Friday, March 16, 2018

7 Fakta tentang Jepang Yang Membuat Saya "Surprise"


Ternyata ada banyak hal yang membuat saya cukup terkaget-kaget dengan beberapa fakta yang saya lihat dan alami langsung saat berkunjung ke Jepang, tepatnya Osaka dan Kyoto beberapa waktu lalu.Entah ini memang saya yang agak ndeso, kudet, atau...ah entahlah. Tapi melakukan perjalanan ke suatu tempat baru untuk pertama kalinya (bahkan kadang untuk sekian kalinya sekalipun) menemukan hal-hal baru selalu menjadi warna cerita tersendiri.


Well, jadi mau cerita kalau beberapa tahun lalu saat melakukan perjalanan ke Washington DC untuk suatu training. Saya yang saat itu menggunakan pesawat ANA airlines, harus transit sesaat di Narita Airport. Saat pesawat mulai persiapan unttuk posisi landing, saya segera mengalihkan perhatian ke arah jendela pesawat. Beruntung saat itu saya duduk di kursi dekat jendela. Posisi favorit sebetulnya. 
Saya yang takut ketinggian ini sering menjadikannya sebagai semacam teraphy bahwa menikmati alam ciptaan tuhan dari ketinggian itu sensasinya luar biasa, bahkan meskipun hanya menikmati gumpalan awan putih yang demikian menggoda untuk disinggahi. Posisi duduk ini membuat saya belajar meyakinkan diri bahwa tak perlu ada yang ditakutkan atau dikhawatirkan berada di posisi ketinggian. 

Eits, kembali ke cerita tersebut, saat pesawat mulai mendekati airport dari kejauhan saya melihat tanah "Jepang". Tampak banyak titik hijau di tengah belantara abu-abu pencakar langit. Hmm rupanya semakin dekat semakin jelas. Seperti lahan-lahan yang ditanami berbagai jenis tanaman. Waah di tengah belantara pencakar langit ada pertanian juga ya? Hmm urban farming mungkin yaa. Keren, begitu gumam hati saya. Lalu bisik hati saya berlanjut. "Suatu hari saya akan ke Jepang, insyaAllah". Bukan hanya numpang pipis di toilet bandaranya saja :D. Iya transit yang sangat sebentar hanya berganti pesawat dan saya hanya sempat ke toilet sebelum akhirnya harus mencari gate untuk penerbangan selanjutnya. Bahkan saya tak sempat menikmati kemegahan Narita Airport saat itu.


Alhamdulillah, atas izin Allah akhirnya saya bisa ke Jepang. Meski Jepang bukan salah satu negara paling ingin saya kunjungi di bucket list saya, tapi siapa sih yang tidak ingin ke Jepang? Negara yang sangat unik dan khas dalam berbagai halnya. Meski sudah mencoba mencari beberapa info tentang Jepang namun tetap saya saya menemukan fakta-fakta baru yang cukup membuat saya surprise.


1. Orang Jepang Super Ramah


Saya dan kita mungkin sudah sering mendengar tentang keramahtamahan orang Jepang. Naah bukan hanya ramah mereka ternyata super ramah lhoo. Saya pikir kita juga orang Indonesia kan sering disebut-sebut sebagai negara yang ramah tamah. Naah faktanya kan ya, tergantung pada orangnya sih. Ada yang memang aslinya ramah dan ada juga yang jutek dan cuek-cuek juga. Eh tapi kalau orang Jepang ini ramahnya keterlaluan deh. hahahaha.
Pak Yoshi, -  Yoshioka San - driver yang mengantar dan menemani kami selama tour di Jepang itu contoh konkritnya. Ketika kami baru masuk ke mobil dia akan menyapa kami semua, (satu satu lhoo ya) dengan ucapan selamat pagi atau selamat siang. Satu per satu sambil dia memandang wajah kami dan membungkukkan badan. Pada saat kami akan turun dari mobil saat tiba di spot tertentu, dia juga akan melakukan hal yang sama. Memalingkan badannya ke arah kami lalu menyapa kami satu persatu. Itterrashai katanya. Maksudnya selamat Jalan. Semua disapa demikian. Saat kami kembali ke mobil juga dia melakukan hal yang sama. Waduuuh luar biasa yaa. Hihihi orang kita sekalipun gak seramah itu ya.


2.  Yukata dan Kimono


Pakaian tradisional Jepang yang saya kenal cuma Kimono. Hmm ya pokoknya baju kimono itu yang biasa dipakai Oshin di film TVRI zaman saya kecil dulu. Ketahuan deh angkatan Dilan ya. Naah ternyata selain Kimono ada juga Yukata. Keduanya sama-sama merupakan pakaian tradisional Jepang. Kalau dilihat sekilas mungkin tidak terlalu tampak bedanya. Padahal ada beberapa perbedaan yang cukup signifikan antara Kimono dan Yukata.

A post shared by OPhi Ziadah (@ophiziadah) on


Dari sisi bahan, maka bahan Kimono jauh lebih mewah, exclusive dan mahal. Selain sutra bahan yang digunakan untuk membuat Kimono  adalah sejenis satin yang licin, tebal, dan tampak mewah sedangkan Yukata biasanya dari bahan yang lebih tipis seperti katun. Untuk motifnya Kimono biasanya lebih elegan dan mewah sedangkan Yuka umumnya didominasi oleh motif bunga-bunga dan warna yang ceria. 

Kimono juga lebih tebal dan terdiri dari beberapa lapis. Modelnya juga lebih ribet ketimbang Yukata yang jauh lebih simpel dikenakan. Kabarnya untuk menggunakan Kimono bisa memakan waktu satu jam lebih. tentu saja memakainya memerlukan bantuan orang lain. Untuk memakai Yukata tidak membutuhkan waktu selama itu dan lebih simpel dikenakan.

Kimono biasa digunakan untuk acara-acara resmi seperti pernikahan, graduation, pesta dan lain-lain. Umumnya juga digunakan saat musim dingin kareba bisa memberi efek hangat pada pemakainya. Untuk Yukata dipakai dalam banyak momen keseharian. Saat jalan-jalan di musim panas dan bukan untuk acara resmi, para remaja putri dan wanita Jepang banyak menggunakan Yukata. Selain lebih tipis dan lebih simpel juga warna-warnanya lebih cerah.



Jenis bahan dan model ini kemudian memperngaruhi harganya. Kimono cukup mahal dibandingkan Yukata. Baik jika kita ingin membeli maupun hanya jika ingin menyewanya. Selain itu perawatan terutama proses mencuci Kimono jauh lebih sulit dan membutuhkan perhatian ekstra. Itulah mengapa Kimono menajdi lebih ekslusif.

Senangnya saat ke Kyoto beberapa waktu lalu kami sempat menyaksikan pagelaran Kimono di salah satu pusat textile di Kyoto. Terlihat memang mewah dan elegannya Kimono apalagi saat dikenakan oleh wanita Jepang yang lembut dan cantik.

Baca Juga: Kang, My North Korean Bestie

3. Ume atau Plum bukan Sakura


Semua bunga dengan beragam warna di pepohonan yang tanpa daun saya pikir Sakura. Saya juga pernah ke beberapa negara 4 musim dan menyaksikan bunga sejenis, well saya pikir sakura atau cherry blossoms itu ya kita biasa sebut. Lalu saya bingung apa istimewanya Sakura Jepang kalau begitu? Saya pernah ke Beijing di musim semi. Sepanjang jalan atau di taman-taman kota bisa dinikmati keindahan bunga-bunga yang saya pikir sakura tersebut. Bentuk pohon dan bunganya sangat identik dengan Sakura. Begitu juga di Washington DC, di Taman kota di sepanjang National Mall akan sangat indah di musim semi dengan bermekarannya bunga-bunga "sakura".


Baca juga: Destinasi Wisata Sejarah di Washington DC yang wajib Dikunjungi

A post shared by OPhi Ziadah (@ophiziadah) on

Ini Ume atau Plum


Well, ternyata bunga yang sangat mirip itu memang sejenis Sakura tapi bukan Sakura. Namanya Ume atau Plum, sangat mirip dengan Sakura. Jadi apa bedanya? ternyata yang membedakan adalah jumlah kelompakknya. Pada sekuntum bunga Sakura hanya akan ada lima kelopak. Jika kelopaknya lebih dari lima dan bahkan tampak bertumpuk bisa dipastikan ini sejenis Plum atau Ume tadi. Buat saya semuanya cantik dan sungguh menggoda. Bahkan Sakura ini wanginya harum sekali. Duuh udah cantik harum pula. Jenis dan warnanyapun beragam kemarin saat mendapati kebun bunga Sakura di belakang Osaka Castle bahkan kami beruntung melihat Sakura dengan varian warna kuning kejinggaan yang kabarnya langka.

A post shared by OPhi Ziadah (@ophiziadah) on
Ini Bunga Sakuraa :)


Bunga Sakura akan bekembang di akhir musim dingin di awal musim semi. Bunganya akan mulai tumbuh, berkembang, dan akhirnya rontoh hanya dalam waktu 10 hari hingga 2 minggu. Saat berbunga, tidak ada satupun daun yang tumbuh di pohonnya. Setelah bunganya gugur semua maka baru akan digantikan oleh dedaunan hingga tiba musim gugur.


4. Pernak-pernik lucu berharga murah di Jepang


Naah saya pikir barang-barang di Jepang harganya mahal-mahal. Hmm untuk brand-brand tertentu mungkin harganya memang mahal tapi ternyata banyak barang-barang yang unyu-unyu yang harganya murce boook. Ihh itu mah ada kali di AEON mall di BSD atau di IKEA. Iya sih sempet terpikir juga kayak gitu. Well tapi tetep yaa, harganya jatohnya jadi lebih murah di Jepangnya lhoo. Hanya 100 Yen tuh. plus pajak jadi 108 Yen sih. Hmm dengan kurs 130 rupiah untuk satu yen kan jatuhnya hanya 15 ribu rupiah. 

Ada beberapa toko barang serba 100 Yen di sana selain Daiso ada juga Siera. Haduuh barangnya lucu-lucu, fungsional, dan unik-unik. Bikin kalap deh. Apalagi yang ada di kepala harganya murah cuma 100 Yen. Naah kalau belanjanya sekeranjang besar ujungnya bakalan beberapa ribu yen yang harus dibayar di kasir.

Barang yang dijual di Daiso atau Siera ini gak cuma semacam pernak pernik hiasan yang fungsinya gak jelas lho. Banyak banget barang-barang yang bakal bermanfaat kita gunakan untuk keperluan sehari-hari dengan harga 100 Yen satu item. Mulai dari perlengkapan dapur, alat sekolah, kelengkapan kamar mandi, kelangkapan ruang makan dan aalt makan, kelengkapan gardening, kelengkapan crafting, kaca mata, pernak-pernik  aksesori atau perhiasan untuk bayi, untuk anak, bahkan untuk orang dewasa, selain pernak-pernik ada juga makanan-makanan ringan khas Jepang. Hati-hati yaa, jangan kalap. Kekepin dompetnya.

Kalau di Osaka tempat belanja yang cukup lengkap mulai dari yang 100 Yen hingga barang-barang branded adi di daerah Shin Sai Basi. Daerah ini sellau ramai dikunjungi baik oleh wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara yang berburu barang-barang mulai dari yang murah hingga yang mahal di Osaka.


Glicoa Man Simbol Kota Osaka dan Shin Sai Basi


Baca Juga: Beijing Trip: Zizhuyuan Park


5. Kereta Jepang sama kayak Commuter Line di Jabodetabek


Wah seneng juga kemarin saya bisa meraskan pengalaman naik kereta di Jepang. Bukan Shinkansen atau kereta super cepat itu sih tapi kereta-kereta subway di sana. Ada beberapa jenis kereta memang di sana. Selain kereta semacam commuter line di Jabodetabek yang setiap hari saya naiki dari dan ke kantor, ada juga kereta yang ekpress. Yang ekspress bentuknya dan interiornya terlihat lebih mewah sih. Mungkin harganya lebih mahal dan tidak selalu turun di semua stasiun yang dilewati. Namanya juga kereta express. Macam kereta express ini cukup beragam lho.

Naah uniknya kereta non express di dalam kota Osaka yang kemarin saya naiki bentuk dan interiornya sama persis dengan kereta commuter line yang biasa saya naiki. Hmm memang kereta commuter line kan ada di Jabodetabek kan didatangkan dari Jepang. Saya pikir kita beli secondnya dan mungkin di Jepang jauh lebih canggih dan bagus-bagus. Hmm ternyata tidak juga. Hampir mirip lah hanya saja di sana jauh lebih terawat. Ada beberapa perusahaan yang mengoperasikan layanan kereta ini, kalau tidak salah satunya Kansai.

berphoto dengan latar belakang salah satu kereta express

Jika dibandingkan dengan commuter line Jabodetabek memang tarifnya lebih mahal sih. Tiketnya terhitung lebih mahal entah karena tidak disubsidi seperti kita atau memang demikian kebijakan pemerintah Jepang. Namun kereta tetap jadi alat transportasi favorit di Jepang. Selain nyaman dan tepat waktu. Banyak pilihan dan hampir menyentuh seluruh wilayah di Jepang. Mungkin kalau musim mudik mereka juga banyak yang mudik menggunakan kereta ya? Hmm ada promo tiket mudik gak ya kayak di sini?


6. Penghasil mobil yang jarang menggunakan mobil


Hmm jalanan Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia dipenuhi oleh mobil-mobil Jepang. Selama di Jepang justru jarang saya melihat kepadatan di Jalan oleh mobil atau kendaraan roda empat. Di tempat-tempat parkirpun jarang penuh oleh mobil. Mengingat sektor transportasi Jepang termasuk yang paling baik di dunia, tidak heran jika penduduknya justru lebih memilih menggunakan moda transportasi publik untuk jarak yang agak jauh dan memilih berjalan kaki atau bersepeda untuk pergarakan jarak dekat.


Hmm satu lagi yang saya amati, kalau di tanah air perkembangan model dan teknologi mobil-mobil Jepang sangat pesat dan inovatif. Setiap tahun selalu ada model baru. Di Jepang model mobil-mobil sejenis di tanah air dengan nama yang berbeda tampak saya jumpai beberapa. Namun tidak jarang saya melihat justru banyak mobil Jepang dengan model lama digunakan di sana. Hmm hebat ya mereka. Memproduksi mobil dan kendaraan roda dua bahkan dengan inovasi yang luar biasa untuk menggempur pasar otomotif di tanah air kita. Pantas Jakarta dan sekitarnya penuh sesak kendaraan bermotor dan tentu saja menambah polusi sementara di Jepang jalan raya terasa lengang dan mobil mereka juga lawas. 

Baca Juga: Senja di Georgetown


7. Sawah dan lahan pertanian di antara belantara beton.


Pak Kardi yang menjadi guide kami selama di Osaka dan Kyoto sempat menyampaikan bahwa nasi yang kami makan (yang memang lembut, manis, pulen, dan enak) merupakan nasi dari padi yang ditanam sendiri di Jepang. Tanah Jepang juga terbilang subur. Waah iya kah? saya agak sangsi awalnya. Sawahnya di mana? Ternyata saat kemudian kami mulai berkeliling kota akhirnya saya menyaksikan sendiri beberapa lahan pertanian terutama sawah yang tampaknya ditanami padi.

Masyarakat Jepang rupanya tidak pernah menyiakan lahan mereka. Meskipun tidak luas lahan kosong di sekitar rumah selalu ditanami beragam tanaman. Jenis bunga-bungaan, sayuran, ketela, umbi-umbian hingga padi. Sepanjang jalan kami menemui dan ditunjukkan lahan-lahan atau sawah yang sayangnya di musim dingin kemarin tidak sedang ditumbuhi padai. Hanya saja untuk lahan sayuran masih tampak kami temui beberapa di antaranya.  Waah mereka ternyata sangat menghargai lahan yang ada sehingga meskipun tidak luas tetapi tetap produktif karena teknologi pertanian mereka juga sudah maju.

Saat kami berkunjung ke daerah pegunungan, yakni Miyami. barulah rasanya puas melihat luasnya lahan pertanian mereka. Hmm tapi yang membuat saya surprise, adalah pemanfaatan lahan-lahan di tengah kota untuk tetap bercocok tanam terlebih menanam padi.




Suasana pedesaan dengan sawahnya di Miyami


Hmm sebetulnya masih banyak hal yang cukup membuat saya surprise dengan Jepang termasuk di antaranya ketemu penjual ubi rebus di area wisata hahaha. Tunggu cerita tentang Jepang saya berikutnya yaa. 



10 comments :

  1. Kalau aku sih amazed pas lihat tukang sampah cakep di jepang, di mataku orang jepang tuh cakep semua hahahah.

    ReplyDelete
  2. Yg kuingat Jepng itu bersih dan aman, toilet umumnya aja bersih dan wangi

    ReplyDelete
  3. Aku kira semua bunga di jepang mananya sakura haha trnyata beda ya mbak. Btw keren ya Jepang ini, negara penghasil mobil tapi gak terlalu royal dalam membeli mobil. Keren

    ReplyDelete
  4. Mbak, aku negara yang pengen kukunjungi salah satunya adalah Jepang loh! Bukan Paris seperti kebanyakam orang. Mungkin karena sejak kecil sudah terdoktrin Doraemon dengan sisipan budaya di ceritanya. Seperti kimono, festival, sushi, cara duduk, dll.
    Hihi.. thanks mbak.. jadi nambah wawasan nih..

    ReplyDelete
  5. Serius bikin mupeng, salah satu negara impian untuk dijejak sejak kecil saat nonton Oshin (ketauan banget umurnya berapa)

    ReplyDelete
  6. Wahhhhh wanna really go to Jepang someday Girl:))

    ReplyDelete
  7. wah jadi pengen ke Jepang :) penasaran banget membuktikan itu semua mba ^^

    ReplyDelete
  8. Wah pas baca ulasan bunda. Saya jadi banyak tahu. Bahkan soal bedanya kimono dan yukata sama sakura dan ume. Saya tahunya yang umum-umum aja. Saya juga baru tahu kalau ternyata orang jepang itu ramah-ramah ya, keliatan mainku kurang jauh nih 🙈

    ReplyDelete
  9. Aaaah bikin kangeeen. Gimana nih? Gimana? Harus kesana lagi apa yaa?

    ReplyDelete
  10. Orang Jepang sangat menghargai pertanian yaaa, saya sangat kagum akan hal tersebut. Lahan sangat dimanfaatkan dengan sangat baik.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.

Back to Top