipenuhi toko-toko souvenir. Kemudian kita akan memasuki kawasan pekuburan saat tampak beberapa bangunan/rumah megah mirip Tongkonan yang dilengkapi dengan patung sosok jenazah (tau-tau) dan photo-photo. bangunan ini adalah kuburan. Patung serta photo merupakan sosok jasad yang dikuburkan di sana. Kabarnya ini kuburan para bangsawan.

kete kesu, tana toraja, travelling, indonesia

Kemudian kita akan mendapati dinding datri tebing sebuah bukit yang serasa kuat aura mistisnya. Selain karena suasananya, dinding-dinding berlubang di tebing yang menanjak itu adalah tempat disemayamkannya mayat-mayat. Tampak peti mayat (erong) baik yang berbentuk tongkonan maupun mirip perahu, baik yang sudah sangat lama dan lapuk maupun yang tampak masih baru. Sebagian digantungkan di tebing, banyak pula yang dimasukkan ke dalam lubang tebing. Jika lebih dari tiga erong berkumpul dipastikan mereka adalah keluarga. Jadi makam keluarga.

death tourism, indonesia, tourism


Tumpukan tulang belulang manusia dan tengkorak merupakan pemandangan yang sangat khas. Tidak sedikit selain peti mayat dan tengkorak, ada juga tau-tau yang dimasukan ke dalam lubang tebing. Hanya para bangsawan yang bisa membuat tau-tau karena biayanya mahal. Beberapa dinding yang dilubangi bahkan diberi pagar agar aman dari pencurian. Bagaimanapun ini adalah kawasan wisata adat yang dilindungi, cagar budaya yang tak ternilai harganya. Kadang tak luput dari tindakan kriminal. Meskipun aura mistis  terasa di sana, kadang kriminal tak pandang bulu. *miris


Jika penasaran dan ingin masuk lubang atau gua. Ada yang bisa dimasuki di bagian atas. Saya memutuskan tidak naik karena meskipun diberi tangga berundak namun cukup curam. Hmm jam makan siang, kurang tenaga untuk sampai ke atas. *alesan, padahal gak-agak ngeri syedap gitu hihihi


Kembali dari tebing kuburan, kami beruntung bisa menyaksikan (meski tidak sampai selesai) akan adanya upacara kematian. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara orang meraung-raung. Kami melihat rombongan berbaju hitam mengangkat keranda berbentuk mirip tongkonan. Semua meraung-raung, menangisi jenazah. Oh rupanya baru saja ada yang meninggal. Jenazah dibawa ke kawasan Kete' Kesu.


Samapi depan pelataran tongkongan dan alang, peti mati diturunkan. Keluarga yang juga berbaju hitam mengerumuni keranda mayat. Mereka menangis meraung-raung. Pengunjung, termasuk saya langsung mengerumuni dan mengabadikan peristiwa yang tak selalu bisa ditemui pengunjung. Hmm kami beruntung bisa menyaksikannya. Rekan saya yang orang batak menyatakan prosesinya mirip dengan adat mereka saat ada kematian. Bahkan raungan dan tangisan jauh lebih dahsyat. Woow... Sayangnya, lama kelamaan, hati saya merasa ngilu mendengar tangisan kerabat jenazah. Sedih juga rasanya melihat mereka menangisi keluarga seperti itu. Duuh ah...yuuk kita lanjut aja ke destinasi berikutnya. Jangan lewatkan ya death tourism trip saya berikutnya. 

32 comments:

  1. udah lama banget ya rumahnya sudah berusia sekitar atau lebih dari 400 tahun

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya demikian infonya mak..itu keren banget masih kuat dan masih bisa ditempati... memang sudah terlihat kalu dr dekat kayunya sdh beda dg yg alang di depannya

      Delete
  2. duh tengkoraknyaaa... bikin merinding mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. lumayan mbak...tp klo ga pot kayaknya gak afdol. niatin aja yang baik2 hehehe

      Delete
  3. Biasanya tengkorak dari pekuburan itu konon nilai jualnya mahal :( trip yang menyenangkan maak. Dan keren kali rumahnya udah berusia 400 tahun

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh pantesan...pun klo yg bangsawan suka bawa barang berharga ke kuburannya inih. makanya rawan pemcurian. mirip kepercayaan thionghoa

      Delete
  4. waktu ke makassar tahun lalu kepingin mampir Toraja juga, tapi apa daya waktu mepet dan ditakut2in sama temen, jadinya cuma sempet beli gantungan kuncinya aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang waktunya harus cukup luas mak. ini juga gak mepet dan agak maksa. makanya cuma seharian. capek sih tp berkesan banget

      Delete
  5. Waah senengnya Mbak Ophie jalan-jalan terusss...

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah..ini sebulanan lalu mak nung

      Delete
  6. udh lama pgn bgtttt ksana mba..aku penasaran ama rumah tempat penyimpan mayat ini.. kok bisa ga bau itu gmn ya??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu..heran juga. kata guidenya mrk dipakein ramuan semacam balsam utk mummy itu juga katanya

      Delete
  7. Waduh, meski ngeri tetap aja berani narsis di depan kuburan ya mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya mak..klo ga gitu, nanti dikira hoax hehe.liat dong ekspresi mukanya kaku gitu...ngeri2 sedep jugak

      Delete
  8. Pengen banget deh Mbak kesini, tapi sejauh ini baru sampai Makassar ama Palu kalau di Sulawesi. Keren fotonya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku malah belum pernah ke Palu tuh....

      Delete
  9. Pengen banget deh Mbak kesini, tapi sejauh ini baru sampai Makassar ama Palu kalau di Sulawesi. Keren fotonya!

    ReplyDelete
  10. Replies
    1. iyaa...hihi, agak2 dag dig dug gt sih

      Delete
  11. Aku juga ngeri-ngeri sedap bacanya, Phi. *_* Wawasan baru ini. Ditunggu postingan berikutnya, ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha siap cikgu, insyaAllah segera postingan berikutnya lebih ngeri hahaha, secara akhirnya saya masuk juga tuh ke gua berisi keranda2 mayat dan tengkorak berserakan

      Delete
  12. aku paling suka lihat rumah adat toraja, sepertinya antik gitu. kapan ya aku bisa berkunjung ke sana????

    ReplyDelete
    Replies
    1. keren dan antik mamah tira, smoga bisa ke sana segera yaa

      Delete
  13. tanah toraja cakep ya, mak. aku punya gantungan kunci dikasih temen, hehe. jadi pengin ke sana. :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangeet selain wisata kuburannya...tanah dan alamnnya keren kok. Pegunungan, sawaj dan pepohonan...udaranya relatif sejuk

      Delete
  14. Setiap kali membaca artikel tentang tempat - tempat wisata yang ada di Tana Toraja,,, bawaannya terus mupeng dan segera angkat ransel. Hmmmm suatu saat tak kesitu dah,,,

    ReplyDelete
  15. Hai mba salam knal,

    Baca postingannya jadi pengen ke Toraja. Nabung dulu ah...

    Salam,

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.