Wednesday, July 29, 2015

Keraton Kacirebonan Cirebon

Jujur saya baru tahu bahwa selain Kesultanan Sepuh dan Kesultanan Anom yang kemudian dikenal dengan dua keraton yang menjadi ikon wisata budaya sekaligus sejarah di Cirebon yakni Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman ternyata ada satu kesultanan lain yakni Kasultanan Kacirebonan.  Kasultanan Kacirebonan lahir akibat pergolakan politik masa lalu dan ambisi kolonialisme Hindia Belanda dengan politik "devide et empere" atau politik memecah belah. 



Kasultanan Cirebon dibentuk pada 13 Maret 1808. Menyusul dipulangkannya P Surantaka yang ditangkap dan diasingkan di Pulau ambon berdasarkan perjanjian 28 Agustus 1806. Pangeran Surantaka/P. Raja kanoman/Putra Sultan Anom IV dinobatkan menjadi Sultan kacirebonan I dengan gelar Suktan Carbon Amiril Mukminin Muhammad Khairuddin pada 25 Maret 1808. Tradisi kepemimpinan yang kemudian diturunkan pada anak keturunannya. Yang terakhir sejak 1997 hingga saat ini Kasultanan Cirebon dipimpin oleh Pangeran Abdul Gani Natadiningrat sebagai Sultan Kacirebonan IX.


Versi lain menyebutkan Keraton Kacirebonan didirikan pada tahun 1808 M oleh Pangeran Anom di tanah seluas 45.500 m2. pembanguan Keraton Kacirebonan dilatarbelakangi oleh penggantian Sultan Anom IV (Sultan Anom Muhamad Khaerudin) yang wafat pada tahun 1802 M, yang secara erat mestinya digantikan oleh anak laki-laki atau anak tertua. Akan tetapi, karena Sultan Anom IV memiliki anak laki-laki kembar maka pada tahun 1807 Gubernur Jendral Daendels memutuskan bahwa keduanya mendapat gelar sultan. Pangeran Raja Kanoman, salah seorang anak kembar itu, ditetapkan sebagai Sultan Kacirebonan sampai akhir hayatnya.

Namun, keturunan Sultan Kacirebonan ini tidak dapat melanjutkan kedudukan sebagai sultan, cukup dengan pangeran saja. Jadi, yang diangkat sebagai pegawai pemerintah kolonial Belanda hanya Pangeran Raja Kanoman pribadi. Selain itu Puri Kacirebonan pun tidak memiliki daerah kekuasaan. Untuk putera Sultan Anom IV yang satu lagi, yaitu Pangeran Abusaleh Imamuddin oleh Daendels ditetapkan sebagai Sultan Anom V, dan keturunannya dapat menggunakan gelar sultan, dan menjadi pegawai pemerintah kolonial Belanda, ketika Inggris mengambil kekuasaan Belanda di Pulau Jawa, keputusan Daendels ini tidak diubah lagi.

Bangunan Keraton Kacirebonan mempunyai ukuran relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman mungkin lebih pas disebut dengan Puri Kacirebonan. Secara administratif Puri Kacirebonan berada di Kampung Pulosaren, Kelurahan Pulosaren, Kecamatan Pekalipan. Masuk ke dalam, kita harus membayar tiket Rp.5000,- saya juga memintakan pamflet. Seorang guide tanpa diminta menemani kami berkeliling dan di akhir tour singkat tersebut meminta sejumlah uang tips.

Bangunan keraton termuda di Cirebon ini  terdiri dari bangunan induk merupakan bangunan inti dan sebagai tempat tinggal sehari-hari sultan beserta keluarganya,  Paseban yaitu di barat dan timur, berdenah persegi panjang, Langgar, Gedong Ijo, Pringgowat dimana terdapat benda-benda kebesaran keraton, berfungsi sebagi tempat istirahat sultan. Di sebelahnya terdapat ruang pinangeran, yang digunakan sebagai tempat tinggal kerabat sultan dan tempat penyimpanan alat-alat perayaan Muludan dan Kaputren.


Berbeda dengan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman yang memiliki kompleks yang cukup luas dan terdiri dari beragam bangunan, mengelilingi Keraton Kacirebonan tidaklah demikian. Bahkan touring lebih banyak diarahkan di dalam bangunan utama dan melihat-lihat kolekasi yang dipajang di beberapa ruang dalam banguanan keraton Induk. Pengunjung bahkan berkesempatan melihat dari dekat dan berpoto di dekat kursi tempat pangeran dan isterinya duduk di ruang pendopo. Keraton juga memiliki beberapa benda peninggalan bersejarah. Mulai dari berbagai pedang, mata uang kuno, keramik kuno, koran dan buku kuno, alat-alat yang digunakan untuk ritual tahunan, Yang menarik ada "ranggap" yang biasa digunakan untuk ritual tindak siti atau mudun lemah yang masih terlihat bagus.

Sama seperti Keraton Kasepuhan dan Kanoman yang tembok-temboknya dihiasi piring-piring keramik cantik yang beragam, tembok Keraton Kacirebonanpun dihiasi piring-piring cantik nan klasik. Saya juga sempat ke bangunan sebelah pendopo yang disebut pinageran tempat menyimpan alat-alat perayaan serta memutar ke bagian belakang yang kebetulan saat itu tengah ada acara reuni atau kumpul keluarga. Di bagian depan setelah gerbang masuk juga terdapat bangunan terbuka tempat diletakkan beberapa bedug besar.


9 comments:

  1. Saya juga baru tau dari post blog ini malah tentang Keraton Kacirebonan, worth to visit sepertinya ya Mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih bagus klo bs ke 3 keraton mba. Spy pemahamannya lbh lengkap.

      Delete
  2. Saya belum pernah ke Cirebon mbak cuma mampir lewat aja hikssss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas lewat sekalian mampirnya muter2 ya makm seharian muter gt hehehe...posisinya berdekatan kok 3 keraton itu

      Delete
  3. Sebagai awam, selama ini, nama 'keraton' benar-benar tersemat untuk kota Jogja. Setelah tahu kota Cirebon juga memilikinya, saya jadi semakin ingin mencoba mengunjunginya. Semoga saya segera punya 'teman' untuk berkunjung ke Keraton Kacirebonan seperti Mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayyo ke cirebon...sya sli cirebon tp sudah merantau ke JKt..tp ibu saya masih di cirebon...ayo main

      Delete
    2. Ayyo ke cirebon...sya sli cirebon tp sudah merantau ke JKt..tp ibu saya masih di cirebon...ayo main

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.