Tuesday, July 28, 2015

Keraton Kanoman Cirebon

Sudah tahu belum kalau Keraton di Cirebon ternyata ada tiga: Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman dan Keraton Kacirebonan. Untuk Sekilas sejarahnya sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya tentang Keraton Kasepuhan. Kali ini saya mau ajak ke Keraton Sultan Anom. Keratonnya adik Sultan Sepuh. Yup kita ke Keraton Kanoman.





Bermodal waze, saya dan  suami menyusuri jalanan  Kota Cirebon di siang yang terik itu. Informasi sekilas bahwa letak Keraton Kanoman dekat atau di belakang Pasar Kanoman, Sejujurnya saya malah tahunya ya salah satu pasar yang terkenal dengan barang-barang sandangnya tersebut. Oh mungkin memang posisinya dekat dengan Pasar Kanoman. Saya terkaget-kaget karena waze menunjukan posisi Keraton Kanoman, harus masuk ke jalan di tengah pasar yang ramai, sempit, kumuh dan tak teratur. Karena merasa janggal, kami melewati jalan atau gang di tengah pasar tersebut. Setelah berputar ternyata kami memang harus masuk ke jalan tersebut.


Gerbang besar tampak rancu dengan suasana pasar. Duuh mirisnya. Kita harus melewati pasar tradisional yang dibangun Belanda sekitar tahun 1924 di atas lahan Keraton tersebut. Hmm tarik nafas panjang karena sungguh menyedihkan sebuah Cagar Budaya yang mestinya mendapat tempat tersendiri di hati dan masyarakat Cirebon harus diperlakukan secara tidak patut. Saya membayangkan betapa sulitnya msuk ke area Keraton karena meski pasar saat itu cukup sepi karena masih libur Idul Fitri, akses jalan tersebut sama sekali tidak ramah pengunjung. Apalagi di hari-hari biasa pasar beroperasi. So sad :(


Di ujung pasar tradisional tersebut akhirnya kami sampai di kawasan yang tampak seperti alun-alun luas ditandai dengan beberapa pohon beringin lalu disusul oleh pagar dan tembok dari batu bata khas arsitektur Cirebon kali ini dengan cat berwarna putih berhiaskan ornamen piring keramik cantik khas oriental. Yang membedakan Keraton Kasepuhan dan Kanoman antara lain warna pagar dan tembok yang didominasi warna putih, sementara Keraton Kasepuhan didominasi warna bata merah. 


Keraton Kanoman berada di Jl. Winaon, Kampung Kanoman, Kelurahan Lemah Wungkuk, Kecamatan Lemah Wungkuk.  Tepat di sebelah utara keraton terdapat pasar tradisional, Pasar Kanoman.  Sedangkan di sebelah selatan dan timur merupakan pemukiman penduduk. Di sebelah barat keraton terdapat sekolah Taman Siswa.

Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I, pada sekitar tahun 1510 Šaka atau 1588 M. Titimangsa ini mengacu pada prasasti berupa gambar surya sangkala dan Keraton Sangkala yang terdapat pada pintu Pendopo Jinem menuju ruang Prabayasa berupa “matahari” yang berarti 1, “wayang Dharma Kusuma” yang berarti 5, “bumi” yang berarti 1 dan “bintang kemangmang” yang berarti 0. Jadi, chandr sangkala itu menunjukan angka tahun 1510 Šaka atau 1588 M.

Sementara sumber lain menyebutkan bahwa angka pembangunan Keraton Kanoman adalah bersamaan dengan pelantikan Pangeran Mohamad Badridin menjadi Sultan Kanoman dan bergelar Sultan Anom I, yang terjadi pada tahun 1678-1679 M. Salah satu bangunan penting yang terdapat dalam komplek Keraton Kanoman adalah Witana. Witana berasal dari kata “awit ana” yang berarti bangunan tempat tinggal pertama yang didirikan ketika membentuk Dukuh Caruban.

Dalam kakawin Nagarakertagama bangunan witana adalah berupa panggung kayu sementara dengan atap tanpa dinding tempat persemayaman raja sementara waktu. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Cirebon adalah salah satu kota tua di Pulau Jawa. Menurut Babad Cerbon yang diindonesiakan oleh Pangeran Sulaeman Suleendraningrat (1984), Cirebon bermula dari pendukuhan kecil. 

Pendukuhan ini telah terbentuk sejak abad ke 15, yaitu sekitar 1 sura 1367 Hijriah atau 1445 M dilengkapi pula dengan Keraton Pakungwati dan Tajug Pejlagrahan yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana (penerus/pengganti Ki Gede Alang-alang) pada tahun 1452 M. Pada masa itu dukuh ini telah berkembang dengan penduduk dan mata pencaharian yang beragam. Oleh karena itu, dukuh ini juga pernah disebut caruban yang berarti campuran. Keraton Kanoman merupakan satu kompleks dengan denah empat persegi panjang dari arah utara – selatan.

Karena tidak ada gerbang atau pintu masuk layaknya sebuah obyek wisata, kami memacu kendaraan hingga ke dalam komplek Keraton. Melewati gerbang-gerbang cantik di bagian depan yang kiranya merupakan gerbang dan bagian depan Keraton. Selepas memarkir kendaraan, kami langsung berkeliling. Kami mengambil arah keluar tempat bangunan terbuka seperti gerbang dan bagian depan keraton yang tadi kami lewati.


Di bagian dalam setelah melewati gerbang, sebuah kawasan asri dengan pepohonan rindang terdapat beberapa bangunan. Sebuah bangunan yang kami yakini sebagai Pendopo Keraton (persis seperti beberapa keraton di Jawa) langsung menarik perhatian, kemudian ada Masjid kecil atau Tajug atau Langgar yang merupakan bangunan tempat shalat yang sangat sederhana berukuran 6 x 8 x 3,5 m memiliki lantai tegel, dinding tembok dan atap genteng dengan bentuk limasan. 


Tepat disebelah langgar terdapat tempat Lonceng disebut juga gajah mungkur. Bangunan ini menghadap ke timur, berfungsi sebagai tempat menyimpan lonceng dengan ukuran 3 x 2 x 2,5 m. Lantainya hanya merupakan plur semen. Dinding tembok dan atapnya genteng. Selain itu ada beberapa bangunan terbuka serta bangunan dengan tulisan Museum Benda Bersejarah yang dijaga dua orang layaknya penerima tamu. 



Jujur dengan sedikit kebingungan karena kompleks Keraton tampak seperti kurang tertata dan tak terurus. Padahal masih tampak kemegahan dan keanggunan kompleks ini sebagai warisan sejarah masa lalu yang harus dijaga dan dilestarikan. 

Pertanyaan saya tadi terjawab saat hendak memasuki sebuah bangunan yang berada disebelah kanan bangsal jinem (bangunan terbuka) yang tampaknya merupakan musium benda-benda bersejarah dari Keraton Kanoman. Menurut yang menjaga pintu museum tersebut, Kawasan Keraton Kanoman ini memang dikelola secara mandiri oleh pihak keluarga sehingga ada kesulitan untuk melakukan perawatan dan pelestarian. Haduuuh sayang sungguh sayang yaa... Semoga Pemerintah dan Pemerintah Daerah mau memberikan perhatian lebih, terlebih kawasan ini bisa dikategorikan sebagai Cagar Budaya yang wajib dijaga.


Saat masuk ke komplek tidak ada loket untuk membayar tiket masuk atau sejenisnya, namun untuk melihat benda-benda bersejarah di dalam bangunan semacam musium kecil tersebut dikenai Rp.15.000,- per orang. Di dalam museum tersimpan beberapa benda bersejarah. Yang paling fenomenal adalah Kereta Paksi Naga Liman. Versi sejenis di Keraton Kaspeuhan disebut Singa Barong. Kereta Paksi Naga Liman ini ada dua, versi aslinya dan versi replika. Selain itu ada kereta Jempana dan seperangkat alat gamelan saketi. Berbagai benda bersejarah lainnya juga ada ddalam Musium ini. Benda-benda tersebut diantaranya hanya dikeluarkan untuk peringatan acara-acara ritual tertentu.  


Paksi Naga Liman merupakan kereta kebesaran Kerajaan Cirebon masa lalu yang berbentuk hewan bersayap, berkepala naga dan berbelalai gajah. Paksi Naga Liman merupak symbol hibiditas budaya Cirebon yang terbentuk dari tiga kebudayaan besar, Kebudayaan Islam yang disimbolkan oleh Burung/Buroq, Kebudayaan  China yang direpresentasikan oleh Naga dan Budaya Hindu diwakili oleh Gajah. Kereta ini dibuat pada Tahun 1350 Saka atau 1428 Masehi. Terakhir kali digunakan pada masa pemerintahan Sultan kanoman VIII di tahun 1933.


15 comments:

  1. Wisata keraton seru juga ya Mak, selain nambah pengalaman nambah wawasan juga. Kalau ke Cirebon mau main kesini ah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak..
      Wisata sejarah seru juga kok. Serasa menembus lorong waktu kembali ke masa lalu. Ayo ke keraton

      Delete
  2. main ke cirebon kayanya seru nih aku belum pernah

    ReplyDelete
  3. Tau keraton ini waktu ada syuting uji nyali ditv hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah pernah masuk uji nyali jg toh.. yg lbh spooky sih keraton kasepuhannya mak.

      Delete
  4. Keratonnya bagus nih :) Saya pernah jalan2 ke cirebon, tp blm pernah kesini.

    VONNYDU

    ReplyDelete
  5. maaf mak mau koreksi, dibagian yang tertulis "Pendukuhan ini telah terbentuk sejak abad ke 15, yaitu sekitar 1 sura 1367 Hijriah atau 1445 M". sepemahaman saya jarak antara tahun Masehi dan tahun hijriah sekiar 600 tahun mak. Rasulullah Muhammad lahir tahun 623 M,bisa dilihat di sirah..dan saat itu belum ada penanggalan tahun hijriah. 40 tahun kmudian Muhammad menjadi Nabi dan 13 tahun kemudian baru hijrah ke Madinah. btw, ulasannya menarik mak.menambah pengetahuan tentang sejarah Cirebon..sukses mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih koreksinya mak Eva Arlini, ini saya ambil dr sumber yang sy dapat kmrn. mmg ada bbrp sumber rujukan mrk membuat semcam pamlet yg diketik sendiri dan juga da dr dinas budpar jawa barat. Sy gak analisa krn takut juga salah klo mengubah2 jd memasukkan sbg mana tertulis di sumber tersebut. tapi klo pake hitungan yang mak Eva jelaskan, bisa jadi mrk salah menghitung ya??? *Allahu A'lam"

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. Oh iya klo dr patokan tahun masehinya seharusnya brp hijtiyahnya ya mak?? jangan sih ini harusnya bukan tahun hijriyah tapi tahun saka. biasanya penghitungan di keraton memakai hitungan tahun saka . *Allahu'alam

      Delete
    4. maaf mak saya mau ralat, Nabi Muhammad Lahir tahun 570 M atau 12 Rabiul Awal tahun gajah. tahun 610 Masehi Nabi Muhammad jadi Nabi dan tahun 623 Masehi Nabi hijrah. Maka tahun 1 Hijriah sama dengan tahun 623 Masehi mak. berarti kalo patokannya tahun 1445 Masehi sama dengan tahun 813 Hijriah mak..sepertinya emang gitu mak, perhitungan masa kerajaan dulu pakai tahun saka. Wallahu a'lam

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.