Kembali ke Surabaya, Tiga Rasa Mewakili Surabaya yang Wajib Dicoba!

Surabaya, sudah lama sekali tidak menjejak kota ini. Yang terkenang tentu riuh namun rapi bersih tata kotanya. Puanasnya, dan yang pasti kulinernya. Atmosfer yang khas dari kota satu ini memang selalu berujung pada satu kata "kuliner". Jadi yuk mumpung ke Surabaya meski hanya sebentar, kita cicipi lagi beberapa kuliner khasnya. 

Baca: Kuliner Lhokseumawe Wajib Coba!

Dari sekian banyak pilihan, kali ini ada tiga tempat dan ke-khas-annya masing-masing yang akan saya share dan review. Untuk yang sudah lama tidak ke Surabaya bisa banget lho jadi contekan. Menariknya, ketiganya menghadirkan pengalaman rasa yang sangat berbeda: ada yang menghadirkan nostalgia Jawa klasik, ada yang menghangatkan lewat semangkuk soto, dan ada pula yang menguji kesabaran karena harus rela antre demi seporsi nasi legendaris, plus cerita super ngakak yang menyertai saat kami antre makanan. Hmm saya gak bakal ceritakan lengkapnya yang jelas ada kursi plastik yang melayang ke atas malam itu hahaha. Upsss!

Rodjo Mongso: Nuansa Jawa Tempo Dulu dalam Sepiring Hidangan

Suasana terik Kota Sidoarjo langsung menyergap sesaat kami keluar dari Bandara Juanda. Menuju Kota Surabaya sebetulnya tidak terlalu jauh meski tidak dekat. Sekitar 11-12 km perjalanan dengan kendaraan roda empat. Hmm mengingat waktu makan sudah lewat, yuk cuss makan dulu. Langsung tanya Mas Driver dari rental mobil yang menjemput kami. 

"Mas enaknya makan apa ya? sudah lapar nih". "Harus di kota Surabaya atau yang penting ke arah sana bu?" "Gak harus di kota Mas, udah laper. Ada referensi?" " Mau makan apa?" Lalu disebutkanlah beberapa makanan khas Surabaya. Karena bukan kunjungan pertama kali, beberapa nama yang disebutkan sudah pernah dicoba tentunya . Bukan tak mau mengulang, tapi kok kayak pingin yang beda ya? "Mau nyoba Ayam Goreng yang lagi viral gak?" "Owh boleh lah cuss!"

Namanya Rodjo Mongso di Jalan Raya Kupang Baru Nomor 19 Surabaya. Buka dari pukul 11.00 di weekday dan pukul 10.00 di weekend. Mereka tutup di pukul 21.30. Suasana masih terasa terik, namun tampak luar restoran ini lebih terkesan seperti sebuah rumah ketimbang "restoran". Rumah berlantai dua. Hmm saya menebak pasti memang didesain untuk mereka yang rindu suasana makan di rumah. Kesan homey langsung terasa saat masuk ke Rodjo Mongso. Seperti ruang makan keluarga dengan banyak meja. Di bagian ujung ada reception tempat membayar dan memesan makanan.

Saya langsung merasa seperti ditarik ke masa lalu. Interiornya hangat, tradisional, dan membuat makan terasa lebih dari sekadar urusan perut. Tampaknya memang suasana ala rumah ini menjadi daya tarik tersendiri. Kalau mau ajak keluarga rasanya makin hangat dengan suasana dan sensasi rumahan yang terasa kental. Seperti makan di rumah keluarga besar saat liburan.

Seperti tagline restonya, Ayam Goreng Favorit Anda, #RajaneAyamGoreng tentu menu utamanya ayam goreng. Meskipun ada banyak pilihan menu yang lain. Ayam gorengnya sendiri ada dua jenis, ayam kriuk dan ayam goreng rodjo mongso yang khas dari resto ini. Ada pilihan udang  atau cumi juga dengan beragam olahan. Saya lihat ada pilihan menu paru goreng juga. Lalu pastinya tahu dan tempe goreng, sayur asam, dan plecing kangkung. Wow variasinya cukup lengkap. Namun siang itu kami fokus mau mencoba menu andalan mereka.



Kami memilih ayam goreng rodjo mongso, tahu goreng, plecing kangkung, sayur asem. Untuk minumaan pilihannya juga variatif mulai yang hangat sampai yang dingin.  Hmm secara pribadi saya suka dengan rasa dari masing-masing menu pilihan kami. 

Ayam gorengnya merupakan ayam kampung yang dibumbu marinasi khas rodjo mongso yang meresap hingga ke dalam lalu digoreng "deep fry", sehingga saat mengunyah dagingnya terasa rempah dan bumbu yang kuat memberikan sensasi rasa yang khas. Rasa ketumbar yang cukup mendominasi memberikan rasa rempah yang kuat. 

Daging ayam tetap lembut meski di luar cukup kering. Saya memilih bagian paha, yang masih terasa juicy dagingnya. Hmm sayangnya ukurannya tidak terlalu besar. Jika kamu pemakan porsi besar, mungkin bisa memesan lebih dari satu potong. Kalau mau pesan ayam utuh juga bisa kok, tampaknya lebih seru untuk makan ramai-ramai. 

Baca: Menikmati Ikan Bakar di tepi Sungai Kahayan

Sambel yang diberikan ternyata sambal kecap dengan sambal ulek dan potongan bawang merah. Saya sih suka. Lalu untuk pelecing kangkung, terlihat kangkung muda dan segar namun direbus sedemikian rupa sehingga sangat lembut namun masih berwarna hijau segar menggoda. 

Untuk tahu gorengnya, lumayan sih so-so! tidak terlalu istimewa. Nah sayur asamnya juga khas. Rasanya jarang ada menu sayur asam di kuliner Jawa Timur. Saya menebak-nebak rasanya akan seperti apa? Agak mirip sayur asam sunda namun tidak terlalu merah lebih bening dan tidak terlalu masam manis. Jadi segar dan pas sih menurut saya.

Over all saya cukup puas dan pingin suatu waktu balik lagi ke sini dan mencoba menu mereka yang lain seperti hidangan udang, cumi, atau bahkan jeroan seperti paru. Untuk harga, sepadan sih dengan kualitas hidangan mereka, Jadi tidak bisa disebut murah. Oh iya ternyata mereka juga menyediakan ayam goreng baik yang frozen maupun yang sudah digoreng sebagai hantaran oleh-oleh. Bisa juga dipesan melalui Go-Food atau Grab Food. 

Soto Ayam Cak Har: Semangkuk Soto dengan Kuah Kaya Rasa

Soto Ayam Lamongan satu ini sih sudah nge-hits banget ya. Soto Legend Since 1992, demikian taglinenya. Rasanya semua yang pernah ke Surabaya pernah makan di Soto Ayam Cak Har ini deh. Mereka punya dua outlet. 

📍 Outlet 1 : Jl Arief Rahman Hakim No.6

📍 Outlet 2 : Jl. Dr. Ir. H. Soekarno No.220

Hmm karena sudah lama tak ke Surabaya, saya bahkan sudah tidak ingat sensasi rasa soto kuah kuning khas lamongan dari Soto Cak Har. Saya datang dengan rombongan yang cukup banyak di malam hari untuk makan malam. Alhamdulillah meski penuh pengunjung kami bisa makan di ruang ber-AC. Suasana cukup riuh. Sudah jam 8 malam tapi masih ramai pengunjung. Memang Soto Cak Har ini selalu ramai di setiap waktu. Kami beruntung bisa mendapatkan tempat yang nyaman untuk rombongan yang cukup banyak.

Soto Ayam Lamongan ini bisa dipesan dengan nasi yang terpisah (di piring sendiri) atau disajikan secara campur di mana nasi dan soto digabung dalam satu mangkuk. Kita juga bisa memilih bagian daging paha atau dada. Tersedia juga jeroan dan tulang serta ceker ayam. Ayamnya ayam kampung ya. Jadi saya sih yes! seperti biasa saya memilih bagian paha untuk daging yang lebih juicy. Dengan nasi terpisah setengah porsi. Kalau kamu lapar sebaiknya memilih menu nasi satu porsi ya.



Kuah kuning yang cukup kental namun tidak berlebihan, tambahan koya yang gurih dan kaya rasa, tambahkan sambal sesuai selera dan jangan lupa irisan jeruk nipis yaa. Aroma kuahnya bahkan sudah tercium sebelum mangkuk diletakkan di meja. Gurihnya terasa dalam, dengan sentuhan rempah yang pas tanpa berlebihan.  Kuahnya gurih tapi tidak membuat enek. Ada kekayaan rasa dari kaldu yang terasa matang dan sabar dimasak. Ada campuran toge dan irisan daun bawang yang juga jadi penyeimbang rasa.

Alhamdulillah hangatnya soto ayam mengisi perut yang sebetulnya agak terlambat makan malam. Untuk minuman bisa memilih aneka es jeruk atau es teh, serta minuman dingin yang lainya. Termasuk kelapa jeruk atau minuman hangat. Selain soto ayam lamongan, banyak tenant pedagang makanan pendamping lainnya yang bisa jadi penambah menu terutama untuk camil-camil. Sayangnya karena sudah malam, sudah banyak yang menu yang "sold out" dan tidak tersedia lagi. Unik juga yaa, jadi seperti pusat jajan serba ada dengan menu utama soto lamongan.

Jadi kalau sahabat Mom of Trio baru ke Surabaya, wajib ke Soto Ayam Cak Har dulu sih supaya sah menjejak di Surabaya. 

Baca Juga: Ramen Halal Kyoto: Ayam Ya Karasuma

Sego Sambel Mak Yeye: Penutup Hari dengan Legenda Kuliner Malam Surabaya

Malam sudah sempurna menyelimuti kota Surabaya saat kami selesai mampir di salah satu toko oleh-oleh terkenal di Surabaya. Kembali ke hotel setelah hari yang panjang berkegiatan di Universitas Trunojoyo di Bangkalan Madura. Chat dari Mas Hendri, Ajudan Pak Bos kami masuk saat kami sudah di kamar hotel masing-masing. "Bu, Bapak ngajak makan malam di Sego Sambel Mak Yeye." 

Nah, makan malam atau makan kemalaman nih? Langsung cuss ke tik tok dan medsos mencari info dung. Waww ternyata banyak food vlogger yang sudah mereview nasi sambal legendaris ini. Well anggap saja makan malam perpisahan dengan Surabaya karena besok kami sudah harus kembali ke Ibu Kota. Rasanya perlu dicoba, supaya bisa jadi tambahan referensi kalau kembali ke Surabaya. Apalagi yang mrekomendasikan Arek Suroboyo Asli hehe!

Jujur melihat video reviewnya saya agak ketar ketir, melihat sambal yang menutupi piring mereka yang makan di sini. Iya sih, judulnya saja "sego sambal" ya menunya nasi dan sambal. Secara saya suka sambal tapi yang tidak terlalu pedas, jujur saya membaca mantra dulu nih."Ya Allah sambalnya menggoda sekali tapi pliss jangan terlalu pedas, perut saya gak kuat, hahaha".

Sego Sambel Mak Yeye berlokasi di Jalan Jagir Wonokromo Wetan No. 10, Wonokromo, Surabaya (tidak jauh dari jembatan Wonokromo).  Tepat di belakang Gedung Darmo Trade Centre (DTC). Ini beneran kuliner malam ya karena memang baru buka mulai pukul 21.00, mereka buka hingga 04.00 WIB. Hmm pantas saja Pak Bos mengajaknya di jam-jam menjelang tidur hahaha. Emang baru buka Mak Yeye di jam 9 malam saat orang sudah mulai berangkat tidur.  

Mak Yeye punya status “ritual kuliner malam Surabaya.” Kalau ada satu kuliner yang benar-benar terasa seperti ritual malam wajib saat ke Surabaya, mungkin inilah jawabannya. Sederhana, ramai, panas, antre—tetapi justru itu daya tariknya.

Baca juga: Wajir Seafood, Kuline Malam Medan

Menu andalannya adalah nasi hangat dengan lauk ikan pe (pari asap), telur dadar, dan tempe goreng, disiram sambal dadakan yang sangat pedas. Eits jangan salah ternyata tersedia dua jenis sambel. Kamu akan ditanya, mau yang pedas atau manis. Karena aku memang manis, eh gak bisa makan yang terlalu pedas maka aku pilih yang manis dan sambal yang dipisah. Jadi untuk pecinta sambal versi tidak terlalu garang, pilih sambal manis yang dipisah ya gais. Karena lazimnya memang sambalnya disiram di atas nasi dan lauk.

Ini penampakan Sego Sambel Mak Yeye dengan latar belakang Sambalnya yang super merah dan menggoda para pecinta pedas.
Sumber gambar: Go Food


Harga makanan berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000 per porsi. Cuss lihat aja lengkapnya di daftar menu dan harga pada foto di atas ya.  Warung Sego Sambel Mak Yeye yang ikonik ini memang sudah berdiri dan beroperasi sejak tahun 1982.  Meski terkenal dengan sajian iwak pe (ikan pari asap), tempe goreng, dan sambalnya yang super pedas, namun ada pilihan ikan lele juga ya.

Meski saya datang terhitung lumayan "early", tapi tetap sudah mengantri. Untuk tempat duduk tersedia di bagian dalam warung dan lokasi sebrangnya yang lebih luas. Rupanya karena makin ramai Mak Yeye kemudian melakukan perluasan hingga area bagian depan warung. "Dapur" terbuka tempat berbagai menu digoreng juga bisa kita saksikan langsung. Aroma tempe goreng yang khas yang tengah digoreng di minyak panas yang menyeruak justru menjadi daya pikat tersendiri untuk saya. Iwak Pe atau Ikan Pari Asap juga yang bikin saya penasaran.



Dengan hati-hati saya mencolek sambal manis yang saya pilih terpisah di piring kecil. Hmm pedasnya bukan tipe yang langsung menampar, tapi pelan-pelan naik dan membuat saya terus menyuap nasi. Padahal saya pilih yang versi manis. Jujur gak berani pilih yang versi pedas karena melihat review para pecinta kuliner sebelumnya. Kalau kamu pecinta pedas, gass sih! wajib dicoba versi pedasnya.

Baca: Kuliner otentik halal Kupang

Aroma khas ikan pari asap dengan daging yang legit, tempe goreng yang amazingly ternyata bisa mengalahkan tempe goreng Cirebon kota kelahiran saya, yang selalu saya puja sebagai tempe goreng terbaik hahaha! Tempe berbentuk segi tiga yang masih hangat digoreng kering dengan bumbu yang juga pas buat saya juaranya sih! Untung saya ambil dua tempenya hahaha. 

Telur dadarnya pun sebetulnya sesederhana itu bukan jenis telur dadar barendo. Sederhana tapi legendaris dan bertahan lintas generasi. Pasti salah satunya karena semua served freshly, langsung dari dapurnya yang bisa kita lihat langsung. Jadi semua masih hangat dan sangat cocok jadi menu makan malam dengan suasana khas ala pasar di tengah kota Surabaya. Untuk minumnya kamu bisa pilih air mineral, teh atau air jeruk bisa hangat atau dengan es. Cocok banget kan?

Perjalanan singkat ke Surabaya kali ini mengingatkan saya bahwa makanan memang punya cara unik untuk menyimpan kenangan. Kadang kita kembali ke sebuah kota bukan hanya untuk tempat-tempatnya, tetapi untuk rasa yang pernah tinggal lama di ingatan. Tiga tempat ini mungkin hanya sebagian kecil dari kekayaan kuliner Surabaya, tapi cukup untuk mewakili rasa Surabaya yang akan terkenang untuk diulang kembali suatu waktu. Sebuah kota sering kali paling mudah dikenang lewat rasanya bukan?

To sum up, aku sih bisa bilang kalau ketiga kuliner Surabaya ini memang punya karakteristik tersendiri:

  • Untuk suasana nyaman terutama bersama keluarga dan orang-orang terdekat → kamu bisa makan di Rodjo Mongso
  • Untuk makan siang atau makan malam mengenyangkan dengan kuah hangat → Soto Cak Har jadi pilihan yang cocok kamu coba.
  • Untuk pengalaman kuliner khas Surabaya → Sego Sambel Mak Yeye wajib kamu coba!

Well, Kalau kamu ke Surabaya, kuliner mana yang selalu wajib kamu datangi?Yuk boleh share infonya, siapa tahu Mom of Trio bakal ke Surabaya lagi.

No comments

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.