Haruskah Si Kecil Berani Tampil Ke Depan?




Haruskah si kecil berani tampil ke depan?
"Mba, gimana ya. Anakku nih kalau sekolah minggu trus diminta maju ke depan pasti gak mau"
"aku jadi gemes deh, selalu gak mau mba..., aku jadi gak enak berasa jadi Mami yang gimana gitu, sampe harus rayu-rayu dia terus supaya mau maju."
"Sampai akhirnya aku rayu dengan hadiah tertentu, baru deh dia mau maju ke depan, gemes aku".

Begitu kurang lebih curhatan Mami Gorjess, demikian kami memanggilnya. Rekan yunior di kantor yang baru memiliki satu anak laki-laki usia balita.

Hmm saya gak bisa kasih saran banyak waktu itu, Trio Krucils termasuk anak-anak yang terhitung pemalu dan sulit diminta maju ke depan. Saya juga kadang suka gemes, tapi belakangan saya berpikir ulang. Kenapa mereka harus mau dan berani tampil? Memang harus gitu?

Saya sempat sampaikan ke teman saya, "sudah ditanya baik-baik, kenapa abang gak mau maju ke depan?",  "Udah mba, jawabnya ya gak mau aja", "makin gemes kan?", Naah itulah anak-anak.

Setelah mereka mulai bisa diajak bicara, saya juga sering mengajak anak-anak bertukar pikiran soal ini. Kenapa kalian sulit jika diminta tampil atau maju ke depan?

Jawaban secara umum sama. "Malu..."
Lalu saya kejar lagi, "kenapa malu?"
"Ya malu aja buuu... malu kalau dilihatin orang" ini jawaban Ka Zaha
"Malu bu, takut salah kan nanti malu.." ini jawaban si perfectionist Ka Alinga
"Aku kan gak mau, kenapa dipaksa?" ini jawaban Dek Paksi.

Berdasarkan pengalaman Trio Krucils, keberanian tampil di depan memang bukan hal instan. Walaupun ada typical anak yang memang sudah dari sananya "pemberani", "cuek", atau malah suka menjadi "fokus perhatian", berbakat jadi "seleb". Namun secara umum anak-anak memang butuh support lebih untuk punya keberanian tampil di depan. Hmmm btw, bukan cuma anak-anak sih ya, kita orang dewasa juga banyak yang masih gagap jika diminta tampil ke depan. Naah kan?

Hal yang memang harus kita cari tahu adalah mengapa mereka tidak mau ke depan? Dari sini kemudian kita akan mencari lebih jauh "mengapa" demikian?"

Mostly jawabannya adalah malu, mengapa malu? atau takut, mengapa takut?

Ka Alinga sangat pemalu. Saya ingat saat dia harus tampil di depan umum untuk pertama kalinya di TKnya dengan pakaian adat saat acara kartini di sekolahnya. Ia tampak sangat malu, gelisah, terlihat dari rona mukanya, tangannya yang meremas jari tak henti tanda gelisah, dan kakinya yang seolah sulit digerakkan untuk melewati panggung. Saat itu ada adik kelasnya justru sangat berani dan percaya diri melenggang di atas panggung. Dipastikan anak ini kemudian menjadi juara. Lain lagi bahkan ada anak yang menangis dan tak mau melepas genggaman ayahnya saat namanya dipanggil ke panggung.

Well, setelah mereka mulai merasa nyaman dengan panggung ternyata anak-anak lebih berani tampil. Terbukti kemudian saat harus tampil bersama-sama temannya menarikan suatu tarian daerah, Kakak nampak lebih enjoy.

Kondisi serupa juga terjadi pada Ka Zaha kecil.

Agak berbeda dengan Dek Paksi. Meski masih ada rasa malu dan sesekali malas tampi ke depan. Belakangan karena dipercaya oleh gurunya memimpin di kelas (secara bergiliran), maka sejak TK B Dek Paksi mulai berani tampil ke depan. Lebih tepatnya lebih santai dan menikmatinya. Awal-awalpun dia mengalami hal serupa. Meski saat ditanya jawabannya "bukan malu, tapi tidak mau dan aku tidak mau dipaksa. Ibu mah orang aku gak mau, kok dipaksa".

Baca Juga: Ibu bekerja, Premium Moment, dan Pengembangan Karakter Anak

Sejak dipercaya menjadi imam dalam lomba sholat berjamaah antar sekolah TK dan memenangkan lomba tersebut, saya lihat kepercayaan dirinya mulai tumbuh. Saat di sekolah pun kabarnya mereka bergiliran ditugasi memimpin rutinitas kegiatan sekolah seperti memimpin doa, memimpin sholat di antara teman-temannya, menjadi petugas upacara dan seterusnya.

Selaras dengan itu, saat di rumah saya juga mencoba membangun kepercayaan diri Dek Paksi dengan memberinya kepercayaan dan tugas memimpin dan tugas yang saya kira mampu meningkatkan rasa percaya dirinya. Memberinya kepercayaan berarti membantunya membangun percaya diri.

Ka Zaha, saat ditanya, sekarang sudah lebih berani jika diminta maju ke depan atau berbicara di depan kelas. Kalau Ka Zaha bercerita pada saya rasa malunya lebih dikarenakan rasa percaya dirinya yang kurang, takut salah, dan takut dimarahin. Melihat kondisi ini saya tentu tidak bisa dengan mudah mengubahnya. Saya tahu saya perlu proses membuatnya mengubah cara pikirnya akan rasa malu, rasa percaya diri yang rendah, rasa takut salah, atau takut dimarahi. Saya tahu butuh waktu untuk membangun rasa percaya dirinya.

Semua orang bisa melakukan kesalahan, tapi melakukannya bukan sesuatu yang buruk tidak apa kita melakukan kesalahan untuk kemudian belajar dan memperbaikinya. Untuk membangun rasa percaya dirinya, saya juga mensupportnya untuk bisa memperbaiki dirinya. Jangan malu bertanya karena tidak tahu atau tidak paham. Karena semua orang pasti awalnya tidak tahu dan tidak paham sampai dia berusaha mencari tahu dan seterusnya.

Ka Al, sedikit berbeda. Sifat pemalunya memang belakangan alhamdulillah mulai bisa diatasinya. Si sulung ini rupanya mendapati rasa malunya dari sifat perfectionist-nya. Ia malu jika saat dia tampil di depan tidak melakukan dengan baik dan sempura, semacam itulah. Khusus untuk dia, saya tekankan padanya bahwa apapun yang ingin dan akan dilakukannya jangan pernah berniat untuk memuaskan orang lain, mendapat pujian, atau sekedar ingin dihargai. Lakukan apapun termasuk saat harus tampil ke depan karena kita menikmatinya, kita nyaman karenanya.

Sebetulnya Ka Al cukup memadai dalam aspek akademik. Dia juga punya bakat-bakat tertentu yang jika diasah dan diarahkan dengan baik mungkin akan menjadi sesuatu yang diminatinya. Jika dibutuhkan untuk tampil maka kendala yang dihadapinya adalah menghadapi rasa takut akan mengecewakan dirinya dan orang lain. Ikut lomba takut kalah, takut salah, takut tidak tampil cukup baik dan seterusnya. Saya merasa punya PR yang khusus menghadapinya.




So far, semua masih berproses. Saya berharap bersama waktu mereka bisa menikmati momen saat harus berada di hadapan orang banyak. Bahwa meskipun memang ada yang merasa ogah tampil dan sah-sah saja jika tidak ingin menjadi 'spot light', namun setidaknya tidak alergi saat harus maju ke depan.

Baca juga: Kurang Pintar Vs Malas

Saya mencoba menekankan termasuk kepada diri saya sendiri bahwa tidak ada yang akan memaksamu untuk berani tampil di depan. Namun saat kita harus melakukannya, maka lakukanlah tanpa merasa terbebani. Bicara di hapan orang lain, tampil di depan publik, kadang bukan suatu bakat namun bisa dilatih. Kepercayaan diripun bisa ditumbuhkan dan berproses. Pada akhirnya, di saat kita harus melakukannya, kita merasa nyaman. Tidak harus menjadi sempurna dan menjadi orang lain saat ada di depan publik, cukup menjadi diri sendiri dan menerima diri kita apa adanya. 

Well, panjangnya cerita saya. Hmm jadi kemudian berdasarkan beberapa sumber yang saya baca memang ada beberapa faktor yang menyebabkan anak tidak berani tampil  di muka umum.

Faktor Penyebab Anak Enggan Tampil


Faktor Internal


Sebagian penyebabnya bisa berasal dari diri anak itu sendiri (diri kita sendiri). Faktor internal ini memang sangat erat dengan kepribadian si anak. Anak dengan kepribadian yang pemalu misalnya. Bukan karena dia tidak mampu, bukan juga karena dia tidak mau, dia hanya malu. Selain itu memang ada pribadi anak yang introvert. Pribadi yang tertutup cenderung menolak dan enggan menjadi pusat perhatian. Tampil di depan artinya membiarkan orang lain melihat dan fokus pada kita. Pribadi introvert tidak nyaman dengan kondisi ini.

Faktor internal lainnya bisa dipicu oleh kondisi fisik anak. Ini bisa terkait erat dengan bullying yang mungkin tanpa sadar pernah diterimanya karena kondisi fisik anak. "si gembrot" atau sebaliknya "si kuntet", "si hitam", "si kribo".  Kondisi fisik yang seharusnya bukan menjadi bahan bully dan membuat si kecil makin tak percaya diri. Bahkan meski tak ada peristiwa bullying sekalipun, pada beberapa anak, kondisi fisiknya yang mungkin berbeda dapat menjadi penghalang untuk tampil percaya diri. Mohon maaf misalnya sesepele susunan gigi yang tidak rapi, bentuk muka yang tidak simetris, suara yang aneh misalnya, dan sejenisnya.

Selain bullying karena fisik anak, pengalaman buruk atau trauma juga menjadi faktor yang cukup berat untuk kita rehabilitasi. Sebagai orang tua kita harus memastikan anak-anak terbebas dari trauma atas pengalaman buruk yang dihadapinya. Jikapun sudah terjadi pastikan kita memperbaikinya, mengobati, dan membangun kembali rasa percaya dirinya.


Faktor Eksternal

Selain faktor internal, faktor yang sangat mungkin menjadi penyebab adalah hal-hal yang datang dari luar diri si anak. Hal yang sangat signifikan adalah pola asuh dan pola didik anak. Beberapa pola asuh yang harus kita cermati sebagai orang tua sebagai salah satu penyebab kurangnya rasa percaya diri anak adalah pola asuh dan didik yang keras, kasar,  tidak dihargai,  kecurigaan, negatif thinking, persaingan tidak sehat,  sering dimarahi, diremehkan, diejek, tidak konsisten, dan sejenisnya.

Sayangnya kadang kita tidak menyadari hal tersebut karena menganggapnya sebagai hal yang biasa. Hal ini bisa juga terjadi karena trauma dan pengalaman yang sama yang dijalani orang tua.

Demikian juga orang tua yang kurang percaya diri juga bisa menjadi pemicu tidak percaya diri anak-anak. Bagaimana mungkin anak bisa percaya diri, jika orang tuanya tidak percaya diri.

Pengaruh lingkungan merupakan aspek yang juga sangat mempengaruhi keberanian anak tampil. Berada dalam lingkungan yang tidak supportif membuat anak-anak enggan meningkatkan kemampuan dan rasa percaya dirinya. Selain itu kurang sosialisasi atau kurang gaul juga bisa menjadi pemicu. anak-anak yang tidak terbiasa bersosialisasi dan bergaul dengan banyak orang sangat mungkin tidak mau dan tidak berani tampil di depan.



Bagaimana Mengatasinya?

Sosialisasi

Jika anak-anak memiliki sifat pemalu, supportlah agar Ia mau bersosialisasi dan memiliki banyak teman. Ajak anak untuk gabung di club minat tertentu atau ajak anak-anak saat arisan keluarga atau arisan teman sekantor dan biarkan Ia menjalin komunikasi dengan anak seusianya. Dengan memiliki banyak teman dan mudah bergaul akan sangat membantu keberaniannya tampil di antara mereka, selain tentu saja membantunya merasa nyaman saat harus tampil di hadapan umum.

Bangun Rasa Percaya Dirinya

Bangun rasa percaya dirinya dengan menunjukkan padanya kelebihan yang dimilikinya dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun. Tidak harus Ia pintar, Ia cantik, Ia sempurna, tapi sifat penyayangnya misalnya merupakan kelebihan yang bisa membuatnya diterima di lingkungan pertemanannya.

Berlatih

Saat harus tampil karena penugasan atau kewajiban tertentu penting untuk membantu mereka agar bisa tampil dengan nyaman. Latih dan bantu mereka dengan berinteraksi secara langsung. Lakukan banyak latihan agar bisa lancar saat tampil.

Hargai Usahanya

Jangan lupa hargai setiap usahanya membangun rasa percaya dirinya. Kalah dalam lomba, melakukan kesalahan di depan, sikapilah sewajarnya agar anak-anak tidak larut dalam kecewa dan justru membuatnya kapok. Menunjukkan empati saat mereka malu atau takut tampil juga akan membuat mereka merasa lebih nyaman dan dipahami. Mengkritik merupakan kondisi yang harus dihindari. Bukan berarti kita tidak boleh memperbaiki hal-hal yang masih kurang, namun sebaiknya tidak disampaikan dalam bentuk kritik. Selalu gunakan cara positif.

Tampil Beramai-ramai

Salah satu cara membangun rasa percaya diri juga antara lain dengan memberikan kesempatan mereka untuk maju atau tampil beramai-ramai. Mulai dari tampil beramai-ramai ini akan ada masanya ketika sudah mulai nyaman, mereka berani tampil sendiri.

Biarkan Semua Berproses

Pun, kita tidak harus memaksakan dengan memberikan target tertentu. Biarkan semua berproses secara natural. Karena terkadang tidak mau tampil bukan berarti tidak percaya diri.  Tapi memang tidak mau saja, mungkin akan ada masanya mereka mau dengan sendirinya. Rupanya kita sebagai orang tua perlu lebih cermat lagi untuk mencari tahu mengapa? apa penyebabnya dan bagaimana sebaiknya mengatasinya.

Tidak mau tampil tidak selalu tidak percaya diri, mungkin dia hanya lelah #eh...

Suatu kali, Dek Paksi mogok berangkat ke acara wisuda yang sudah dipersiapkan jauh hari. Enggan mandi, agak dipaksa akhirnya mau mandi. Tapi tetap tidak mau mengenakan baju yang seharusnya. Mogok sarapan. Mogok berangkat sampai waktu dimana seharusnya Ia sudah siap di venue acara. Saya sudah melakukan segala cara mulai dari bicara baik-baik, merayu, meninggikan nada suara, hingga sedikit mengancam, dia bersikeras tak mau berangkat.

"Kasihan Miss dan teman-teman yang sudah menunggu Adek"

Tak bergeming...

Saya menyerah, Laa haula wala quwwata illa billah. Ya Allah aku serahkan padamu...

Saya sudah rapih, ayahnya juga sudah siap mengantar. Dia masih tak bergeming, muka yang ditekuk, tak mau mengenakan baju jas yang sudah disiapkan jauh hari.

Baca juga: Dek Paksi, Anugrah sang Maha Baik pada Kami

Saya bingung bagaimana memaksanya karena Dek Paksi harus tampil bersama teman-teman dan memimpin pembacaan Ayat Qursi dan beberapa surat pendek di panggung nanti.

Handphone saya menyala...

"Ibu, Paksi sudah sampai di mana? Kami sudah tunggu ya...bla bla bla..."

"Maaf Miss, Paksi masih di rumah nih. Gak mau berangkat, bla bla bla..."

"Lhoo kenapa nak.... bla bla bla..."
Suara Miss Yuli di seberang sana terdengar penuh kecemasan.
Saya mengeraskan suara di hp agar Dek Paksi mendengar suara Miss.

Saya sungguh tak tega mendengar suara Miss Yuli.

Akhirnya saya yang hampir menyerah kembali merayu Dek Paksi. "Ya udah gak papa gak mau pake baju kita berangkat aja yuuk. Gak papa adek pake kaos ini."

Baju jas dan sepatunya kami bawa di mobil.

Setelah saya coba diskusi dan tanya baik-baik sepanjang perjalanan, "kenapa adek gak mau pergi?"

Jawabannya jeng jeng...

"aku gak mau tampil ke depan, aku gak mau pimpin baca surat..."

Lhoo kan kemarin udah gladi resik dan lancar-lancar aja

"Lhoo kenapa dek?"

Hmm adek grogi ya?

"Aku gak mau, aku gak mau kalau gak pake mic, kemarin kan gak pake mic, suaraku serak bu..
aku juga belum lancar surat Al Ma'un nyaa.."




"Hmm yuuk kita sambil baca-baca ulang surat al Ma'unnya di mobil. Iya nanti Ibu bilang Miss, adek maunya pake mic..."

Saya dengan semangat mengajaknya mengulang surat al Ma'un. Hmm dia hanya lupa beberepa kata di awal saja. Pasti karena grogi. Ayat berikutnya sudah lancar. Saya juga ulang-ulang ayat kursi yang harus dipimpinnya.

Saat dia sudah lebih teryakinkan kalau dia bisa dan hafal. Saya pelan-pelan memakaikan bajunya. Masih ogah-ogahan dan pakai syarat ini itu. Alhamdulillah mendekati tempat acara baju dan sepatunya sudah terpakai rapih. Mukanya masih memerah bekas menangis, hidung tomatnya tidak bisa menutupi sisa menangis.

Sesampainya di tempat , disambut Miss dan teman-teman yang sudah siap berbaris hendak memasuki ruang di mana panggung berada. Tak butuh waktu lama dia sudah terlihat relaks dan bercanda seru dengan teman-teman. Beres urusan administrasi saya segera menyuapinya beberapa gigitan roti untuk mengganjal perutnya.

Duuh nak, rupanya kamu grogi. Hmm wajar kok!

Alhamdulillah, Paksi bisa lancar memimpin teman-teman pada saat penampilan mereka membacakan ayat kursi dan surat-surat pendek. Duuh leganya :)

Selamat belajar Mommies....

Biarkan si kecil tampil dengan nyaman, bukan karena harus tampil.

1 comment

  1. Anakku tipe yang ga pemalu banget. Kadang malah minta maju. Tapi ada kalanya juga ga mau. Anak2 suka gabisa ditebak. Dan semakin mereka dipaksa malah tensinya semakin naik. Kadang gemes. Tapi kalo ikutan panik nnti efeknya bisa jangka panjang jadi trauma ya

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.