Monday, October 12, 2015

[Tana Toraja Trip] Londa


Perjalanan One Day Tana Toraja Trip segera berlanjut ke obyek "death tourism" yang ketiga. Rupanya karena waktu jua, ini merupakan destinasi terkahir kami. Meskipun masih ada beberapa objek wisata sejenis, namun Londa akhirnya menjadi ujung perjalanan wisata kematian kami di Tana Toraja.   Jangan lupa baca juga cerita saya di Kalimbuang Bori dan Kete' Kesu *uhuk, moduss. Meskipun masih bertema death tourism site, namun masing-masing tempat memiliki kekhasan tersendiri.  Termasuk Londa. Kekhasan dan keunikan "death tourism"  inilah yang membawa Toraja Goes To The World Cultural Heritage


Londa, sebuah kawasan wisata budaya, dimana sebuah bukit batu menjadi kuburan desa. Londa terletak di Desa Sendan Uai, Kecamatan Sanggalangi yang berjarak sekitar 7 km sebelah selatan Kota Rantepao, ibu kota Kabupaten Tana Toraja Sulawesi Selatan. Ada yang menyebut Londa sebagai makam Goa Purba.

Untuk mencapai Londa, jalanan yang harus dilalui agak menantang. Kita harus mengelilingi semacam bukit dengan tebing di satu sisi dan pepohonan hutan di sisi lainnya. Pun saat kami ke sana, tengah ada pembangunan jalan. Hmm artinya nanti bakal lebih nyaman untuk sampai ke sini. Sebuah gerbang yang terlihat agak "tua dan spooky" menyambut kami. Dua buah tongkongan kecil yang anggun berdiri di atas gerbang. Selepas membayar tiket masuk, kita harus berjalan menuju gua kuburan dimaksud. Terlebih dahulu melewati undakan tangga yang diberi gapura Tongokonan. Sesampai di undak terakhir kita baru bisa menyaksikan tebing bukit batu yang menjadi kuburan dimaksud.


Akan ada beberapa orang "guide" yang menawarkan diri sambil membawa petromak. Jika ingin memasuki gua batu, sebaiknya menyewa mereka. Andaikan kita membawa lampu senter sekalipun, rasanya tidak lucu jika harus tersesat di antara peti-peti berisi mayat dan tengkorak serta tulang belulang manusia yang berserakan di dalam gua. Ada dua pintu gua, yang satu agak lebih dalam yang lainnya, lebih pendek.

Sebelum sampai di pintu gua, kita akan melihat banyak peti mayat yang disimpan di dinding tebing batu, beberapa digantungkan di atas tebing, yang lainnya bahkan sekedar diletakkan begitu saja. Tidak semuanya merupakan peti atau mayat lama, ada beberapa yang baru. Kabarnya bahkan ada yang baru dikuburkan di sini di tahun 2010.

Selain peti-peti mati, ada banyak poto para jenazah dan tentu saja Tau-tau. Tau-tau dipajang berjejer dalam sebuah tempat layaknya ''etalase". Seperti sudah pernah saya ceritakan dalam postingan sebelumnya, Tau-tau merupakan patung yang dibuat sangat mirip dengan jenazah yang dikuburkan. Membuat Tau-tau tidaklah murah terlebih acara untuk memajangnya. Sehingga umumnya hanya mereka yang "berada"-lah yang bisa membuat Tau-tau.


"Ayo masuk..." begitu kata guide yang membawa petromak. Meski bukan pertama kali wisata gua, tapi gua yang berisi mayat baik dalam peti maupun yang berserakan baru kali ini. Di Kete Kesu saya memilih tak masuk gua makam di sana. Rasa penasaran membuat saya memberanikan diri. Kali ini hampir semua dari kami ikut masuk. Lubang gua yang tak beraturan dengan tinggi yang bervariasi membuat kita harus ekstra hati-hati.


Saya lumayan dag dig dug, plus sedikit tegang hehehe. Merinding juga nih. Jalan dalam gua berkelok-kelok tak beraturan begitu juga dengan tingginya. Sayapun wanti-wanti pada diri sendiri untuk berhati-hati. Jangan sampai menyentuh benda-benda tertentu atau menginjak tulang belulang dan sejenisnya. Tidak jauh dari pintu gua, sudah tampak banyak peti mayat yang diselipkan di lubang-lubang gua, tengkorak-tengkorak kepala dan tulang belulang. Jika berkenan, dibolehkan mengambil gambar bersama "mereka".


Yang membuat saya heran, sama sekali tidak tercium bau busuk layaknya bau jenazah yang membusuk. Padahal tulang belulang dan tengkorak banyak yang berserakan begitu saja. Begitu juga peti-peti mayat itu bergelatakan di setiap sudut. Tanda tanya di kepala saya soal ini belum terjawab hingga saya menuliskan cerita ini. Saya yakin mereka masyarakat Tana Toraja memiiliki semacam ramuan rahasia yang menyebabkan mayat-mayat ini tidak menimbulkan bau jenazah. Mungkin ramuan dari akar-akar dan tumbuhan tradisional setempat. Sebuah "rahasia"dan tradisi budaya lainnya yang membuat Toraja makin unik dan khas.

Menurut guide, posisi peti mati maupun mayat dan tengkorak tetap sama dan tidak berubah dari aslinya. Biasanya peti-peti atau tengkorak yang berkumpul di satu tempat memiliki hubungan kekeluargaan, jadi semacam kuburan keluarga. Ada sepasang tengkorak di atas tanah, kami sengaja ditunjukan dan dipersilahkan jika ingin berpoto. Kabarnya sepasang tengkorak tersebut adalah sepasang kekasih yang mati bunuh diri karena tak direstui. Wuiih ada kisah Romeo dan Juliet versi Tana Toraja juga rupanya. Mereka tak disetujui karena masih terdapat hubungan kekerabatan.


Saya juga melihat banyak rokok-rokok, baju, dan benda-benda lainnya, termasuk uang di sekitar tulang belulang dan tengkorak. Bahkan ada yang sengaja ditusukkan di mulut atau hidung tengkorak. Saya miris melihatnya. "Kok gitu sih, gak sopan banget nih. Trus gak ada yang berani merapihkan gitu???" eh ternyata saya salah duga. Rokok dan benda-benda tersebut ternyata merupakan semacam sesajen bagi arwah jenazah. "Owwh begitu", bahkan Pak Petrus menyimpan sebatang rokok di salah satu tengkorak yang ditemui. "Tak ada yang berani mengambil bu, itu sesajen untuk mereka." Adat tradisi mempercayai mereka masih "hidup".


Saya tidak ikut masuk ke dalam gua lain yang katanya lebih pendek.  Menurut guide, Jenazah yang dikuburkan di tebing bukit batu ini, ada yang dimasukkan ke dalam gua, yang di gantung diatas tebing, atau bahkan ada yang dimasukkan kedalam lubang bukit batu begitu saja. Kuburan ini berlapis, yang kami masuki adalah kuburan lapisan paling bawah. merupakan kuburan masal biasa. Mereka dengan strata yang lebih tinggi biasanya menempatkan jenazah keluarga di tempat yang lebih tinggi. Semakin tinggi strata biasanya semakin tinggi tempat mayat disemayamkan. 

Biasanya  dalam peti mati mereka yang berada, disertakan pula barang-barang berharga atau barang kesayangan sehingga untuk keamanan dari pencurian mereka ditempatkan di atas sehingga sulit dicapai. Jenazah dari peti yang sudah tua yang jatuh ke bawah karena petinya sudah rapuh misalnya, tidak ada yang berani memindahkan tulang belulang dan tengkoraknya tanpa izin dan upacara adat khusus. Hmm sebuah adat dan tradisi kematian yang sangat unik dan langka.


Hmm selain itu kita sebetulnya masih bisa berkeliling ke bagian lain bukit batu ini dan menyaksikan langsung berbagai kuburan dimaksud. Ada jalan setapak berundak yang sudah ditata guna memudahkan pengunjung. Hmm saya sudah capek dan memilih duduk sambil melamun hahaha. Jadi gimana?? perjalanan One Day Tana Toraja Trip kami, seru bukan?? jangan ragu-ragu menyempatkan diri ke Tana Toraja saat berkunjung ke Sulawesi Selatan yaa...Worth it dan unik sekali budaya tradisi kematian di sini. Bukan hanya di nusantara, tradisi dan budaya khas Tana Toraja ini, merupakan the one and only around the world. Tuuh keren kan???

Oh iya sebetulnya masih ada beberapa tempat lain yang bisa dituju seperti komplek kuburan para bangsawan, komplek kuburan bayi-bayi. Iya bayi-bayi dikuburkan secara khusus. Dari usia 0 sampai mereka yang belum tumbuh gigi dikuburkan diatas pohon, bukan di dalam batu. Kabarnya karena bayi-bayi ini dianggap masih suci. Sayangnya tak cukup waktu kami. Tapi tiga tempat yang sudah kami kunjungi rasanya sudah cukup mewakili rasa penasaran kami.

Come and Visit Tana Toraja, It's amazing to find the cultural heritage.

30 comments:

  1. udah lama pengen ke toraja dan salah satunya mengunjungi Londa..serem2 gitu ya mak..xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. serem2 sedep mba hahaha... karena rame2 kali yaa, jadi gak terlalu gimana gitu...

      Delete
  2. pertama kali ke toraja pertama kali itu liat tengkorak2 berserakan..
    tp g begitu ngerasa serem yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sih, karena situasinya gak dimistiskan gitu kali yaa, terus rame2 juga. ya tapi klo lama2 merinding juga sih

      Delete
  3. Akuuu pnasaran bgt ma ygbupacara rambu solok apa yakk

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah beruntung banget tuh klo ke sana bisa seklian menyaksikan upacara2nya.

      Delete
  4. Wah kayaknya tempatnya lebih serem daripada ketekusu ya mba. Hebat loh orang toraja, mereka balsem dari ramuan alam turun menurun, sama formalin ngga ada apa-apanya. Karena bahan alam ini, jasad akan lebih fresh dan tidak keriput. Ih, kok jadi serem nulisnya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ..klo kete eksu kan gak smp aku masuk guanya.
      oh karena ramuan2nya itu yaa...iya lhoo aku bingung kok bs ya gak bau gitu

      Delete
  5. Hei ... kapan dirimu ke Toraja Mak? waktu mampir di Makassar, mengapa tak mencolekku? Iiiih Mak Ophi ... kapan kita bisa ketemuan? -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bulan september klo gak salah mak...waktu itu pingin nyolek2 jadwalku padet mak, takutnya malah gak bisa ketemu. 2 hari full meeting, nah di hari kedua selesai meeting langsung ke toraja karena cuma punya waktu sehari. next time insyaAllah ku colek ya maak

      Delete
  6. Amazing ya mbak, jadi ngebayangin masuk gua sendirian,hiii.. Penasaran pgn liat kubur bayi yang dimasukkan didlm pohon2 itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naah aku juga penasaran tuh sm kuburan babynya...sayangnya waktunya gak cukup

      Delete
  7. Ooh, nggak bau ya? Serem ya pasti, tapi aku pgn banget ke Toraja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. enggak bau jenazah...ya aroma gua gitu aja sih...seru juga ke Tana Toraja unik dan khas

      Delete
  8. saya baca ini jam 2 malem. heuheuheue merinding sendiri :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi...wadoooh jangan ngebayangin yang enggak2 yaa

      Delete
  9. cita2 ke mari , tapi waktu aku ke makasar belum sempat ke sini karena butuh waktu yang lama ke sananya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mah tira 7-9 jam dr makasar ke toraja. trus enakknya sih memang waktunya banyak. supaya tuntas dan puas hehehe

      Delete
  10. anaku yg nomer dua, kk rasyad, malah takut. selama di gua digendong bapanya terus. si bungsu dd irsyad malah cuek aja, ga takut :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin de Irsyad belum gitu paham kali yaa, jadi malah cuek. klo kk rasyad kan pasti sudah pernah denger cerita2 seram ya mak

      Delete
  11. kunjung kesana kayanya baru masuk bulu punggung pada berdiri
    serem

    ReplyDelete
  12. Serem tapi asli penasaran banget pengen kesana wuy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tak seseram yang kau bayangkan dek *ditampol dari Semarang hahahaha.
      lumayan sih...tapi bismillah aja, kan kita cuma mau wisata hihi bukan mau jahil menjahili hehehe

      Delete
  13. Aku belum eksampean ek tana toraja.
    Baru sampe Losari doang. Nexttime mesti banget kesiniiiihhh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 7 - 9 jam dari losari... worth it kok bisa ke sini... recommended deh

      Delete
  14. Tempat ini juga sering masuk dalam acara traveling TV kan mbak ...

    ReplyDelete
  15. Belum pernah nguprek Indonesia timur. Ajak aku dong :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuuuk...aku ajak kamyuuu...ketemuan di makasar kita hahaha

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.