Friday, June 17, 2016

Ikhtiar Menghadapi Kepastian Yang Tidak Pasti

Ikhtiar Menghadapi Kepastian yang Tidak Pasti. Hidup akan berakhir dengan sesuatu yang pasti, kematian. Setiap yang hidup akan sampai pada satu kondisi ini. Sayangnya kepastian ini tak pernah bisa kita ketahui kapan pastinya akan tiba. Lalu kita harus bagaimana? Tawakkal. Tawakkal adalah jalan keluar dari segala hal yang kita anggap sebagai sesuatu yang tidak bisa kita duga datangnya meski ia pasti datangnya.



Janji Allah, Dia akan mencukupkan (keperluan) mereka yang bertawakkal. Tawakkal adalah perbuatan hati yang menyandarkan diri hanya kepada Allah. Namun jangan lupa, dalam tawakkal ada ikhtiar, usaha, atau upaya. Lebih tepatnya ikhtiar, usaha, atau upaya yang diridhai oleh-Nya. 
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath Tholaq: 2-3).
Sebetulnya yang menjadi concern dari ketiadaan kita kelak, mungkin bukan tentang diri kita sendiri. Adalah penting mempersiapkan diri untuk bekal perjalanan abadi. Namun saya yakin sebagian besar kita, terutama yang saat ini berada di usia produktif, memiliki anak-anak, baik berpenghasilan maupun tidak berpenghasilan, menopang keberlangsungan ekonomi rumah tangga maupun mensupport sang penopang utama, jauh lebih concern terhadap mereka yang kelak akan (pasti) kita tinggalkan. Anak-anak kita.

Jujur, concern inilah yang menjadi alasan mengapa kami melihat urgensi berasuransi. Saya dan suami bukan terlahir dari keluarga yang berada. Lahir dari keluarga biasa namun cukup, alhamdulillah. Melihat perjuangan orang tua kami masing-masing membesarkan, mendidik, dan menyekolahkan kami. Alhamdulillah mereka diberi umur panjang menyaksikan setapak demi setapak perjalanan hidup kami. Ayah saya meninggal 15 tahun lalu, saat saya baru saja menyelesaikan sarjana S1.

Kami berdua mendapat pendidikan hingga ke universitas dengan perjuangan yang cukup luar biasa. Saat itu biaya pendidikan tinggi negeri masih sangat terjangkau bagi sebagian orang. Namun cukup berat bagi orang tua kami. Biaya anak-anak saya di SD sekarang berkali-kali lipat dari biaya kuliah kami dahulu. Bayangkan biaya kuliah mereka kelak. Itulah kehidupan, perputarannya adalah pasti.

Melihat tantangan masa depan, tentu kamipun tak mau kalah dari orang tua kami yang berusaha keras untuk memenuhi setidaknya pendidikan bagi mereka.Salah satunya dengan berikhtiar menghadapi sesuatu yang pasti datangnya namun tidak pasti kapan waktunya. Demi masa depan anak-anak tentunya. Sekali lagi ikhtiar. Salah satunya dengan menyiapkan proteksi , menyiapkan payung sebelum hujan.

Apa Bedanya Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah?

Akhir pekan lalu saya berkesempatan merefresh pengetahuan tentang pentingnya bersiap menyikapi kepastian yang datangnya tidak pasti  Bertepatan di mana Asuransi Jiwa AIA baru saja meluncurkan produk barunya yang merupakan Asuransi Jiwa dengan prinsip syariah. Oh iya, sudah tahu apa bedanya antara asuransi konvensional dan syariah?

Saya coba sarikan beberapa perbedaannya ya, ini menurut pendapat pakar ekonomi syariah yang kebetulan dosen saya dulu, Prof. Dr. Drs. M. Amin Summa, SH, MA, MM, dalam bukunya: "Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional." Ada beberapa perbedaan mendasar antara sistem asuransi konvensional dan asuransi syraiah yakni:

Pertama, secara prinsip dasar konsep pengelolaanya berbeda. Jika asuransi konvensional menggunakan konsep risk transfer, yakni memindahkan risiko dari nasabah (peserta) kepada perusahaan (pengelola) maka asuransi syariah menggunakan konsep risk sharing yaitu  pola saling menanggung risiko antara pengelola dan peserta (at takaful atau at tadhamun).


Kedua, dari sisi akad. Beberapa akad yang digunakan dalam proses ausransi syariah adalah tabarru’ (sumbangan kemanusiaan/dana sosial) dan ta’awun (tolong menolong), serta akad wakalah dan mudharabah (bagi hasil). Sedangkan pada asuransi konvensional, akadnya adalah jual beli sehingga ada unsur al gharar (spekulatif).

Ketiga, dari sisi kepemilikan dana. Dalam asuransi konvensional dana yang dibayarkan nasabah  (premi) menjadi menjadi milik perusahaan secara penuh, khususnya jika peserta tidak melakukan klaim apapun selama masa asuransi. Sedangkan dalam asuransi syariah dana tersebut masih menjadi milik peserta, setelah dikurangi pembiayaan dan fee (ujrah) perusahaan. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah (wakil) yang digaji oleh peserta (al Wakalah bi al Ajri). Bisa juga perusahaan sebgai pengelola dana (mudharib) dalam akad mudharabah (bagi hasil). Bahkan ada perusahaan yang mengembalikan underwriting surplus pengelolaan dana tabarru’nya kepada peserta selama tidak ada klaim pada masa asuransi.



Kempat, dari sisi obyek. Asuransi syariah hanya membatasi pengelolaannya pada obyek-obyek asuransi yang halal dan tidak mengandung syubhat. pertimbangan halal dan haram tentu tidak ada dalam pengelolaan obyek asuransi konvensional karena tujuannya hanya keuntungan.

Kelima, dari sisi investasi dana dari kumpulan premi dari peserta. Perusahaan asuransi syariah menginvestasikannya  pada lembaga keuangaaan yang berbasis syariah atau pada proyek-proyek yang halal yang didasarkan pada sistem upah atau bagi hasil. Adapun asuransi konvensional pengelolaan investasinya biasanya berdasarkan pada sistem bunga

Keenam, dari sisi pembayaran klaim. Pada asuransi syariah pembayaran klaim diambilkan dari rekening tabarru’ (dana sosial) dari seluruh peserta, yang sejak awal diniatkan untuk diinfakkan untuk kepentingan saling tolong menolong bila terjadi musibah pada sebagian atau seluruh peserta. Sedangkan pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambil dari dana perusahaan karena sejak awal perjanjian bahwa seluruh premi menjadi milik perusahaan dan jika terjadi klaim, maka secara otomatis menjadi pengeluaraan perusahaan.

Ketujuh, dari sisi pengawasan, terdapat Dewan Pengawas Syariah (DPS) pada asuransi syariah sebagai lembaga yang melegitimasi kesyar-'ian produk dan proses asuransi, sesuatu yang tidak ada pada asuransi konvensional.

Kedelapan, dalam asuransi syariah ada kewajiban untuk mengeluarkan zakat sebagaimana ketentuan syariat Islam. Adapun dalam asuransi konvensional tidak dikenal istilah zakat.

Berdasarkan delapan poin pembeda tersebut tentu kita dapat melihat dan memahami lebih lanjut apakah suatu produk asuransi syariah memang sudah syar í. Karena antara asuransi konvensional asuransi syariah hakikat bukan hanya beda nama namun memiliki perbedaan mendasar seperti akad, konsep pengelolaan, dan seterusnya. Untuk menentukan pilihan pengetahuan produk menjadi sangat penting.

Asuransi Jiwa AIA dengan prinsip Syariah yakni AIA Sakinah Assurance misalnya menawarkan perlindungan jiwa sekaligus investasi sebagai perencanaan keuangan dengan dasar pengelolaan sesuai dengan prinsip syariah dengan beberapa keunggulan yakni:



  • Tenang-> Pengelolaan asuransi sesuai prinsip syariah: saling menolong, melindungi dan menanggung risiko antar sesama Peserta asuransi jiwa syariah.
  • Tenteram -> Memberikan  perlindungan jiwa dan kecelakaan dengan beragam pilihan Asuransi Tambahan.
  • Optimal -> Perencanaan keuangan yang maksimal dengan berbagai pilihan jenis investasi berbasis syariah. 
  • Bahagia -> Dapatkan kesempatan memperoleh Manfaat Loyalitas, Surplus Underwriting dan jaminan Polis tetap berlaku dalam tujuh Tahun Polis pertama. 


Jadi Produk asuransi syariah ini memberikan manfaat proteksi sekaligus investasi. Manfaat proteksi meliputi Santunan Meninggal (Uang Pertanggungan) hingga usia 80 tahun, Santunan Meninggal Kecelakaan hingga usia 70 tahun dan Santunan Meninggal Kecelakaan di  dalam perjalanan ibadah Haji dan/atau dalam transportasi umum hingga usia70 tahun. Adapun manfaat investasi kita akan mendapatkan 100% dari nilai dana investasi yang terbentuk dari kontribusi yang diinvestasikan.

Selain manfaat proteksi dan investasi, ada beberapa manfaat asuransi tambahan, yaitu: pertama: asuransi kesehatan komprehensif yang memberikan penggantian biaya selama di rawati napdi Rumah Sakit rekanan di seluruh Indonesia dengan sistem Cashless. Kedua, asuransi perlindungan terhadap penyakit kritis yang memberikan100% santunan apabila terdiagnosa 32 jenis penyakit kritis. Ketiga, Asuransi perlindungan terhadap Cacat Tetap Total dan Penyakit Kritis yang  memberikan pembebasan pembayaran kontribusi apabila Peserta menderita risiko.


Kenali dan Pahami Produk yang Kita Pilih

Hal yang penting dalam memilih suatu produk asuransi adalah memperhatikan dengan seksama syarat dan ketentuan yang ada. Jika perlu kita bisa berkonsultasi dengan ahli dan membaca ringkasan produk serta materi pemasaran sebelum memutuskan memilih produk asuransi tersebut. Syarat dan ketentuan yang perlu diperhatikan misalnya terdapat biaya-biaya yang dibebankan pada polis dan biaya untuk perlindungan asuransi yang biasanya sudah diperhitungkan ke dalam harga unit masing-masing dana investasi dan bahwa biaya-biaya untuk produk ini tidak dijamin. 

Selain itu penting untuk mengetahui dan memahami bahwa nilai dana investasi pada  polis kita tidak dijamin dan dapat berfluktuasi sesuai dengan kinerja dana investasi yang dipilih. Potensi risiko dalam berinvestasi menjadi tanggung jawab kita sepenuhnya. Kinerja dana investasi tidak dijamin dan nilai unit bisa naik atau turun. Kinerja masa lalu tidak dapat dijadikan ukuran kinerja investasi di masa yang akan datang. Penting untuk memahami, jika perlu menanyakan hal ini kepada pihak pemasaran. Pengetahuan yang cukup merupakan syarat yang harus kita tempuh agar tidak keliru memilih produk sesuai dengan kebutuhan kita.

To sum up, bukan kecemasan yang menjadi alasan kita berikhtiar menghadapi kepastian yang tidak pasti, tapi karena kita bertawakkal. Ikhtiar dalam tawakkal. 

64 comments:

  1. Pakai apapun yg berbasis syariah mmg lebih tenang di hati ya mbak :)

    ReplyDelete
  2. Berarti kayak di PHP ya mbak, kepastian tapi tidak pasti... Semoga asuransi apapun yang menjadi pilihan, dapat menjadikan hidup kita berkah. Amin. Karena ini urusannya dunia dan akhirat. Iya g sih mbak, hehehehe...

    Best regard,
    Adi Pradana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda ah..klo php kan sbtlnya ga ada kepastian mas hahahaha

      Delete
  3. Ngomongin Asuransi memang harus paham betul ya Mba, manfaat dan prosedurnya. Jangan sampai nanti merasa dizolimi. Tapi, sistem syariah benar-benar banyak dicari sekarang, biar harta kita juga ga kena imbas dosa ya mba:)

    Sekarang jadi tahu deh asuransi syariah cara kerjanya gimana. Terima kasih mba sharenya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mba..
      Jd smacam cek lis jg sdh syariah atau blm produk2 yg pake brand syariah

      Delete
  4. Asuransi syariah uangnya bisa di pastikan di putar untuk usaha atau bisnis yang terjamin halal ya mba..itu penting banget itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya spt itu mba..
      DPS yg bwrtugas memastikannya

      Delete
  5. Asuransi syariah uangnya bisa di pastikan di putar untuk usaha atau bisnis yang terjamin halal ya mba..itu penting banget itu.

    ReplyDelete
  6. saya juga migrasi mmulai melirik asuransi syariah, tapi memang belum deal sih maih dilihat2, makasih pencerahannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pelajari betul2 kba..dan jangan segan banyak2 bertanya

      Delete
  7. Kepastian dimasa yg akan datang memang ga pasti yaa.. Asuransi bs jadi pilihan u berjaga2, dan yg utamanya u anak. :)

    ReplyDelete
  8. iya, tapi banyak juga yg tidak menyarankan ikut asuransi jiwa meski sudah syariah ya, Mak. katanya rugilah, itulah.
    tapi kalau saya pribadi, asuransi jiwa penting apalagi kalau sudah berbasis syariah, lebih enak lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kembali ke pribadinya mba..memang sih ada untung ruginya.
      Investasi kan ga selalu untung jg yaa

      Delete
  9. tulisan yang sangat menggugah sekali,,,makasih mbak

    ReplyDelete
  10. Berinvestasi melalui asuransi saat ini sudah menjadi kebutuhan.. Kalau ada yang syariah itu lebih bagus lagi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setidaknya ada unsur insurrancenya ya mba

      Delete
  11. menenangkan.. klo udah tenang, insy berkah :)

    ReplyDelete
  12. Bagus juga program asuransinya.

    ReplyDelete
  13. semakin tenang berinvestasi secara syariah yah Mba, gak perlu deg-degan lagi tentang kehalalan/keharamannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setidaknya ada DPS yg mengawasi kesyar'iannya mba

      Delete
  14. Semoga dengan yang serba syariah, kehidupan kita bertambah berkah, ya Mbak. Jadi gak takut dengan yang riba.

    ReplyDelete
  15. wahhh baca artikel ini jadi tercerahkan, makasih ya mba Ophiii...

    ReplyDelete
  16. Makin banyak yg saya baca tentang asuransi syariah, makin saya paham bedanya dengan yang non syariah. Tfs mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mba...semakin paham smakin baik tentunya

      Delete
  17. Meskipun tidak pasti, penting bagi kiya untuk memahami agar mudah menghadapinya kelak. Tfs tuk asuransi syariahnya. Jadi makin paham sekarang

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah mba ophi menjelaskan hal yg pengen sy tau dengan lebih mudah di cerna. Sy pnh baca bbrp versi lain bahasa nya berat banget. Atau saya yg lemot yak..hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...alhamdulillah kalau begitu mba...

      Delete
  19. Bener banget, mb. Ngadepin yg ga pasti2 itu harus ada protectnya. Almarhum pakdheku pakai asuransi dan alhamdulilah pas meninggal jadi ga ninggalin beban untuk biaya rumah sakitnya. Karena semuanya ditanggung asuransi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba...semacam well prepared utk kitanya sendiri jg

      Delete
  20. Asuransi AIA ini manfaatnya banyak banget ya mbak

    ReplyDelete
  21. Aku udah setahun punya asuransi jiwa AIA Sakinah. Sebelumnya suamiku punya asuransi jiwa AIA yang biasa. Dalam jangka waktu 7 tahun kalo kita gak kenapa-napa, uangnya bisa diambil. Asuransi tetap jalan dan bisa dibayar terus preminya. Sejauh ini menyenangkan dan tidak pernah ada hambatan dengan korporat ini. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Koreksi, belum setahun dink masih beberapa bulan karena suransi AIA Sakinah ini juga baru.

      Delete
    2. Alhamdulillah..smoga lancar terus ya mba Haya

      Delete
  22. Mungkin perlu mencoba asuransi yg berbased syariah☺

    ReplyDelete
  23. Jangan lupa juga asuransi untuk yang lebih lama . Sedekah selalu
    Hipnoterapi Semarang

    ReplyDelete
  24. waaah informatif banget mba ophiiii..
    aku juga lagi mempertimbangkan buka asuransi buat ahza. dan memang pengennya syariah supaya hati tenang.
    makasih ya infonya, buat bahan pertimbangan aku.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah...silahkan ditimbang2 mbaa

      Delete
  25. Asuransi emang penting, biaya kuliah anakku yg sulung aja 15 kali dari biaya kuliahku dulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah kebayang mba berapa nanti biaya kuliah anak2ku hiks

      Delete
  26. Perlu Asuransi karena hidup ini serba tak pasti!

    ReplyDelete
  27. ooh... jadi Asuransi AIA ini menerapkan sistem syariah ya mbak...
    jadi aman nih milih asuransi yg syariah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada yang produk baru pk sistem syariah mba

      Delete
  28. saya belum pernah ikut asuransi Mba.. masih khawatir, hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dipelajari aja dulu mba...
      Smp yakin...

      Delete
  29. Saya juga ikutan asuransi.Soalnya almarhum bapak ibu saya juga sudah ikutan asuransi sejak saya masih kecil.Almarhum nenek saya juga sudah ikut asuransi sejak aku masih kecil.Jadi saat beliau sakit stroke dan meninggal pas aku SMA semua sudah dicover asuransi.Anak anak juga sudah aku ikutin asuransi syariah sejak usia mereka beberapa bulan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah sudah well informed brarti ya mba di keluarga

      Delete
  30. Baru tahu nih Mbak asuransi syariah. Saya baca berkali-kali perbedaannya, kok terasa ngademin banget ya...

    Jadi merasa saat pinjsm uang ke bank syariah yang ada di kampung, detail dan banyak istilah (bahasa Arab) yang bagi saya awam, tak familiar.

    Makasih infonya. Saya harus banyak belajar dan menghfalkannya, hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang banyak istilah fiqh yg gak bs otomatis disamakan dg sistem komvensional teh...
      Krn mmg hamikatnya beda

      Delete
  31. Makasih sharingnya Mba Ophi.. Lengkap banget! Emang yg syariah bikin tenang :)

    ReplyDelete
  32. TFS Mba Ophi. Saya sendiri mirp dg Mba Ophi. Ayah meninggal saat saya semester 2 malah. Perjuangan selesai S1 itu rasanyaaa... ruarrr biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulilah perjuangan berakhir manis ya mba

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.