Wednesday, February 10, 2016

Satu Hari di Banten Lama


Kemana krucils bakal diajak jalan-jalan Ayah weekend kali ini? Ibu lagi pas dulu, no idea. Hmm gimana kalau kita ke Serang Banten. Ke kawasan Banten lama? Sebetulnya ini bukan ide baru. Sudah sering disampaikan Ayah tapi belum sempat tereksekusi juga. Saya tak ada gambaran meski sudah pernah ke Serang. Monggo terserah Ayah kita mau diajak kemana. 

Kami berangkat dari rumah agak siang. Sekitar jam 10.00 wib. Memang tidak ada persiapan khusus. Hanya membawa perlengkapan sholat dan air minum serta snack seadanya. Mobil melaju masuk ke jalur tol lingkar luar JOR. Karena khawatir macet di sepanjang jalan menuju pintu tol Pondok Aren, Ayah membawa kendaran melalui pintu tol Pondok Pinang, dekat Fedex. Kami keluar di pintu tol Serang Timur. 

Rumah Makan Ibu Hj Entin

Anak-anak sudah terlelap saat kami akhirnya sampai ke Kota Serang. Kita makan siang dulu deh. Ayah mendapat informasi beberapa nama rumah makan sebagai referensi dari temannya seorang jaksa yang bertugas di kota serang. Sayapun mereferensilan sebuah rumah makan yang menawarkan hidangan saefood bakar dan lauk rumahan. Nama rumah makannya Warung Ibu Entin. Sayang saya tak tahu persis di mana alamatnya. Ayah mengandalkan Waze dan Google Map.

Nah tak disangka kami ternyata melewati rumah makan dimaksud. Ayah akhir putar balik dan kami makan siang di sana. Saya sudah pernah makan di sini sebelumnya saat ada tugas pengumpulan data ke Banten. Aroma asap ikan, cumi, dan udang bakar serta otak-otak menyambut kami. Pas parkir mobil di depan tempat bakar-bakar. Pas jam makan siang. Tampaknya penuh pengunjung. 

Kami memilih makan di saung yang ada di bagian belakang rumah makan. Makanan disajikan layaknya di rumah makan padang. Satu piring berisi ikan bakar segar,udang dan cumi bakar. Lauk-lauk pelengkap disajikan di piring-piring kecil dan satu bakul nasi putih. Untuk sambal tersedia beberapa macam pilihan. Selesai makan kemana nih ya? 

Durian Jatohan H. Arif

Hmm aku blom tahu mau kemana kata Ayah. Cuaca lumayan terik siang itu. Kita makan durian jatohan yuuk. Jalan lurus saja mengikuti jalur yang menuju Pandeglang ini. Ini referensi dari temanku dan aku cek di google. Keliatan sih ramai pengunjungnya. Kami pikir akan cukup jauh ternyata tidak. Tidak sampai setengah jam akhirnya kami sampai ke DJHA "Durian Jatohan H. Arif". Posisi di kanan jalan dan parkir cukup penuh. 


"Hmm jangan lupa sholat dulu yah...lagi pula perasaan perut maaih penuh makan siang tadi." Sebetulnya di bagian depan tadi ada musholla yang cukup besar dan kelihatannya rapih. Tapi kami parkir di belakang kami memilih sholat di musholla yang ada di bagian belakang. Bentuknya rumah panggung, dengan latar belakang pemandangan sawah. Angin yang semilir lumayan mengobati panas dan teriknya siang. Pun air wudhu yang dingin dan sejuk. Anak-anak tak berhenti bergurau. Alih-alih segera merapihkan alat sholat, selesai sholat mereka keasyikan bercanda di musholla berbentuk gazebo tersebut. 


Selesai sholat kami kembali ke depan ke restauran. Suasana sangat ramai. "Kita ke atas saja bu." Iya restoran ini bahkan berlantai tiga dengan nuansa rumah panggung kayu yang terbuka. Cukup nyaman. Ayah yang bertugas memilih durian. Dek Paksi dan Ka Alinga langsung mengikuti. Mereka penyuka durian garis keras. Saya dan Ka Zaha mencari tempat duduk. Suasana yang ramai bahkan membuat kita kesulitan mendapat tempat. Pas kami naik ada rombongan yang baru selesai. Kami segera menggantikan duduk di bale bambu yang mereka tinggalkan.

Tak lama Ayah, dek Paksi, dan Ka Alinga yang bertugas memilih durian datang membawa nampan besar dengan dua buah durian ukuran sedang yang telah dibuka. Waah, meski kecil-kecil tidak seperti durian montong tapi durian lokal ini cukup menggoda. "Aku pesan dua aja dulu takutnya gak habis. Kan baru habis makan siang tadi" Harganya macam-macam yang seukuran ini termasuk kategori yang kecil harganya 50rb/buah. Tak lama ada akang-akang yang membawakan sepiring tahu sumedang dan lumpia kentang. 



Hmm Ka Zaha yang biasanya ogah-ogahan, kelihatan tergoda melihat Ka Al dan Ayah yang tampak begitu menikmati daging durian yang harumnya demikian menyengat hidung. Dua buah durian akhirnya ludes. Tahu sumedang tak tersentuh sedangkan lumpia hanya dicoba satu. Rupanya berapapun kita makan akan dihitung satu porsi sehingga akhirnya sisa lumpia kami bawa. Selain durian jatohan ada juga pancake durian, petai, manggis, pisang dan buah-buahan lokal. Tampaknya di tempat ini juga dijual bibit tanaman buah lokal tersebut.

Setelah membayar durian dan makanan yang kami makan serta membawa sekantung pancake durian dan satu cup es krim durian yang duriannya lekherrr.  Ayah melajukan kendaraan kembali ke arah Kota Serang. Kita lanjut ya ke Banten lama. Tanpa pengalaman sebelumnya kami benar-benar mengandalkan aplikasi waze dan google map. Sebelumnya kami mecari oleh-oleh khas Serang, Sate Bandeng Hj Aliyah dan melewati rumah makan pecak Bandeng yang direkomendasikan teman saya. Kita lewati saja dulu lain waktu, kita harus coba pecak Bandengnya.

Saat mengikuti petunjuk arah yang disarankan waze, kami sebetulnya melihat arah penunjuk jalan bertuliskan Istana Kaibon. "Hmm kayaknya letaknya dekat pantai, sekarang masih panas banget kita ke Benteng saja dulu yaa." "Terserah Pak supir aja...yang penting sampai." Padahal kawasan Banten lama memang berada di kawasan pantai utara Banten, jadi mostly memang udara panas dan cuaca terik.  

Keraton Surosowan

Akhirnya kami sampai ke penunjuk Arah Keraton Surosowan dan dari jauh terlihat bangunan lama serupa benteng. Sayangnya banyak pungli. Belum memasuki kawasan wisata, sudah beberapa kali preman meminta setoran dengan agak memaksa. Saat masuk kamipun diminta membayar retribusi resmi oleh petugas berseragam. Kami diarahkan ke area parkir yang sayangnya sangat tidak tertib.


Area parkir tampak semrawut bercampur dengan pedagang UMKM. Sayang sekali! Belum lagi sampah yang berserakan di mana-mana. Kami ternyata harus membayar biaya parkir lagi di luar retribusi tadi. Hmm kok banyak rombongan yang khas kami kenali sebagai rombongan ziarah religi ya? Ternyata area parkir ini memang bukan hanya untuk pengunjung yang ingin melihat reruntuhan keraton namun justru lebih banyak merupakan pengunjung Masjid Agung Banten dengan menaranya. Rupanya letak kedua obyek wisata sejarah ini berdekatan.


Untuk bisa melihat Keraton Surosowan dari area parkir kami harus berjalan beberapa meter. Kami bingung dari arah mana kami bisa masuk ke dalam. Tak ada petunjuk yang memandai. Hanya saja terlihat di beberapa titik ada tangga yang dibuat secara swadaya entah oleh siapa membantu pengunjung naik ke bangunan yang rupanya merupakan batas luar Keraton setinggi sekitar 2,5 - 3 meter.
Ternyata yang memasang tangga-tangga tersebut adalah para pedagang makanan dan minuman yang tak jauh dari tangga-tangga dimaksud. Naik free, turun bayar hahaha. Iya, kami baru sadar bahwa naik dengan tangga ini dikenai biaya pada saat kami turun melalui tangga yang sama.  Tak ada pilihan karena ternyata saat kami amati ada jalan setapak dan pintu serupa pintu gerbang justru ditutup dan tak bisa diakses. Entah mengapa.

Bangunan yang telah runtuh ini berbentuk segi empat tak beraturan. Yang tampak memang bukan lagi bangunan utuh serupa keraton. Namun tampak seperti sisa-sisa reruntuhannya. Bangunannya didominasi oleh bata merah, batu karang, pasir, dan kapur. Meski sudah tidak utuh, namun sisa bangunan masih meninggalkan bentuk  yang bisa dinikmati dan diduga fungsinya.

Keraton Surosowan berfungsi sebagai tempat tinggal sultan beserta keluarga dan pengikutnya. fungsi lainnya, keraton juga menjadi pusat kerajaan dalam menjalankan pemerintahan Kerjaan Banten. seperti umumnya kerajaan Islam lainnya di Jawa yang memiliki Alun-Alun dan Masjid. Di dekat keraton terdapat Masjid Agung dan alun-alaun. Tak jauh kita akan menemukan pasar tradisional dan arah menuju dermaga.

Keraton Surosowan diperkirakan dibangun antara tahun 1526-1570 saat Pemerintahan Sultan Banten yang pertama yaitu Sultan Maulana Hasanudin. Kabarnya keraton ini dibangun sebagai pemberian wilayah yang diserahkan oleh Sunan Gunung Jati kepada anaknya Sultan Maulana Hasanudin.






Cuaca terik dan panas diminimalisir  dengan terpaan angin laut. Anak-anak bahkan tak berhenti bermain. Berlarian menelusuri sisa-sisa bangunan dan menebak-nebak bangunan apakah dulunya? Bahkan dek Paksi naik ke atas salah satu ujung reruntuhan bangunan tanpa kami sadari. Kakak-kakak dan Ayahnya menyusul. Saya khawatir ia terpeleset atau digigit ular. Rerumputan yang tingga memang menjadi pemandangan yang memikat namun tetap harus waspada. Saya yakin ada banyak binatang liar yang hidup diantara reruntuhan bangunan ini. Saya bahkan menemukan tanaman yang saya kenali sebagai makanan ular. 


Sebetulnya anak-anak masih belum mau diajak berlalu. Mereka masih asih bermain peran. Hmm tampaknya sedang main rumah-rumahan. Saya mungkin terlalu khawatir melihat mereka tampak makin legam tersengat matahari dan keringat yang bercucuran. Meski anak-anak tampak enjoy dan sangat menikmati. Mungkin terpaan angin membuat mereka melupakan sengatan matahari yang cukup panas. Akhirnya setelah agak dirayu mereka mau juga turun. "Tuh lihat ada menara tinggi kan?, ayo kita udahan main di sini supaya bisa ke menara yang itu yuuk Nanti bisa lihat kota Banten Lama dari atas menara."

Masjid Agung Banten 

Melewati area yang juga agak semrawut serupa gabungan pasar kaget, pedagang kaki lima dan terminal angkot kami menuju Masjid Agung Banten. Sebelumnya kami melewati sebuah museum yang sayangnya tutup. Kiranya museum tersebut tempat menyimpan koleksi benda bersejarah milik Banten. Kami harus memutar melewati jalan dan memutai alun-alun di depan Masjid. Sepanjang jalan pedagang aneka macam souvenir dan oleh-oleh berbaris hingga kami memasuki gerbang Masjid.

Memasuki kawasan masjid kami langsung disambut pedagang asonga, tukang photo, anak-anak peminta sedekah dan jujur kombinasi ini membuat kami kurang nyaman. Pantas saja di depan tadi ada jasa penukaran uang receh/uang kecil. "Nanti banyak yang minta sedekah buu." Iya banyak memang bukan hanya ank-anak, Bapak-bapak yang "mungkin" penjaga masjid dengan tong kayu besarnya memberi isyarat agar kami memasukkan uang ke dalamnya.


Hmm meskipun bukan libur panjang dan hari sudah sore. Suasana masih sangat ramai dan riuh pengunjung. Sependek pengetahuan saya memang Masjid Agung Banten ini merupakan salah satu "must visit wisata religi". Peziaarah datang dari berbagai pelosok negeri. Bahkan dari logat bicara dan cara berpakaiannya saya mengenai beberapa rombongan dari ranah Minang. Hmm luar biasa ya.

Tukang photo dan anak-anak peminta sedekah tak berhenti menguntit kami dan menawarkan jasanya. Entah karena risih tak enak atau memang kebetulan Ka Zaha butuh photo keluarga untuk tugas tematik di sekolahnya kami menyetujui untuk mengambil photo dan mendapat print outnya. Padahal ayah membawa kamera juga. 

Sang anak peminta sedekah tak kunjung berhenti meski saya bilang, nanti ya. Trio krucils sampai hafal kata-kata yang diucapkan anak tersebut. Setelah saya beri kemudian memang dia pergi. Tapi pedangan lain, tukang photo lain dan peminta-minta lain tak kunjung berhenti menawarkan barang-barangnya.

Biasanya , kami menyempatkan diri sholat di Masjid bahkan saat bukan wisata ziarah semacam ini. Karena memang waktunya sholat atau sekedar sholat tahiyyatul masjid. Namun karena kurang nyaman dan membuat kurang mood kami urung memasuki masjid. Apalagi masjid tampak penuh dan ramai pengunjung. Kamipun urung naik ke menara. Hmm lain kali saja kata Ayah. Kita ke sini lagi, kita pilih hari yang tak terlalu ramai. Supaya bisa menikmati sekaligus juga khusyu. 

Jadi kami benar-benar hanya melihat masjid dari luar dan berphoto di depan menara dan masjid lalu kembali ke area parkir. Kami harus melewati jalan keluar yang sebetulnya lebih dekat dari jalan kami datang. Namun jalur keluar ini dibuat menjadi panjang dan berkelok melewati barisan pedagang oleh-oleh dan souvenir. Persis seperti obyek wisata umumnya, sebutlah Borobudur.

Masjid Agung Banten merupakan warisan sejarah dengan nilai budaya yang tinggi. Salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini dikenali dari bentuk menaranya yang berbentuk seperti mercusuar. Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten sekaligus putra pertama dari Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon.

Baca juga: Keraton Kasepuhan Cirebon


Menara masjid yang terletak di sebelah timur. Menara terbuat dari batu bata dengan tinggi sekitar 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Ada 83 buah anak tangga yang harus dilewati untuk sampai ke puncak menara. Selain itu ada lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Kabarnya pemandangan dari puncak menara, selain lingkungan di sekitar  masjid adalah lepas pantai mengingat laut yang hanya sekitar 1,5 km. Selain tempat mengumandangkan adzan dulu menara juga dipakai sebagai gudang senjata. 

Ciri khas berikutnya dari Masjid Agung Banten adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda China yang merupakan karya arsitek Cina yang bernama Tjek Ban Tjut. Selain itu ada dua buah serambi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama. di kompleks masjid terdapat pula pemakaman sultan-sultan Banten serta keluarganya. Makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.

Sayangnya kami belum bisa mengeksplore keindahan sekaligus nilai sejarah dan budaya peninggalan kejayaan Kesultanan Banten ini. Mudah-mudahan lain waktu kami bisa kembali dan menikmati wisata religi dengan nyaman. Selain kurang tertib, pedagang dan pengunjung yang sangat ramai dan tak beraturan, pengelolaan sampah perlu menjadi perhatian. Baik bagi pengelola maupun pengunjung. Kesedaraan pengunjung yang lemah akan ketertiban dan sampah mungkin bisa  dibantu dengan penyediaan sarana yang memadai dan papan larangan yang tegas.

Meski matahari mulai menuju peraduannya, udara masih tetap panas dan terik tak jua berkurang. Anak-anak tampak kelelahan saat akhirnya kami kembali melajukan kendaraan. Petunjuk arah menuju Istana Kaibon kami abaikan karena kami memilih segera kembali ke rumah. Akan ada kunjungan berikutnya ke Kaibon, insyaAllah.

41 comments:

  1. Kemarin nonton liputan Banten Lama ini di tipi mbak. View nya bagus. Tapi kok gitu ya ada pungli segala. Bikin gemes.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya karena blom tertata baik mbak...msh rawan pungli

      Delete
  2. duriannya bikin ngiler mbak..hehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaa...sodorin lap eh tisu deh hahaha

      Delete
  3. dekkk, itu mamanya kece bener hehe masih belum keliatan sudah emak2 hehe, aduh itu mau juga ke benteng peninggalan sejarah, selalu suka dgn wisata sejarah

    ReplyDelete
    Replies
    1. aih makasyiii tante, Ibuku memang keceh *lalu ditakol jeng evrina

      Delete
  4. Banten lama itu Serang ya Mba? Sayang banget ya Mba keadaan benteng Speelwijk tinggal reruntuhannya saja.. Bekas peninggalan Belanda kah?

    ReplyDelete
  5. Saya jg mampir di kedai durian sepanjanv jalan menuju Banten:)

    ReplyDelete
  6. Waw... duriannya bikin ngiler, Mak Ophi. Montok-montok kaya saya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah montok2 dan menggoda yaa

      Delete
    2. hahahah montok2 dan menggoda yaa

      Delete
  7. Waduh itu durannya banyak amat.
    Kesukaan anakku banget tuh, durian. Dibikin apapun mereka suka, paling suka ice cream durian :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. anak2ku juga suka banget mba. tp gak bs bikin penganan dr durian euy...paling dikolak

      Delete
  8. Durian sebanyak itu bisa habis semua ya, Mbak ? hehe. Jadi, penasaran kepengen jalan - jalan ke Banten tapi sayang jauh banget ya dari Madura :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita makan dua buah aja mbak...kebanyakan nti mabuk durian hahaha

      Delete
  9. Destinasi wisata di Banten emang joss... bolehlah dijadikan list salah satu kota yang disinggahi ^^

    ReplyDelete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. Ini mak maksudnya yg bikin suami yg asli serang tinggal bisa dibilang sebelah banten lama (agak jauh sih dikit) males ke sini. banyak yg ngikutin. tp waktu terakhir ke sini pagi banget mak...jd ga terlalu banyak yg nguntitin alias yg maksa2..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hhahaa sama mbak
      sayang banget yaa..jd pengunjung malas n ribet gr dikuntitin terus

      Delete
  12. Aduh mbak, duriannya bikin pengen. Pas baca tulisan ini malah sambil bayangin cium bau durian, hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha menggoda untuk diicip2 nih mba

      Delete
  13. Aku seneng banget tuh wisata sejarah dan safari masjidnya. Sbg orang Banten, aku malah blm pernah mengunjungi area2 wisata di Banten lho.

    ReplyDelete
  14. waha syiknya ya. aku suka banget tuh yang berbau sejarah.Lihat batu2an itu jadi membayangkan waktu dulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah serasa kembali ke masa lalu ya mah

      Delete
  15. Bentengnya instagramable banget..sukakk

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.