Shinsaibashi Dotonbori dan Glico Running Man Yang Bikin Penasaran



Shinsaibashi dan Dotonbori adalah dua kawasan ikonik yang saling terhubung di Osaka, Jepang. Shinsaibashi terkenal sebagai pusat belanja tertutup (arcade) yang menjual pakaian dan kosmetik, sedangkan Dotonbori terkenal dengan kanal gemerlap, lampu neon, papan reklame raksasa Glico Man, dan wisata kuliner jalanan.

Dotonbori adalah jantung hiburan dan kuliner di Osaka. Sebuah kawasan hiburan dan kuliner yang terletak di sepanjang kanal Dotonbori di distrik Namba. Dotonbori dikenal dengan pemandangan neon yang terang dan mencolok, serta berbagai macam restoran dan bar yang menyajikan hidangan khas Osaka. Dotonbori juga merupakan tempat yang cocok untuk menikmati suasana malam yang meriah dan berwarna-warni.

Dibangun dan operasional sejak tahun 1612, kawasan Dotonbori ini terletak di tengah area Shinsaibashi yang menjadi surga belanja. Nama Dotonbori digunakan untuk menyebut kawasan yang membentang sepanjang Kanal Dotonbori, dari Jembatan Dotonboribashi hingga ke jembatan Nipponbashi di distrik Namba, Osaka. 

Baca: Tsurumi Ryoukuchi Park - Osaka

Jujur hari itu cukup melelahkan karena memang sebetulnya semua destinasi yang kami kunjungi akan lebih bisa dinikmati jika dibagi dalam beberapa hari kunjungan. Namun jika kita hanya tak ingin melewatkan destinasi populer di Osaka maka one day trip yang sangat padat ini mungkin bisa jadi pilihan kamu juga jika ke Osaka. 

"Kalau tidak sekarang, entah kapan lagi," begitu kira-kira yang saya pikirkan waktu itu.

Cahaya lampu neon berwarna-warni menyambut. Jalanan dipenuhi orang dari berbagai penjuru dunia. Toko-toko masih ramai, mungkin makin ramai di jam-jam tersebut,  restoran dipenuhi antrean, aroma takoyaki dan okonomiyaki menguar dari setiap sudut, sementara tawa dan percakapan orang-orang berpadu dengan gemerlap papan reklame yang seolah tak pernah tidur.

Di sepanjang kanal tersebut, terdapat ratusan bahkan ribuan pertokoan yang bisa disinggahi untuk berbelanja. Produk yang dijual juga meragam macam. Restoran juga sangat banyak di sepanjang kawasan ini. Siapkan dompet dan perut yang kosong, tas untuk beli oleh-oleh, dan kaki yang kuat untuk menyusuri keriuhan sepanjang Shinsaibashi - Dotonbori.

Baca juga: Osaka Castle: Iconic, Historical, & Majestic

Shinsaibashi Shopping Arcade. Area ini sudah menjadi kawasan tempat perbelanjaan sejak zaman Edo, yaitu sekitar 380 tahun lalu. Membentang sepanjang kurang-lebih 580 meter dari Dotonbori hingga Nagahori Dori, kamu bisa puas berbelanja pakaian, makanan khas Jepang, pernak-pernik lucu, hingga kosmetik di sini.

Saya sendiri lebih tertarik membeli beragam produk kesehatan Jepang yang membuat saya terheran-heran. Unik-unik dan ada aja sih idenya mereka untuk inovasi produk medisnya. Banyak ang baru aku nemu di sini, tapi bikin aku langsung respon "wow kok kepikiran yang bikin kayak gini."  Menurut saya, produk-produk kesehatan ini bisa juga dijadikan oleh-oleh ketimbang souvenir yang mungkin sudah biasa. 

Bahkan semacam beragam jenis koyo yang unik dan bakal terpakai banget gitu sih. Produk kosmetik dan skin care juga bisa jadi pilihan untuk dicari di toko-toko yang berjejer sepanjang kawasan. Suasana malam dengan lampu  neon warna warni yang sangat meriah menjadi karateristik khas dari kawasan  Shinsaibashi Dotonbori.



Atmosphere Dotonbori, terasa berbeda dengan kota-kota lainnya yang saya kunjungi selama beberapa hari itu di Jepang, Osaka, Kyoto, dan Nara. Dotonbori punya aura yang beda dan khas. Dotonbori memiliki energi yang sulit dijelaskan. Riuh, hidup, penuh warna, tetapi justru menghadirkan pengalaman tersendiri.  Meski tubuh sudah sangat lelah, rasa penasaran mengalahkan semuanya. Hmm mungkinkah saya akan menemukan vibes yang serupa jika ke Tokyo? saya belum pernah menikmati Tokyo, hanya sekedar transit  saja.

Saya dan teman-teman berjalan menyusuri kanal Dotonbori, sesekali berhenti melihat etalase toko atau memperhatikan orang-orang yang sibuk mengabadikan momen mereka. Sampai akhirnya kami tiba di satu tempat yang paling saya tunggu. Ikon Glico Running Man (papan iklan pelari berukuran besar).


Rasanya hampir semua orang yang datang ke Dotonbori akan berhenti di sana. Begitu pula kami. Di tengah keramaian yang luar biasa, kami ikut mengantrei mencari sudut terbaik agar bisa mengabadikan foto dengan latar papan reklame legendaris tersebut. Lucunya, setelah berhasil mendapatkan foto itu, rasa lelah plus cuaca dingin yang menusuk terasa hilang sesaat.  Sejenak seperti menguap begitu saja. Kadang memang begitu ya rasa excited menyulap rasa.

Baca: Aquarium Kaiyukan & Ferris Wheel di Tempozan Harbor - Osaka Bay




Selain berpoto dengan ikon terkenal seperti Glico Running Man, menarik juga mengambil gambar dengan latar belakang Kani Doraku Crab Raksasa (kepiting raksasa yang dipajang di depan restoran Kani Doraku), Kuidaore (boneka berbaju badut yang sedang memukul drum), dan papan-papan reklame besar lainnya yang bersinar dengan lampu neonnya.

Usai mengantri dan sedikit berebutan mengambil gambar yang mungkin kurang maksimal, saya berdiri beberapa saat, hanya untuk menikmati suasana. Melihat ramai dan riuhnya suasana sambil merapatkan jaket. Perjalanan memang akan berakhir. Namun, kenangan-kenangan kecil seperti ini sering kali justru menjadi alasan mengapa kita selalu ingin kembali menjelajah dunia.

Dalam perjalanan, ada momen-momen yang tidak bisa diukur dari seberapa jauh kita berjalan atau seberapa lelah kita setelahnya. Ada kenangan yang justru lahir ketika kita memutuskan untuk tetap melangkah, meski tubuh sebenarnya ingin berhenti.


Kini, setiap kali melihat foto-foto itu kembali, yang saya ingat bukan hanya kemegahan lampu-lampu Dotonbori atau ramainya orang yang berlalu-lalang. Yang saya ingat adalah perasaan malam itu—antara lelah, penasaran, bahagia, dan rasa syukur karena sempat menikmati salah satu sudut Jepang yang ikonik.

9 comments

  1. Berasa ikut menyaksikan wara wirinya orang di pusat jantung hiburan dan kuliner di Osaka.
    Setiap ada keramaian, saya memang paling suka mengamati lalu lalang orang, mengamati berbagai outfitnya, hingga gaya jalan dan tatanan rambut
    Andai waktu tidak berjalan, rasanya selalu pengen berlama-lama nongkrong santai seperti itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. sayangnya suhu cukup dingin teh, jadi klo mau nongkrong mendingan di dalam. resto/cafe sih

      Delete
  2. Membaca kata "Glico" langsung mengingatkan saya dengan es krim Glico. Es krim dari Jepang yang suka ada di supermarket hehehe. Saya kayaknya juga bakal sama deh kayak Mbak Ophi. Kalau ke suatu tempat yang jarang didatangi, rasa cape diabaikan dulu. Karena belum tentu bisa setiap saat ke sana yakaaan.

    ReplyDelete
  3. Menarik banget nih Dotonbori. Aku pun kalau ke Jepang, pengen banget explore area ikonik dan bener sih tempat yang satu ini mesti dikunjungi saat malam hari, lightning nya cakep dan banyak spot foto ciamik.

    Happy nya nular deh, aku yang baca pun ikut bahagia dan serasa diajakin explore tempat ikonik Jepang.

    ReplyDelete
  4. Kenangannya indah banget mba tidak semua orang bisa punya kesempatan untuk menjelajah keluar, semoga saya dan anak saya bisa punya kenangan dan momen jalan jalan ke LN, hehe.

    ReplyDelete
  5. Kalau sudah bicara Dotonbori dan Glico Man, rasanya Osaka langsung punya “wajah” sendiri ya. Foto-foto dan ceritanya bikin kebayang ramainya suasana Shinsaibashi sampai Dotonbori. Ini salah satu kawasan yang kalau ke Osaka rasanya memang belum lengkap kalau belum mampir dan foto di depan Glico Man. Jadi pengen jalan-jalan ke Jepang lagi deh!

    ReplyDelete
  6. LIhat foto-fotonya udah kaya di alam hiperealitas ya mbak, dan uniknya udah berumur 380 tahun. Ini pasti memanjakan mata banget ya, lihat kerlap kerlip sekaligus wisata belanja...

    ReplyDelete
  7. Vibes Dotonbori emang berasa banget riuhnya. Bener banget, kalau udah di sana walau capek dan dingin tetep gaskeun foto bareng Glico Man biar gak penasaran! Hehehe

    ReplyDelete
  8. Wah kalau sudah ada dari masa kerajaan edo pasti seru nih ya melihat bagaimana perkembangan kawasan shinsaibashi ini dari waktu ke waktu. ini jadinya kayak malioboro ya, mbak kalau di jogja?

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.