Dari Pantai Sari Ringgung Ke Pulau Telaga Mas: Berlibur Sejenak di Lampung


Liburan sejenak ala Ziayudi Fam kali ini ke Lampung aja. Kenapa? Hmm karena memang udah lama niat mau ajak anak-anak "mantai"di Lampung. Awalnya sih kepikiran mau naik mobil aja tuch. Kan seru, sekalian ngajak anak-anak ngerasain naik kapal, nyebrang laut kan? Sebenarnya wish list yang bisa dan mau dikunjungi cukup banyak sih. Tapi sadar banget kalau kami ga punya waktu banyak jadi manfaatkan waktu yang ada aja.

Mendadak Lampung

Setelah hari H pemilihan umum ada hari "kejepit", saya pingin memanfaatkannya sekaligus juga mengajak Kakak yang selama beberapa bulan ini fokus persiapan UN. Mulai dari drilling sampai 4 kali try out. Anak-nya serius dan sungguh-sungguh banget. Well to some extend malah terlalu perfectionist kata Ibunya. Jadi agak terlihat stress dan self demanding gitu. Sampai Ibunya ngomporin:
"Udah sih Ka, selama 4 kali try out nilai Kakak Alhamdulillah selalu baik Best Three di Sekolah, Kakak juga udah diterima di sekolah Impian Kakak. Jangan terlalu diforsir, takut sakit. Sekarang dibawa santai aja yaa, kita refreshing dulu."
"Ibuuu, Ibu mau ajak kita jalan-jalan tanggal 18-21 April? Aku kan tanggal 22 UN buuu!"
"Ada hari kejepit kan di tanggal 18, seletah itu long weekend. Kakak berhak relaks dan bersenang-senang setelah sekian lama bergelut dengan soal-soal UN."
"Ya tapi gak gitu juga dung. Setelah UN aku lanjut US. kalau UN aku dah well prepared, tapi untuk US kan aku tetep harus belajar lagi."
Akhirnya deal kami ke Lampung dari tanggal 18-20 itupun sudah kembali ke rumah siang, jadi ada waktu setidaknya 2 hari untuk Kakak persiapan (lagi) jelang UN. Oke deal!

Kami memang sudah sounding bakal mengajak mereka berlibur sejenak tapi soal waktu dan destinasi masih jadi misteri karena kesibukan kami masing-masing. Sampai hari itu, 30  Maret saat kami ke Garuda Center Pondok Indah Mall untuk claim mileages untuk ditukarkan dengan tiket pesawat. Daaan alhamdulillahnya hari itu ternyata hari terakhir diskon 30% untuk setiap tiket penerbangan.

Kami beneran surprise dan gak tahu klo hari itu terakhir promo. Hmm pantesan ramai sekali. Coba kami tahu ya, kalau ada diskon ini, bisa kami pilih tujuan yang lebih jauh hehehe. Alhamdulillah kali ini 5 tiket pulang pergi bisa di-claim dari total mileages GFF saya dan Ayahnya krucils. Alhamdulillah juga jadi masih punya sisa lumayan plus tidak perlu khawatir terkait ada beberapa mileages yang sudah mau due.

Baca Juga: Family Trip To Malang

Lampung here are we come...

Penerbangan dengan Garuda sekitar 11 siang akhirnya mengantarkan kami landing dengan aman di Bandara Raden Inten Lampung.

"Lama nunggunya bu...terbangnya cuma sebentar" celoteh Dek Paksi yang diamini Kakak-kakaknya.

Well tapi mereka tetap tampak sangat excited. Setelah urus bagasi yang cuma 1 koper sedang dan 1 koper kecil kami segera keluar.

Pak Kamil, Driver dari mobil yang kami sewa via Traveloka juga sudah menunggu. Yups, bener kemarin cari sewa mobil untuk perjalanan selama di Lampung lewat Traveloka juga. Awalnya suami saya beri nomor driver yang beberapa tahun lalu pernah mengantarkan saya selama beberapa hari bertugas dan jalan-jalan di Lampung. Rupanya Suami sudah pesan transportasi bandara promo online di Traveloka. Maklum pemakai setia Traveloka untuk urusan traveling.

"Lumayan bu ada promo discount untuk rental mobil dan antar jemput Bandara." "Pemesanan juga bisa disesuaikan dengan penggunaan kita, mau dalam kota atau luar kota, harganya disesuaikan. Plus free jemput Bandara." 
"Kita juga bisa pilih paketnya, bisa yang "all in" atau hanya paket dasar, excluding bensin, tips driver,  parkir, dan tol."
"Lebih fleksibel laah" 

Saya manut aja. Kami sudah berbagi tugas dan urusan kendaraan dalam kota tujuan memang tugas Ayah Krucils yang menghandle.

Kami langsung minta diantarkan ke tampat makan karena memang waktunya makan siang. Kami kemudian diantar ke RM Padang Begadang. Bisa ditebak dung, menu favorit di sini yang membuat saya kadang kangen sama Lampung hahaha. Ayam goreng telur. Potongan ayam yang diselimuti dadar telor hahayyy. Sudah kenyang kami langsung cuss... eh bayar dulu pastinya.

Meski sudah pernah ke Lampung, saya kok agak lupa ya, kenapa dari Bandara ke Kota Bandar Lampung terasa lama. Apalagi hujan tiba-tiba menyambut kami dengan derasnya. Padahal Pak Kamil mengajak kami mencoba jalan tol baru yang masih gratis. Hujan benar-benar seperti ditumpahkan dari langit.

Sesampai di hotel kami hanya merapikan barang sebentar lalu cuss lagi. Niatnya mau ke Pantai Sari Ringgung yang kabarnya hanya sekitar 1 jam saja dr Kota Bandar Lampung. Sudah separuh jalan, hujan yang semula mulai mereda kembali menghebat.

"Yakin yah, tetap mau ke pantai dengan cuaca begini?"
"Masih jauh kah pak?"
"Sekitar setengah jam lagi bu"

Waah masih jauh dan saya gak yakin cuaca membaik.

 "Putar balik aja yuuk. Hari ini kita makan bakso aja dulu, cari yang hangat-hangat."

Yayy Krucils yang sedari tadi antara ngantuk dan resah dengan hujan yang demikian lebat langsung bersemangat. Kita makan bakso bu?

"Iya, kita ke Bakso Sonny ya pak."

Karena cuaca masih tidak bersahabat, kapan kita mantai?

Besok yaa pagi-pagi, cuss!

Khawatir siang atau sorenya cuaca bakalan sama dengan hari ini jadi kami memastikan untuk memanfaatkan pagi hari saat cuaca masih cerah dan cahaya mentari terang menerpa bumi.


Pantai Sari Ringgung

Udara segar dan cuaca cerah memberi harapan di pagi hari. Bergegas seusai sarapan kami berangkat ke Pantai Sari Ringgung. Well, pantainya lumayan luas dan dilengkapi beberapa spot bermain anak. Ada juga spot khusus bagi pengunjung yang akan menyewa boat atau mengambil paket wisata ke Pulau Tegal Mas. Selain itu ada dermaga yang dikelola Pemda tempat bersandar kapal-kapal boat yang disewakan untuk menyeberang ke beberapa pulau di sekitar Lampung, salah satunya Pulau Tegal Mas.



Kami sempat berphoto-photo, anak-anak juga sudah tak sabar dan langsung berlarian bermain air dan pasir di pantai. Namun kami memutuskan untuk segera menyeberang ke Pulau Tegal Mas dengan harapan bisa snorkeling. Untuk menikmati Pantai Sari Ringgung kami jadwalkan setelah kembali dari Pulau Tegal Mas.

Baca Juga: Tips Liburan Keluarga Besar

Hmm sayangnya memang kami salah perhitungan. Udara pagi ini memang cerah tapi cuaca sedang tak menentu. Ombak terhitung sedang tinggi. Saat kami akhirnya bernegosiasi dengan para penyewa kapal mereka tidak yakin bisa mengantarkan kami ke beberapa spot snorkeling karena arah angin dan ombak yang tinggi.

"Paling nanti bu setelah siang, arah angin sudah berganti dan ketinggian ombak di daerah spot snorkeling sudah bisa lebih tenang."
"Ya sudah pak, kita lihat saja nanti sikonnya, yang penting kita sampai ke Pulau Tegal Mas saja dulu."

Pak kamil yang kami ajak menyeberang menolak, katanya takut karena ombak sedang tinggi.

Tarif sewa kapal untuk pulang dan pergi dari Pantai Sari Ringgung sampai ke Pulau Tegal Mas dan sebaliknya sebesar 250.000 IDR. Kapal menunggu hingga kami selesai dan diantar kembali ke Pantai Sari Ringgung, bisa juga dibantu kalau mau berhenti di spot-spot tertentu untuk snorkeling.

"Berapa lama kita menyebrang pak?"
"Hanya sekitar 10-15 menit bu"
"Owh dekat yaa, yuk lah cusss kasian anak-anak penasaran."
"Ada pelampung untuk anak-anak Pak?"
"Ada pelampung bu, tapi tidak ada ukuran anak-anak, paling bisa disesuaikan saja strappingnya bu"

Dulu saat saya berwisata di Pulau Pahawang salah satu tujuan wsiata laut juga di Lampung, fasilitas pelampung dan kostum snorkelingnya cukup lengkap. Tersedia juga untuk anak-anak.



Anak-anak tampak antusias, terlihat berani meski baru pertama kali menyeberang sejauh ini. Well, meski agak kebesaran saya tetap wajibkan mereka menggunakan pelampung. Kapal yang seyogyanya muat hingga untuk maksimal 10 orang dewasa hanya dinaiki oleh kami berlima. Dua dewasa dan tiga krucils. Sepanjang jalan celoteh anak-anak tampak riang dan sesekali berselfie ria.

Tak terasa, kami mulai mendekati destinasi. Rumah adat khas Lombok yang berjajar di sepanjang pantai tak jauh dari dermaga tempat kapal kami bersandar di Pulau Tegal Mas.

"Nah biasanya ada yang snorkeling di dekat-dekat rumah Lombok itu bu... tapi ini ombak sedang tinggi kemungkinan belum bisa snorkeling di sana."



"Pak saya pinjam beberapa ya pelampungnya, buat anak-anak nanti main di pantai."
"Iya bu, di sana biasanya tersedia juga kalau sewa kano atau banana boat, tapi kalau Ibu mau bawa, bawa saja."

Pelampung yang dipakai anak-anak tetap mereka pakai sampai mereka turun.

Untuk masuk ke Pulau Tegal Mas ini setiap orang dikenai biaya  40.000 IDR  sudah termasuk free mandi dan bilas di kamar mandi belakang cottage. Fasilitas lain tetap ada biaya sewa khusus.

Hari itu pengunjung terhitung sangat ramai. Kami kemudian mendapat tempat duduk di bawah payung besar dengan kursi dan meja dari semen. Ada banyak juga gubuk-gubuk atau saung dengan atap rumbia yang terbuka yang ternyata sudah penuh oleh pengunjung yang lain. Well yang letaknya agak jauh memang tampak masih kosong. Tapi cahaya matahari membuatnya tampak terlihat panas.

Anak-anak langsung minta izin main air. Well, pantai dengan pasir putih ini tampak kurang bersih. Berbeda dengan pantai di Pulau Pahawang yang jauh lebih bersih dan dijaga bahkan oleh para pengelola wisata laut di sana. Sampah-sampah banyak yang berlabuh di pantai. Para petugas yang saya ajak ngobrol menyebutkan, biasanya tidak sebanyak ini sampah yang datang. Mungkin karena ombak sedang tinggi dan arah angin yang menuju ke pulau.

Saat anak-anak dan ayahnya main air, saya berkeliling sejenak di sekitar lokasi pantai dan mengambil beberapa gambar. Saat kembali, anak-anak merajuk minta disewakan kano. Menyewa kano dikenai biaya 20.000 IDR. Mengingat ini pengalaman pertama buat mereka, terlihat mereka sangat excited dan menikmatinya. Di sisi kanan pantai tampak beberapa kelompok orang yang tengah mengenakan kelengkapan snorkeling tapi ombak yang tinggi dan air yang keruh kiranya tidak maksimal untuk menikmati pemandangan bawah air saat itu.



Nanti saja setelah Zhuhur, mungkin air sudah agak surut dan arah angin dan ombak sudah berubah jadi bisa lebih maksimal, begitu pikir kami setiap kali anak-anak merajuk kapan mereka snorkeling.

Semakin siang suasana pantai makin riuh. Pengunjung masih terus berdatangan. Anak-anak mulai bosan dan terganggu dengan keramaian.

Baca Juga: Serunya Staycation di Allisa Resort Anyer

"Yuk kita coba pindah ke spot pantai yang ada di sebelah sana" Ujar saya.

Selain spot pantai yang ramai pengunjung ini, saya melihat dengan jarak sekitar 500 meter dari sana ada sisi pantai yang lain. Memang kami harus berjalan kaki dulu ke sana.

Anak-anak tak keberatan. kamipun berjalan ke arah spot pantai tersebut. Matahari makin garang. Herannya bocah-bocah ini tak surut semangat.



Naah di spot pantai sisi kanan tersebut, pantai lebih tenang, mungkin karena arah angin tidak mengarah ke pantai. Selain ombak yang bahkan tak nampak, pantai lebih lengang dan bersih. Jajaran saung beratap rumbia juga masih banyak yang kosong. Hmm ini lebih enak buat kami, lebih terasa seperti private beach.

Anak-anak makin girang, mereka kembali nyebur ke pantai. Sibuk bermain air, pasir, dan mencari binatang laut, kerang, bintang laut. Ah entahlah, kok gak ada habisnya ya keriaan mereka menikmati pantai dan laut. Syukurlah kalau mereka enjoy. Kali ini saya memilih duduk di bawah pohon rindang di dekat salah satu saung. Menikmati aroma pantai dan laut yang sesungguhnya, sambil sesekali mengamati anak-anak. Pantai yang tenang membuat saya merasa aman membiarkan mereka bahkan tanpa pelampung.

Kami tidak membawa barang-barang kami ke sini. Semua ditinggal di tempat semula. Semoga aman.

Sambil menunggu jam makan siang kami memesan kelapa muda dan beberapa camilan. Hanya ada sedikit warung yang letaknya juga agak jauh dari pantai sisi kanan ini. Menunggu cukup lama tak kunjung pesanan kami datang. Akhirnya kami susulkan ke warung rupanya semua pesanan kami belum disiapkan karena ramainya pengunjung. Duuh saya agak kesal dan kecewa sih. Tapi karena sudah siang dan anak-anak pasti lapar, sementara mereka tidak bisa memberikan kepastian karena minimnya tenaga kerja mereka akhirnya kami hanya memesan beberapa butir kelapa muda dan kali ini minta langsung diantar.



Anak-anak sudah bolak balik dari pantai ke saung menanyakan makanan. Hmm tandanya sudah lapar, ransum kami tinggal di tempat semula kami datang. Jaraknya lumayan jauh.

"Yuuk diminum dulu air kalapanya, trus dimamam daging kelapanya, nanti kalau sudah habis kita makan siang yuuk. Kita balik ke tempat tadi di sana ada restoran dan warung makan juga, mudah-mudahan banyak pilihan."

Meski tampak enggan mengakhiri main di pantai, akhirnya anak-anak mau juga beranjak dari sana setelah menghabiskan kelapa dan airnya.

Kami kembali ke spot awal. Anak-anak mulai rewel. Beberapa warung tampak ramai. Kebanyakan memang menjual makanan ringan semacam mie seduh dan snack, sementara kami butuh makanan agak berat. Kalau snack kami sudah bawa sendiri. Satu-satunya restauran belum menerima pesanan makanan. Mereka baru terima pesanan makanan setelah jam 2. Duuh masih lama.

Akhrinya kami bisa pesan makan siang berat, nasi pecel lele, dadar telor, dan teman-temannya. Sayangnya antrian cukup panjang dan lama. Anak-anak mulai gelisah memgingat tubuh mereka yang basah dan angin pantai yang makin kencang.

Sambil menunggu, saya sengaja menghibur anak-anak dengan cerita-cerita lucu dan tebak-tebakan. Well mengalihkan konsentrasi mereka dari rasa bosan dan lapar menunggu makanan yang cukup lama.

Akhirnya, setelah didatangi dua kali, makanan kami jadi. Ka Zaha membantu Ayah mengambilkan makanan ke warung tempat kami pesan. Alih-alih menunggu diantarkan yang entah sampai kapan datangnya. Karena makanan tidak datang sekaligus. Saya suapi Dek Paksi dan ka Alinga terlebih dahulu. Mereka berdua sudah tampak kelaparan. Duuh kasiaan.

Saran saya, bawa makanan dan bekal secukupnya dari Lampung ya kalau mau ke sini. Sayang saya bukan dari rumah, kalau dari rumah saya sudah bawa bekal dan buka tikar di pinggir pantai atau di saung seperti banyak keluarga lakukan di sekitar kami. Tadi pagi kami berangkat dari Sari Ringgung belum ada penjual makanan karena memang masih pagi. Mungkin seharusnya membawa bekal sejak dari Bandar Lampung.

Badai Menerjang Pantai

Saat kami baru separuh jalan menikmati makan siang yang terlambat, tiba-tiba angin kencang datang menghajar pantai. Kencang sekali, seperti badai disertai air hujan. Semua orang yang berada di pantai berlarian menuju restauran terdekat. Beberapa dahan pohon retak dan tumbang. Ketika angin sangat kencang kami memilih masih bertahan di tempat sambil memegang kencang makanan yang tengah kami makan, sebagiannya berterbangan terbawa angin.

Saat angin sedikit mereda, meski hujan masih deras mengguyur, sambil terus menenangkan anak-anak yang alhamdulillah mereka tidak panik, kami memutuskan untuk berlari menuju restauran tadi. Mencari perlindungan seperti pengunjung lain. Badan yang semula sudah kering kembali basah diterpa hujan badai.

Kami langsung berbagi tugas. Ada yang fokus membawa makanan yang masih bisa diselamatkan, Karena Ayah dan Ka Zaha bahkan baru mulai makan tadi. Saya dan Ka Alinga membawa barang-barang bawaan kami termasuk baju ganti dan perlengkapan lainnya dan Dek Paksi menyeret pelampung yang kami pinjam tadi.

"Dalam hitungan ketiga kita jalan bareng ya ke arah restauran. Tunggu angin agak reda ya."
"Satu, dua, tiga..."

Kamipun sampai ke restauran yang bagian depannya memang terbuka. Air hujan bahkan membahasi hampir separuh bagian yang terbuka tersebut. Kursi-kursi sudah penuh oleh pengunjung yang mencoba mencari tempat berlindung. Kami mendapat kursi agak di dalam. Saya langsung selimuti Dek Paksi dengan handuk. Dia tampak mulai kedinginan. Air hujan disertai angin tadi terasa sangat dingin. Ka Zaha dan Ayah melanjutkan makan. Ka Alinga juga saya selimuti dengan handuk.

Suasana agak sedikit tegang. Tampak dari kejauhan ombak laut naik dan mengombang-ambingkan apa saja yang ada di atasnya. Teramsuk masjid terapung di samping dermaga. Pantai yang sedari tadi ramai luar biasa langsung senyap. Beberapa saat sebelum badai datang, banyak juga rombongan yang pulang kembali ke arah Lampung. Saya agak ngeri membayangkan saat mereka berada di tengah laut dan diterpa badai.

Duuh untung kami masih ada di sini, tapi saat melihat sebagian pengunjung mulai pulang padahal masih banyak juga pengunjung yang baru datang, saya sudah agak resah.

Tidak sampai satu jam, badai mulai mereda. Saya meminta Ka Al dan Ka Zaha bilas dan ganti baju bergantian dengan saya yang harus menunggui Dek Paksi yang setelah kedinginan tadi langsung tertidur setelah sebelumnya  saya bukakan baju renangnya, saya bersihkan, baluri dengan minyak kayu putih dan ganti baju. Wuih kombinasi lelah, mengantuk, dan kedinginan. Dengan mudahnya Ia terlelap di kursi.

Alhamdulillah anak-anak tetap tenang dna tidak panik berlebihan. Kami juga bisa bekerja sama melewatinya dengan baik. Good job kiddos.

Setelah anak-anak berganti pakaian, Saya dan Ayah Trio bergantian membersihkan diri dan berganti pakaian. Ka Zaha dan Ka Alinga malah sempat sholat dulu di Masjid Terapung. Suami agak kesulitan menghubungi penyewa kapal. Mungkin gangguan sinyal.

Meksipun tergoda untuk kembali ke pantai dan menuntaskan niat awal mengajak anak-anak snorkeling namun rasa khawatir akan cuaca yang tak menentu membuat saya urung menawarkan hal tersebut pada anak-anak. Sesaat setelah laut kembali lebih tenang, beberapa orang mulai kembali ke pantai. Well mungkin mereka belum lama sampai sebelum badai datang.


Setelah berhasil menelpon, kami kemudian diminta untuk menunggu terlebih dahulu. Suasana di pantai sekitar Pulau Tegal Mas memang sudah tenang. Tapi di tengah laut bahkan di pantai dekat Lampung kelihatannya masih belum aman. Dari kejauhan awan gelap masih menggelayut. Ombak di tengah laut juga masih tinggi. Kamipun memutuskan menunggu hingga cuaca betul betul sudah aman untuk menyebrang kembali.

Sebagian rombongan pengunjung mulai banyak yang berangkat kembali pulang. Kami masih menunggu kontak dari penyewa kapal.

Tak lama, akhirnya kami diminta bersiap karena kondisi sudah lebih kondusif untuk berlayar kembali ke Lampung.

Bismillah kami kembali ke Pantai Sari Ringgung. Ombak memang masih tinggi di tengah laut. Gumpalan awan hitam juga masih tampak di beberapa bagian langit nun jauh di seberang sana.  Meski agak lebih lama dari saat kami berangkat tadi akhirnya kami sampai kembali ke Dermaga di Pantai Sari Ringgung. Suasana pantai juga agak sepi, rupanya badai juga menghantam pantai ini.

Baca Juga: Sawarna Trip, Legon Pari Beach

Pak Kamil cerita kalau air naik bahkan jauh melewati pantai saat badai datang. Angin dan hujan deras menghantam bagian pantai ini juga. Waah ternyata yaa.

Tapi saat kami sampai, kondisi pantai sudah lebih tenang, ombak juga sudah surut bahkan lebih surut dari saat kami datang tadi pagi. Masih ada juga pengunjung yang menikmati pantai bahkan hingga ke titik di mana ada bagian pantai berpasir hingga ke tengah laut yang bisa dilewati dengan berjalan kaki saat air laut surut seperti sekarang.

Kalau tidak ingat bagaimana ketegangan saat badai tadi, mungkin anak-anak masih mau main air lagi di Pantai Sari Ringgung.



"Gak usah ya nak... cuaca gak menentu. Khawatir hujan dan angin datang lagi seperti tadi. Kita balik aja yuk ke Lampung. Hari dah mulai sore. Kita cari makanan hangat dan oleh-oleh aja yuk. Kan besok pulangnya pesawat pagi."
"Kita cari makanan apa bu?"
"Gimana kalau pempek?"
"Yayyy...asiiik pempek."
"Pak Kamil, kita ke Pempek 123 yaa... atau kita cari oleh-oleh dulu takut tokonya tutup kalau kesorean."

Cuss, kami kembali ke Bandar Lampung. Beli oleh-oleh dan menikmati Pempek Lampung. Esok pagi-pagi kami harus kembali ke Jakarta.

Next time mau explore Lampung lebih banyak dan lebih jauh lagi. Kiluan dan Lumba-Lumba, Way Kambas dan Gajah Lampung... InsyaAllah ya nak.

4 comments

  1. Duuuh kakak baca cerita dan lihat-lihat fotonya bikin aku kangen pantai

    Bolak balik ke Lampung, aku malah belum pernah ke pantai-pantai di atas hiks. Kayaknya memang harus ke Lampung lagi deh

    Btw ke Lampung naik pesawat, kalau aku dari Bogor lebih pnjang perjalanan menuju bandaranya daripada naik pesawatnya hahahahaha

    ReplyDelete
  2. Aahh ya ampun. Indah betul pantainya.
    Sy harus ke sanaaa....

    ReplyDelete
  3. Wah biru-biru bikin seger mata ini mah

    ReplyDelete
  4. Waaa bisa jadi liburan yang tak terlupakan ya.
    Meskipun sempat ada badai, tapi semoga tetap menjadi liburan yang menyenangkan buat anak anak.

    Gimana hasil UN ya kaka?
    Rajin yaa mau diajak liburan aja protes.
    :D

    Takut gabisa belajar. Salut deh

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.