Pemecahan Guinness World of Records, The Largest Poco-Poco Dance, Yayy Hidup Indonesia


Euforia Asian Games pasti masih terasa banget ya. Hmm gimana enggak sih. Kita aja menunggu 50 tahun lebih untuk bisa kembali jadi tuan rumah acara keren ini. Kalau tidak salah kita jadi tuan rumah Asian Games yang ke 4 pada tahun 1962 dan akhirnya karena tahun ini seharusnya Vietnam atau Kamboja ya yang jadi tuan rumah, namun ternyata mereka tidak siap sehingga kesempatan tersebut jatuh ke tangan Indonesia.



Sebelum gemuruh euforia Asian Games benar-benar saya rasakan, euforia menyambut Asian Games sudah terasa ketika saya menerima undangan untuk masuk dalam group yang akan ikut memecahkan GWR (Guinness Worlds of Records). Dari kantor diminta 2 regu masing-masing terdiri dari 50 orang untuk ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Masing-masing regu perwakilan dari Korpri dan DWP (Dharma Wanita Persatuan). Saat saya menyanggupi dan mengisi form keikutsertaan yang ada di pikiran saya hanyalah pingin berpartisipasi dan setelah sekian purnama tidak pernah senam siapa tahu  jadi rajin senam lagi.

Satu-satunya olah raga yang paling saya suka, karena mudah dan gembira adalah senam. Renang, suka pusing mikirin kulit muka yang gosong setelahnya. Maklum renangnya bareng bocah yang sampai siang gak mau mentas. Sesekali badminton, tapi seringnya direcokin Paksi. Ya sudah badminton ala-ala aja.

Kami mendapat jadwal latihan sekitar 8 kali untuk mempersiapkan diri. Ada dua kali latihan yang tidak bisa saya ikuti karena sedang dinas luar kota. Beberapa kali sebetulnya saya juga tengah dinas di luar kantor, namun masih di hotel dalam kota. Jadi pagi-pagi dari hotel saya sempatkan diri datang ke kantor untuk ikut latihan. Selesai latihan cuss balik ke hotel karena rapat mulai sekitar jam 10.

Untung ada Babang Gojek dan Grab yang siap mengantar dan menjemputku :) Selama latihan selain memang saya merasa butuh latihan karena belum begitu hafal dengan gerakannya dan terasa masih kaku karena sudah lama sekali tidak senam, saya melakukannya dengan happy. Sebagai bentuk "me time" dan relaksasi.

Baca Juga: Tips Tampil Cantik dan Atraktif dengan Kulit Putih, Cerah, dan Mulus



Seminggu menjelang hari H yakni 5 Agustus, keluar jadwal yang mengharuskan saya dinas luar. Alhamdulillah bisa nego kalau kami (saya dan Restu teman satu tim yang kebetulan juga ikut group Poco-Poco Dance DWP) pulang lebih dulu di tanggal 4 Agustus pada jam penerbangan terakhir ke Jakarta.

Malam-malam di hotel kami bahkan menyempatkan diri latihan. Maklum ada gerakan yang saya masih suka keliru di gerakan menombak. Latihan di kamar nan sempit nabrak-nabrak kasur sambil liat video tariannya di smartphone. Demi apa coba? demi Indonesia dung. Gayaaa :)

Kami pulang dengan penerbangan terakhir malam itu. Sampai di Bandara Soeta sekitar 22.30 WIB. Kalau saya sampai rumah sekitar pukul 24.00 WIB. Malam-malam, ternyata banyak pekerjaan konstruksi sepanjang jalan. Jadilah tetap harus bersabar sampai rumah. Kami harus kumpul pukul 04.30 WIB di kantor dan paling telat pukul 05.00 akan berangkat menuju tempat yang telah ditentukan. Lewat jam 05.00 bakal ditinggal sama rombongan di kantor.



Baca Juga: Hijrah Yuk Ke Pola Hidup Sehat

Daan saya kesiangan dung. 04.00 lewat baru bangun. Kaget, langsung mandi, ganti baju yang alhamdulillah semalam sudah saya siapkan. Ya saya ingat saya harus wudhu dan menjaga wudhu karena kemungkinan kami sholat di lokasi. Belum sempat make up pastinya. Saya sudah pasrah, berangkat bahkan tanpa sarapan masih ngantuk pulak. Semalampun belum ketemu anak-anak.

Suami ngebut, alhamdulillah jalanan lancar. Sempetin pakai hijab dengan hiasannya di mobil. Sempetin sarapan satu buah pisang. Pas bus rombongan mau berangkat saya sampai di parkiran kantor. Langusng cuss,  alhamdulillah masih mendapat kursi. Langsung pinjam alat lenong dari teman-teman dan dandan di mobil. Sarapan yang dibagikan gak saya sentuh.  Bus berhenti di area yang diperkirakan tidak jauh dari titik lokasi kami. Sebagian termasuk saya berinisiatif sholat dalam bus. Ternyata banyak rombongan lain yang sudah datang dan sholat di lokasi.

Subuh itu puluhan ribu orang dengan baju seragam putih-putih nuansa merah membentuk barisan. Monas merupakan titik awal berbaris hingga ke Jalan Jendral Sudirman. Berbaris di sisi luar jalan raya, sisi kanan dan kiri. Kami dari DWP Setjen dan BK DPR RI mendapat tempat di Gate 24 nomor 97. Hmm sekitar gedung Hotel Le Meridien deh... Kami ber 50 bergabung dengan 65.000 orang lainnya, di pagi hari 5 Agustus ini penuh semangat mengobarkan merah putih di dada kami. Beneran ada rasa haru berada di sana di antara ribuan orang berseragam merah putih ini.

Gerakan Poco-Poco khusus untuk pemecahan GWR ini sudah dimodifikasi dari gerakan awalnya. Ada gerakan pembuka, perantara, dan penutup yang merupakan gerakan tarian nusantara. Mulai dari gerakan tari dari Aceh, Bali, Kalimantan dan Papua.

Adapun gerakan inti dikombinasikan dengan gerakan olaharaga. Setelah gerakan pembuka yang merupakan modifikasi tarian dari Aceh gerakan inti pertama merupakan gerakan asli poco-poco. Gerakan inti kedua modifikasi gerakan poco-poco dengan gerakan olahraga dayung. Kemudian gerakan selingan/perantara pertama merupakan modifikasi tari kecak, Bali.



Gerakan inti ketiga modifikasi poco-poco dan gerakan memanah, keempat menombak. Kemudian diseling dengan tarian dari Kalimantan. Lanjut gerakan inti kelima poco-poco dengan modifikasi berkuda dan keenam poco-poco modifikasi dengan gerakan silat. Terakhir ditutup dengan modifikasi tarian Papua. Totally ada 6 gerakan inti dan 4 gerakan pembuka, perantara, dan penutup. Semua gerakan ini memakan waktu sekitar 6 menit saja. Alhamdulillah tunai sudah tugas ini, Yayy...




Indonesia semangat memecahkan GWR untuk tarian ini karena kabarnya negara tetangga pernah juga mengklaim tarian ini dan memecahkan recordsnya. Tarian Poco-Poco ini bagus untuk penderita Alzaimer. Nah di Malaysia pemecahan tarian ini secara massal dilakukan oleh para penderita Alzaimer. Sayang saya tidak tahu info lengkapnya.  Naah untuk mengembalikan tarian ini kepada bagian dari budaya nusantara inilah, pemecahan GWR 2018 ini memicu semangat semua pihak yang terlibat.

Btw semua sudah tahu kan Tarian Poco-Poco ini?

Jadi pencipta lagu poco-poco adalah Arie Sapulete, yang menyanyikan dan mempopulerkannya Yopie Latul. Nah pada event pemecahan GWR 5 Agustus lalu, diberikan juga perhargaan pada pihak-pihak yang terlibat. Menpora Imam Nahrawi memberikan penghargaan kepada  Arie Sapulete, pencipta lagu Poco-Poco, yang diwakili oleh putranya. Penghargaan  untuk Yopie Latul diwakili oleh sang istri, mantan pelari nasional Emma Tahapary.

Selain itu Mantan Menpora Bapak Hayono Isman menerima penghargaan atas nama almarhumah ibunda, Els Kaunang Isman, pencetus Lomba Senam Poco-Poco Nusantara (SP2N) Piala Ibu Negara RI yang pertama. Pakar Budaya Ibu Mamik Sutadji mendapatkan penghargaan atas jasanya sebagai koreografer pertama dan terciptanya SP2N dan Dr. Lily Greta Karmel, MA, pendiri SP2N yang konsisten melestarikan serta mengembangkan Poco-Poco.

Selesai menari, kami photo-photo dan kembali ke kantor dan kembali berpohoto di sana. Saya pulang ke rumah naik Commuter Line. Suami dan anak-anak menjemput di Stasiun Jurangmangu. Sesampai rumah dek Paksi langsung nodong mengajari pelajaran tematik untuk ulangan pertamanya di SD. Alhamdulillah gak pake ganti kostum dulu. Hayyyah...

Baca Juga: Orangtua wajib Kompak demi Anak

Well, I am so proud and happy to be part of this great event. Love Indonesia.... Unity ini Diversity.






Oh iya, mampir yaa, di postingan video youtube dari keseruan 5 Agustus 2018 di sini yaa...
Jangan lupa like dan subscribe hahaha.... *muaah

2 comments

  1. Waaah saya juga ikut ini mba tapi di kantor aja, kan di daerah. Seru ya senamnya juga mudah dan ceria musiknya.

    ReplyDelete
  2. Bangga ya ikut berartisipasi di ajang bergensi yang akhirnya merebut kemenangan untuk 'the largest Poco-Poco' dari The Guinnes Record ya. Saluut sama Ophi lho.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.