Sunday, July 26, 2015

Keraton Kasepuhan Cirebon

Lebaran kali ini saya memang meniatkan diri ingin mengenal lebih dekat kota kelahiran dan tempat pulang kampung saya. Maklum saat bertemu dengan orang baru lalu berbincang tentang kota asal, saya akan sedikit tergagap-gagap saat ditanya seputar sejarah dan budaya Cirebon. *tutup muka* Yang di luar kepala pastinya sih soal kuliner Cirebon *tukang makan*. Nah dalam kesempatan mengisi libur lebaran tersebut saya dan ayahnya anak-anak ingin mengenal lebih dekat tentang sejarah Kota Cirebon. Kami memutuskan untuk mengunjungi tempat yang menjadi Cagar Budaya dari sejarah Cirebon.
Siti Hinggil


Saya jujur baru tahu bahwa, kesultanan di Cirebon ternyata ada 3, Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan. Ketiga kesultanan tersebut direpresentasikan oleh tiga Cagar Budaya, yakni Keraton dari masing-masing kesultanan tersebut. Dulu yang saya tahu hanya ada dua. Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman. Kedua kesultanan ini merupakan keturunan dari dua putra Sultan Cirebon kakak beradik. Sepuh artinya tua, Anom artinya muda. Nah di luar kedua kakak beradik tersebut ada satu kesultanan baru yang lahir belakangan. Kesultanan Kacirebonan lahir sebagai bentuk politik Hindia Belanda pada saat itu yang ingin memecah belah masyarakat pribumi dengan politk devide et empera. Kesultanan baru yang dibentuk oleh Belanda tersebut kemudian meneruskan tradisi kepemimpinanya hingga saat ini.

Keraton Kasepuhan dibangun sekitar tahun 1529 oleh Pangeran Cakrabuana, merupakan perluasan dari Keraton tertua di Cirebon, Pakungwati. Keraton Pakungwati atau yang dikenal juga Dalem Agung Pakungwati merupakan cikal bakal Keraton Kasepuhan. 

Keraton Pakungwati yang terletak di sebalah timur komplek Keraton Kasepuhan, dibangun oleh Pangeran Cakrabuana (Putera Raja Pajajaran) pada tahun 1452 (sumber lain menyebutkan sekitar 1430 atau abad XV). Keraton tersebut dibangun Pangeran Cakrabuana untuk putrinya Ratu Ayu Pakungwati.  Ratu Ayu Pakungwati kemudian menikah dengan Syech Syarif Hidayatullah (Putra Ratu Mas Larasantang adik dari Pangeran Cakrabuana) yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. 

Pada tahun 1479 keraton ini diperluas dan dilebarkan. Luas situs pertama di Cirebon ini sekitar 4900 m2, mempunyai tembok keliling sendiri, keadaan bangunannya sekarang tinggal reruntuhannya saja. Kawasan Dalem Agung Pakungwati memang masih tampak menyisakan sisa-sisa sejarah masa lalu. Di lokasi tersebut terdapat sisa-sisa bangunan, gua buatan, sumur dan taman. Kawasan ini masih asri dan menampakkan wajah aslinya. Batu bata merah dan pintu-pintu kayu jati menjadi saksi sejarah. Ada juga pedati raksasa yang menghias komplek Dalem Agung Pakungwati tersebut
pedati raksasa dalam komplek dalem pakung wati

Kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa taman, beberapa sumur dan gua buatan di tempat yang terletak di sisi kanan dari komplek Keraton Kasepuhan tersebut saat ini. Jujur suasananya tampak dibuat agak spooky dan beraroma mistis. Ada lokasi petilasan yang dikeramatkan sebagai tempat para pendahulu termasuk Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati melakukan semacam perenungan dan komunikasi dengan Yang Maha Kuasa. Wanita dilarang memasuki tempat tersebut. Saya hanya memotret bagian pintu, sedangakn suami berkesempatan masuk dan mengambil gambar. Beberapa orang menyempatkan diri berwudhu di sumur yang dimaksud dan melaksanakan sholat di tempat tersebut. Hanya laki-laki yang boleh melakukannya.
suasana Dalem Pakungati: reruntuhan bekas taman, sumur agung, petilasan dan lain-lain

Pada abad ke-16 Sunan Gunung Jati mangkat, digantikan oleh cicitnya yang bernama Pangeran Emas Zaenal Arifin dan bergelar Panembahan Pakungwati I.  Pada tahun 1529 beliau membangun keraton baru di sebelah barat daya keraton lama. Keraton baru ini juga dinamai Keraton Pakungwati, mengabdikan nama puteri Pangeran Cakrabuana atau buyut sultan, yang gugur pada tahun 1549 ketika ikut memadamkan kobaran api yang membakar Mesjid Agung Sang Cipta Rasa.

Pada tahun 1969 Kesultanan Cirebon terbagi dua menjadi Kesultanan Kanoman dan Kasepuhan. Kesultanan Kanoman dipimpin oleh Pangeran Kartawijaya dan bergelar Sultan Anom I, sementara Kesultanan Kasepuhan dipimpin oleh Pangeran Martawijaya yang bergelar Sultan Sepuh I. Kedua sultan ini kakak beradik, dan masing-masing menempati Keraton sendiri. Sultan Sepuh I menempati Keraton Pakungwati, yang kemudian berganti nama menjadi Keraton Kasepuhan.

Secara keseluruhan Keraton Kasepuhan ini membujur dari utara ke selatan atau menghadap utara. Seluruh keraton di Jawa dikabarkan menghadap utara yang secara filosofis dimaknai menghadap magnet dunia, artinya sang raja mengharapkan kekuatan. Berbekal buku atau lebih tepatnya photocopy yang berisi denah dan baluarti Keraton Kasepuhan Cirebon, saya berusaha memahami berbagai bangunan yang ada di kompleks keraton yang luas ini. Pamflet yang diganti dengan uang Rp5.000,- tersebut membantu menjelaskan tentang sedikit sejarah dan nama-nama bangunan dan lokasi dalam kompleks karena saya tidak menggunakan jasa guide. Bagi yang ingin menggunakan guide, tidak perlu khawatir karena banyak guide yang bersedia menemani touring kita. Oh iya tiket masuk dikenai Rp.20.000,- per orang.

Di luar kawasan Dalem Agung Pakungwati, ada sekitar 40 bangunan atau lokasi dengan nama, makna dan fungsi masing-masing di dalam kompleks Keraton Kasepuhan. Sayangnya tidak semua lokasi atau bangunan tersebut bia diakses pengunjung. Sayapun rasanya tak bisa menceritakan semua lokasi dan bangunan yang saya kunjungi, nama-namanya sangat khas dan makna dan fungsi yang berbeda satu sama lain. Namun ada beberapa yang sangat menarik perhatian.

Pembatas antara kawasan umum termasuk alun-alun dengan kawasan keraton ditandai dengan sungai yang disebut sebagai Kali Sipadu. Kali yang saat ini sayangnya kurang bersih dan menyisakan aroma kurang menyenangkan. Ada jembatan yang membentang diatas kali yang disebut Kreteg Pangrawit. 

Namun pengunjung harus melewati pintu masuk di sebelah timur yang akan langsung mendapat kawasan Siti Inggil yang dibangun dari bata merah berbentuk podium. Siti artinya tanah, Inggil artinya tinggi. Siti Inggil dikelilingi tembok bata merah berupa Candi Bentar yang tiap pilar diatasnya terdapat Candi Laras. Bangunan Siti Inggil langsung mendapat perhatian saya mengingat letaknya di depan dan bentuk bangunannya yang khas.
Gapura Lonceng

Melewati kawasan Siti Hinggil, terdapat bangunan terbuka dengan nama Pengada. Di sebelah timur Pengada terdapat Gerbang Lonceng (saat ini sudah tidak ada loncengnya) yang menggambarkan gerbang masa lalu dengan pintu kayu jati dan batu bata merah yang melingkupinya sangat eksotis sekaligus mistis. Ada juga Langgar Agung di sebelah barat yang merupakan temapt sholat kaum dalem dengan temapt bedug, yang bedugnya dinamai Sang Magiri.

2 Macan Putih lambang Pajajaran dan Meriam

Memasuki kawasan keraton kita akan melewati gerbang besar yang disebut pintu Gledegan. Setelahnya kita akan melihat sebuah taman di bagian depan, yang disebut Taman Bunderan Dewan Daru. Di taman ini terdapat patung lembu kecil (lambang kepercayaan hindu), pohon soka (lambang hidup bersuka hati), patung 2 ekor macan putih lambang Pajajaran, meja dan bangku bata yang sama dengan di halaman depan Siti Inggil, dan 2 buah meriam persembahan dari Prabu Kabunanga Pakuan. Meriam ini dinamai Ki Santoma dan Nyi Santomi.
Taman Bunderan Dewan Daru

Di sebelah barat taman terdapat Museum Benda Kuno yang berisi berbagai koleksi benda kuno bersejarah sedangkan di sebelah timur terdapat museum kereta. Musium ini merupakan tempat penyimpanan kereta pusaka yang dinamai Kereta Singa Barong. Singa dari Sing Ngarani artinya yang memberi nama. Barong dari bareng-bareng artinya bersama-sama. Jadi Singa Barong artinya yang memberi nama bersama-sama. Kereta ini dibuat pada tahun 1549 atas prakarsa Panembahan Pakungwati I yang mengambil pola makhluk prabangsa. 

kereta singa barong
Kereta ini merupakan perwujudan 3 binatang yaitu Belalai Gajah melambangkan persahabatan dengan India mewakili agama Hindu, Kepala Naga yang melambangkan persahabatan dengan China yang mewakili agama Budha, dan Sayap dan Badan yang mengambil bentuk dari Buroq sebagai lambang persahabatan dengan Mesir yang mewakili agama Islam. Kalau di Keraton Kasepuhan disebut Singa Barong maka di Kaeraton Kanoman, versi sejenis dinamai Paksi Naga Liman (baca di postingan tentang Keraton Kanoman yaa...). Selain kereta terdapat beberapa tandu, termasuk tandu Garuda Mina yang dibuat tahun 1777 di Gempol Palimanan. Tandu tersebut dibuat untuk tandu anak yang dikhitan.
Tandu garuda mina




Tepat di belakang Taman Daru terdapat bangunan yang disebut Jinem Pangrawit merupakan serambi depan keraton yang fungsinya untuk menerima tamu sultan. Setelah Jinem Pangrawit ini bangunan di dalamnya kita tidak bisa masuki antara lain Bangsal Pringgandani.
jinem pangrawit
Sebelah barat  dan timur Jinem Pangwarit terdapat Pintu Buk Bacem. Pintu gerbang beratap tembok lengkung (hoeg/buk) berdaun pintu kayu. Kayunya dulu dibacem atau direndam dan diberi ramuan. Pengunjung hanya bisa melewati pintu sebelah timur, sebalah kanan khusus untuk penghuni keraton. Pintu gerbang ini sangat unik dan cantik dengan berbagai piring yang artistik yang menempel di temboknya dipadu dengan bunga kamboja yang bermekaran di sekitarnya. Sayangnya, pengunjung hanya bisa mengakses sampai sekitar lokasi tersebut. Masih banyak lokasi dan bangunan di dalam keraton yang juga memiliki nama, makna dan  fungsinya masing-masing.
Gapura Buk Bacem

25 comments:

  1. Keren banget Mba mempromosikan budaya lokal yang kurang terangkat :)
    Saya ke Cirebon baru ke Makam Sunan Gunung Jati, Pemandian Cibulan sama Waduk Dharma dan Taman Ade Irma Suryani :D
    Pingin ke keraton...kapan2

    ReplyDelete
    Replies
    1. kudu ke keraton teh ani...btw ada 3 lho keratonnya, tunggu liputannya yaa *ting*

      Delete
  2. Sebenernya keraton ini cantik ya mak.. cuma syang banyak pungli nya di dalem. Eh tapi entah skr masih ga ya tahun kmr kesana tu ada beberapa titik yg pengunjung dimintain duit lg

    But i really love you pics msk.kereenn :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih maak...itu yang saya sayangkan, maap ga kubahas di sini. Miris euyyy

      Delete
  3. Pintu yang terakhir lucu banget XD
    Aku belum pernah ke Cirebon, suatu hari kalau sempat mau main ke sana, ah ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga paling suka gapura buk bacem itu mak...sayangnya sy ga uplod kayu jatinya yang juga keren

      Delete
  4. Keretanya kuno banget, Serem euy...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keretanya mmg sudah berusia 5 abad lbh... ada sesajen jg tuh dibawahnya

      Delete
  5. Kalau tahu di cirebon ada tempat yang menarik tersebut, kemarin harusnya saya ikut ke cirebon kak. Nyesel deh nggak kemarin nggak mau saat di ajak ke cirebon main ke tempat temen kerja.

    Salam dari Admin Super Responsive

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lain kali sempetkan mampir mas. Msh ada 2 keraton lainnya

      Delete
  6. Fotonya keren Mbak, berasa ada di sana. Nuansa spooky nya keliatan ya di Keraton ini. Kalau saya sih cukup baca posting Mbah Ophi aja deh, ngumpulin keberanian dulu.. Hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bbrp tempat mmg terasa bgt nuansa spookynya. Apalagi yang masih dibiarkan spt aslinya

      Delete
  7. pengen nyoba maen kesana ke cirebon

    ReplyDelete
  8. Kuningan-cirebon padahal deket ya mak, saya belum pernah mampir ke keratonnya. kalo lewat2 aja kayanya dulu sering :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi saya juga yg orang cirebon baru kali ini explore mak. Kapan2 smptin mampir

      Delete
  9. Ohh...aku baru tahu nih kalo di Cirebon itu ada Keraton, ada kasepuhan dan ada Kacirebonan.. Adik iparku orang Cirebon, mereka itu 5 bersaudara laki2.. Semua nama mereka diawali dgn nama 'Syarif Hidayat ....." Mungkin mengadopsi nama seorang Syech yang terkenal di Cirebon ya Mbak? Pengen juga nih berkunjung ke Cirebon sekalian mengenal jejak sejarah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syech maksudnya Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati kan ya mak? Salah satu dr Wali songo. Bisa jadi mungkin keturunannya mak.
      Ayoo main ke Cirebon ..

      Delete
  10. Wah, dapat rekomendasi tujuan wisata baru nih. Aku suka tulisan yang ada kisah sejarahnya. Bacanya sambil membayangkan kejadian sesungguhnya jaman lampau. Kadang sampe merinding. Pernah mengunjungi salah satu keraton di Cirebon tp bukan yg ini. Mungkin Kacirebonan ya, Mak. Yang dindingnya bata merah itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Keraton Kasepuhan ini yg bagian atau area Dalem Pakungwati menggunakan bata merah mak. Masih asli dan serasa di masa lalu juga

      Delete
  11. saya sudah ke Cirebon, tapi blm sempat ke kesultanan. Sejarah bangsa Indonesia memang banyak ya... dan kita patut bangga akan hal itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya banyak hal masih harus kita tingkatkan dalam menjaga n melestarikan sejarah bangsa. Situs atau cagar budaya seperti salah satunya. Ayo mampir mak

      Delete
  12. kalau ada rejeki,insya allah coba main2 ke cirebon hihihi
    wah biaya masuknya cukup murah ya mba dan dapat melihat barang2 peninggalan sejarah :D

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.