Thursday, July 21, 2016

Ibu: Madrasah bagi Anak-Anak sekaligus Pembelajar dari Anak-Anak


"Memiliki Izzan di hidup saya adalah pengungkapan sebuah rahasia. Bersama Izzam, Allah meminta saya menjalani hidup dengan lebih seksama, lebih teliti, dan lebih penuh. Kehadiran Izzan membuka mata saya akan banyak hal yang sepertinya telah saya abaikan terlalu lama."(hal 1)

Postingan ketiga dari #BookReviewSeries Buku Melihat Dunia akan mengupas lebih dalam tentang sosok Ibu dari Izzan, Ibu Yanti Herawati. Well, membaca buku "Melihat Dunia" seperti tengah ikut menyusuri perjalanan seorang Ibu menemukan "jati diri" anaknya sekaligus mencari jati dirinya sendiri. Buku yang berawal dari catatan seorang Ibu yang dibagikan lewat notes media sosial facebook ini memberikan inspirasi bagi Ibu (dan calon Ibu) tentang bagaimana belajar menjadi Ibu dari anak-anak yang kita kandung, lahirkan, dan besarkan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada mereka sebagai sebuah paket.

Menjadi Ibu tidaklah mudah meski tidak ada kata sulit yang harus dijadikan pembenaran. Melihat Ibu Yanti Herawati menjalani 8 tahun menemukan keluarbiasaan Izzan anaknya memberikan banyak inspirasi dan semangat bagi saya. Betapa besar peran seorang Ibu dalam kehidupan anak-anaknya. Peran yang sangat besar justru saat menjadi sosok yang semestinya selalu ada di sekitar anak-anak di masa mereka bertumbuh dan berkembang.

Baca Juga: [Book Review] Melihat Dunia: Delapan Tahun Pergulatan Memahami Anak Gifted dengan Keluarbiasaan Ganda

Kehadiran secara fisik dengan kesiapan mental, emosional, intelegensia seorang Ibu  menjadi sangat penting untuk mendampingi dan mendukung tumbuh kembang anak yang memiliki tingkat intelgensia yang sangat tinggi di satu sisi dan kematangan emosi dan mental yang masih rawa di sisi lain. Kondisi yang merupakan paket unik ini ada dalam diri Izzan anak keduanya. Faktanya kedua anaknya yang lain, Nanda dan Fadhil memiliki potensi intelegensia yang juga tinggi.

Ibu Yanti tampaknya merasa sanksi (pada awalnya) akan mampu menerima amanah luar biasa ini. Selama 8 tahun perjalanan usia Izzan kondisi fisik, mental dan emosi Ibu Yanti pun naik turun. Kondisi eksternal seperti  masalah bisnis yang dijalaninya dan kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kepercayaan diri Ibu Yanti menjalani peran pentingnya. 

Mendapati "tantangan" dalam mendidik anak-anak yang istimewa, tampaknya Bu Yanti kemudian memilih bangkit dan kembali membenahi diri. Kesadaran bahwa anak-anaknya membutuhkannya membuat semangat dan rasa percaya diri itu muncul perlahan. Selangkah demi selangkah proses menemukan jati diri Izzan dilakukan sambil berkutat dengan memperbaiki cara pandang dan mindset terhadap dirinya. Tentu bukan hal yang mudah menjalani peran ini. Saat kondisi diri masih membutuhkan penguatan, sang Ibu dituntut untuk terus bisa memerankan perannya dengan baik.

Saya melihat Ibu Yanti (kemudian) mampu mengalahkan "diri"nya. Mengalahkan ketakutan dan kekhawatirannya demi Izzan dan suadara-saudaranya. Iya Bu Yanti sesungguhnya sudah memenangkan perang dalam bathinnya sendiri dengan mengikuti kata hati yang lain. Kata hati yang menyisakan secercah harapan.

Semua membutuhkan waktu dan proses adaptasi agar tidak terjebak dalam situsai konflik di mana Ibu Yanti seakan ingin menuntut Izzan berperilaku setara dengan kemampuan intelektualnya. Kondisi yang tidak mudah dijalani memang, mengahadapi anak yang seolah memiliki tiga jiwa dalam dirinya. Seorang anak kecil bertubuh fisik 6 tahun 8 bulan yang memiliki tingkat emosi anak 3-5 tahun dengan tingkat intelektualitas jauh di atas anak berumur 10 tahun. (hal 125)
Ibu Yanti sangat beruntung karena memiliki latar belakang pengetahuan yang linear dengan kejeniusan dan bakat anak-anaknya. Entah apakah kejeniusan dan bakat ini sesungguhnya diturunkan oleh sang Ibu. Pengetahuan yang meskipun sering Bu Yanti sangsikan dapat mengimbangi dan membimbing keluarbiasaan anak-anaknya terutama Izzan, nyatanya sangat berperan penting dalam proses belajar "ala mereka" yang telah dilakukan selama 8 tahun tersebut.

Bayangkan jika saya yang tidak punya ketertarikan dan minat (dan lemah) di bidang matematika dan sains harus mendampingi anak layaknya Izzan dengan kejeniusan di bidang tersebut. Alih-alih mensupport saya mungkin akan memporakporandakan semuanya karena keterbartasan saya. Saat membaca masa-masa mereka mulai "tanpa sadar" menjalankan metode belajar "menemukan dan mengalami", terasa seru dan menantang sekali. Discovery dan experiential learning yang dilakukan di bidang math dan science ini pasti tidak akan berjalan dengan baik jika Bu Yanti sendiri tidak cukup pengetahuan tentang keduanya. 

Lagi-lagi jangan tanya saya, kalkulus bukan pelajaran yang saya sukai. Sebagai anak sosial semua cerita proses belajar unik yang dijalankan oleh Bu Yanti dan Izzan membuat saya ternganga dan tidak henti merasa takjub. Jadi sebetulnya banyak hal yang harus disyukuri dari kondisi yang Ibu Yanti anggap sebagai kendala dan tantangan. Iya, Bu Yanti memiliki modal yang kuat dan cukup untuk mendampingi anak-anaknya mengekplore diri dan kemampuan di kedua bidang tersebut dengan lebih jauh.

Sebagai Ibu dan Guru yang memadai bagi Izzan, apa yang sudah dilakukan Bu Yanti dengan kesabaran, ketabahan, dan kemauan kerasnya tentu tidak semata-mata hanya sesuatu yang berdiri sendiri. Nyatanya dari anak-anaknya jualah (terutama Izzan), Bu Yanti banyak belajar, belajar banyak! Tidak hanya tentang math dan science namun belajar menjadi sosok Ibu yang selalu memperbaiki diri, memperbaiki semangat dan kesadaran diri. Hubungan yang indah bukan?

"Semarah-marahnya saya pada anak, saya harus bisa menjaga kontak bathin dengan anak. Sekalipun ammarah meluap, kontak bathin kami harus tetap terjaga sehingga anak tahu bahwa saya tetap sayang dan mencitainya dengan tulus. Berusahalah di dalam marah kepada anak untuk selalu mengingat anak dengan cinta. Dan di dalam kemarahan kita, si anak merasakan cinta kita. Ketiga nak itu terikat erat dengan saya, karena sifat dominan saya yang melekat kepada diri mereka. Sayalah yang paling tahu cara mendidik mereka dan mereka bergantung pada saya" ( hal 328-329)

Menjadi Ibu, bukan semata-mata sebagai guru dan pendidik anak-anak. Menjadi Ibu juga merupakan sekolah tempat kita belajar dari anak-anak. SubahanaAllah... Semangat untuk semua Ibu dengan keunikan dan keistimewaan yang ada pada anak kita masing-masing. Don't push your self too hard,! Terimalah kenyataan indah bahwa kitapun bahkan bisa belajar dari dan bersama anak-anak kita.

Jangan lupa ikuti terus ya lanjutan #BookReviewSeries karena di akhir postingan bakal ada Mini Giveaway berhadiah Buku Melihat Dunia. 

34 comments:

  1. Bener banget menjadi ibu/orang tua berarti kita menjadi sekolahan buat anak2

    ReplyDelete
  2. Setuju sekali mba. Sebagai orang tua harus menjadi contoh yang baik untuk anak-anak. Jangan sampai kita memberikan contoh yang buruk buat mereka.

    ReplyDelete
  3. Setuju sekali mba. Sebagai orang tua harus menjadi contoh yang baik untuk anak-anak. Jangan sampai kita memberikan contoh yang buruk buat mereka.

    ReplyDelete
  4. Saya sendiri juga merasakan, bahwa saya banyak belajar dan belajar banyak dari anak-anak. Contoh sepele aja, anak minta dibuatin donat. Sebelumnya enggak bisa buat, tapi karena anak minta jadi ya kita belajar membuatnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba...menjadi ibu itu kita juga bener sekolah ke anak2 jadinya

      Delete
  5. Ya, setuju dengan judulnya. jadi ibu harus bisa menjadi madrasah yang terbaik . semoga kita semua mampu memberikan ilmu pengetahuan bermanfaat dan menjadikan anak berahlak mulia, aamiin

    ReplyDelete
  6. sangat menarik, alhamdulillah di Jogja sudah ada ojek bagi penyandang difabilitas. semoga yang lain bisa menyusulnya :)

    ReplyDelete
  7. Ya Allah bu yanthi luar biasa sekali...penasaran sama bukunya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. baca bukunya yyuk mba..ada GA lho nanti berhadiah buku ini

      Delete
  8. ibu kan panutan pertama anak ya, makanya ibu ya harus menajdi teladan bagi anak2nya

    ReplyDelete
  9. Saya gak kebayang kalo saya yg di titipi izzan.. bukan madrasah tp jadi setaraf dosen utk bs mengimbangi kecerdasan izzan. Penasaran bgt sm isi bukunya keseluruhan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba klo aku bakal terseok2 kali yaa..aku ga mudeng sm matematika n sains soale

      Delete
  10. Jadi madrasah buat anak itu berat banget mba, bantu membimbing peer anak-anak saja saya kadang gagap, udah lupa..ihiyyr deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi..klo bantuin pR anak buru2 nanya om google ya mba

      Delete
  11. Untuk jadi madrasah bagi anak2, yang jadi tantangannya bahwa kita emang harus terus sadar jadi pembelajar. Terus jadi pembelajar dikala kondisi kita tetap harus maksimal jadi istri dan ibu sekaligus. Semangat mak emak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak, cemunguuuuth keep sane mommies!

      Delete
  12. Untuk jadi madrasah bagi anak2, yang jadi tantangannya bahwa kita emang harus terus sadar jadi pembelajar. Terus jadi pembelajar dikala kondisi kita tetap harus maksimal jadi istri dan ibu sekaligus. Semangat mak emak!

    ReplyDelete
  13. seorang Ibu memang akan tetap menjadi malaikat untuk anak-ankanya. Cerita yang sangat menyentuh, perjuangan seorang ibu untuk anaknya. Memang sangat tidak mudah untuk menjadi seorang ibu apalagi di posisi ibu Yanti menghadapi Izzan. Tetapi , Izzan tetaplah anknya, titipan dari surga. Mau tidak mau orangtua harus menjaga amanah dengan cara menjaga dan mendidik anak bagaimanapun rupanya.

    ReplyDelete
  14. That's why, surga adalah di bawah telapak kaki Ibu. Dan Rasulullah meninggikan beliau tiga tingkat di atas Ayah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kiranya demikian lah salah satu alasannya

      Delete
  15. Jadi wadah untuk Abraham dengan kasus yg mirip, berattt rasanya selalu ingin tarik nafas panjang, semoga para orang tua bisa memiliki kesabaran untuk anak-anak dalam segala kelebihan dan kekurangannya

    ReplyDelete
  16. Kadang saya sendiri masih hilang rasa sabar hiks. Kalo tahu Bu Yanti dan Izzan rasanya emosi saya tidak ada apa-apanya :(

    ReplyDelete
  17. Absolutely agree, kalo ibu adalah madrasah pertama bagi putra-putrinyaaa :))

    ReplyDelete
  18. memiliki anak membuat hidup Sang Ibu lebih penuh dan lebih saksama, sarat bgt maknanya mba, tiba2 hatiku piluu :(

    ReplyDelete
  19. Menjadi Ibu, bukan semata-mata sebagai guru dan pendidik anak-anak. Menjadi Ibu juga merupakan sekolah tempat kita belajar dari anak-anak." suka sama kalimat ini, jadi mendidik sekaligus belajar dari anaknya :)

    ReplyDelete
  20. Bener bangett.. Jelas saja surga ada di bawah telapak kaki ibu. Melihat perjuangan dan pengorbanan ibu benar-benar mengharukan bikin nangis. :")

    ReplyDelete
  21. Aku harus banyak belajar nih dari Bu Yanti, gimana mengelola emosi, hiiks...mengadapi 3 anak dengan kondisi yang normal aja kadang masih kesulut emosi negatif, hiiks...

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.