Bisa Umroh Sekeluarga Semata Karena Panggilan Allah





Ya Allah panggillah kami (lagi) karena hanya dengan panggilanMu kami bisa kembali. Karena panggilanMu lah kami pantas untuk datang menjadi tamu-Mu.

Meski sudah pernah berangkat umroh di tahun 2017, namun saya yakin hampir semua yang pernah merasakan nikmatnya menjadi tamu Allah di Haramain pasti tetap ingin kembali. Bukan karena "gegayaan" atau "sok-sokan" atau apapun. Saya pribadi tetap punya kerinduan untuk bisa kembali ke sana. Saya tanamkan dalam qalbu dengan keimanan dan percaya padaNya. 

Qadarullah tahun 2019 saya kembali ke tanah suci, tidak hanya bersama suami namun dengan ketiga anak kami. Banyak duit? kaya banget? sejujurnya tidak. Uang ada, karena kami harus membayar paket umroh untuk bisa sampai kesana. Kalau kisah umroh yang pertama bisa dibaca di postingan saya tentang bagaimana saya melangitkan rindu untuk menjadi tamuNya (Klik saja ya untuk baca selengkapnya). 

Maka umroh yang kedua punya kisah tersendiri yang juga tidak kalah "drama" - dalam artian positif- karena semua drama dalam hidup kita hakikatnya Allah-lah penulis skenario dan sutradaranya. Bisa kembali menjadi tamu Allah di akhir 2019 lengkap berlima dengan suami dan anak-anak tersebut juga semakin menguatkan keyakinan saya bahwa persoalannya bukan kita punya uang atau tidak tapi Allah panggil atau tidak. 

Ketika Allah panggil, Allah akan mampukan. Jika sudah ada uangnya Allah akan mudahkan gerak hati kita untuk berangkat, jikapun belum ada uangnya serahkan saja pada Allah. Mudah baginya memampukan kita bahkan dengan jalan dan cara yang kita tak duga. Tidak hanya kita tak menduganya, kadang perhitungan  matematika kita sebagai manusia tidak bisa menjawabnya secara rasional. Saya pribadi meyakininya sebagai uangnya Allah, Allah yang atur. 

Tak Menyangka Dipanggil Kembali Secepat Itu

Sayapun meski selalu menyimpan dalam qalbu harapan kembali ke rumah Allah, namun tidak menyangka akan secepat itu bisa kembali ke sana. Tahun 2018 saya membeli kavling tanah produktif syariah yang uangnya saya kumpulkan dengan mencairkan semua tabungan dan asuransi yang saya punya saat itu. Kebetulan niatnya memang juga sedang secara bertahap memutus diri dari riba. 

Setelah semua cicilan berbasis riba bahkan termasuk kartu kredit suami saya tutup (sebagai salah satu ikhtiar memantaskan diri di mata Allah), memang tinggal asuransi-asuransi ini yang masih belum saya closing karena memang terasa masih berat dan justru jadi merugi karena putus kontrak di tengah jalan.



Meski jatuhnya rugi karena ada satu asuransi pendidikan anak yang preminya sudah saya bayarkan full di awal, namun keputusan menutup asuransi ini mungkin adalah jalan Allah menolong saya karena kemudian memang perusahaan asuransi ini ternyata bermasalah. Ribuan nasabah terkatung-katung nasibnya karena gagal bayar. Keputusan kami alhamdulillah tepat. 

Baca: Tips Persiapan Umroh di Musim Dingin

Meski proses pencairannya tidak semulus yang dibayangkan karena rupanya memang kondisi perusahaan suransi tersebut sudah "tidak sehat". Uang tersebut ditambah sedikit tabungan saya belikan kavling produktif. Saya tidak mau mencicil meski ada penawaran untuk mencicil karena memang menghindari hutang dan cicilan semaksimal mungkin, terlebih yang saat itu sudah semua cicilan alhamdulillah kami tutup.

Investasi syariah kavling produktif inipun diniatkan untuk tabungan anak-anak saat kuliah nanti. Jadi berdasarkan perhitungannya memang kavling ini sudah produktif dan menghasilkan sekitar 5 tahun ke depan. Saat itu sulung saya insyaAllah bersiap ke perguruan tinggi. Saya termasuk pembeli di masa awal . maka alhamdulillah mendapat hadiah umroh karena membayar secara hard cash. 

Singkat cerita Qadaraullah hingga tahun kedua, belum tampak niat sang developer menunaikan janji umroh tersebut. Sudah sempat sounding dan dipertemukan dengan biro umroh yang akan menghandle tapi kemudian batal. Saya pribadi tidak terlalu berharap karena saat itu yang saya lihat perkembangan project kavlingnya sendiripun terasa lamban dan perusahaan tampaknya malah fokus gencar melakukan promosi. Rupanya sudah ada semacam pertanda saat itu. Tapi saya coba singkirkan perasaan khawatir tersebut.

Menjelang akhir 2019, ternyata developer secara serius meminta saya menyiapkan diri untuk berangkat. Duh beneran nih? Saya sempat tanyakan apakah bisa digantikan ke orang lain? Bisa katanya. Lalu hadiah umroh itu kami tawarkan kepada Bapak mertua dan salah satu kakak saya. Qadarullah karena memang diminta agak mendadak untuk memasukkan syarat seperti paspor dan kelengkapannya, dan juga mungkin karena cuma satu sehingga baik Bapak mertua maupun kakak saya tidak mengambil tawaran saya tersebut. Intinya keduanya belum terpanggil. 

Saya jujur bisa saja berangkat sendiri, tapi kok gak enak deh berangkat sendiri. Kalau ditunda ke tahun depan, rasanya kami sangsi mengingat jadwal kami sudah mundur. Mereka juga tidak bisa memastikan kesiapan kalau ditunda terkait dengan harga paket umroh dan mungkin perjanjian dengan pihak travel terkait jumlah jamaah yang akan diberangkatkan.

Uang dari Mana? Allah yang Atur Kita Tinggal Sambut UndanganNya

Entah bagaimana qadarullah terpikir oleh saya untuk umroh saja sekeluarga. Hitung-hitung pergi berlima tapi bayar 4 kan? Hitungannya tetap hemat. "Agak nekat" juga sih ide ini. Suami langsung sangsi. Dari mana uangnya kata dia? 

"Yaa gimana kalau gak diambil sayang kan?. Aku pergi sendiri gak enak, kamu sendiri juga pasti gak mau. Sekalian aja berlima."

"Uangnya dari mana?" 

"Bismillah pakai tabungan aku. Gak papa setelah pulang umroh tabunganku habis, nanti mulai nabung lagi dari awal." 

"Tapi gak cukup untuk membayar ber-4 sih"

 Lalu aku tanya tabungan suami. 

"Yah kalau buat biaya 1 orang sih ada" katanya berat.

Jujur saya agak menekankan pada suami keyakinan saya bahwa biaya yang kita keluarkan untuk umroh atau haji itu gak akan membuat kita jatuh miskin. Itukan uang Allah juga, kalau Allah berkehendak kapan aja bisa Allah ambil. Begitu juga kalau Allah mau berikan keluasan rizki, siapa yang bisa menghalangi.

"Ya udah, apa aku berempat saja sama anak-anak kalau kamu berat?"

"Ya enggaklaah..."

Saya memahami keberatan suami. Lebih sulit buat dia untuk menyisihkan penghasilannya. Mengingat tanggung jawab utamanya atas nafkah keluarga termasuk orang tuanya. 

Lalu saya agak tegas menyampaikan kepada suami: "jangan sampai alasannya kamu berat karena takut kita jadi gak punya uang karena pergi umroh. Faktanya uang tabungan saya sebetulnya saya niatkan untuk tabungan haji. Sejak terbuka hati untuk memantaskan diri menjadi tamu Allah, saya memang awali dengan umroh karena kesiapan dana yang rasanya belum mampu kalau untuk haji. 

Kemudian saya memang menabung untuk tabungan haji tanpa antri karena di awal tahun 2019 tersebut di Bulan Mei kami baru mendaftar haji reguler/kuota pemerintah dan ternyata antriannya sudah mengular dan saat itu diperkirakan masa tunggu 19 tahun. Allahu'alam, apakah di usia tersebut kami masih sehat dan ada umur. 

Atas pertimbangan tersebut, saya tetap merasa wajib berikhtiar untuk bisa berhaji sebelum usia 50 tahun mengingat ibadah haji adalah ibadah fisik. Saya pikir tidaklah mengapa menggunakan tabungan yang awalnya untuk haji tersebut, toh tetap dipakai untuk tujuan yang kurang lebih sama. 


"Kita kan bukan memaksakan diri seperti berhutang atau ada tanggungan yang harus dipenuhi saat ini. Ini memang uang simpanan untuk beberapa rencana kita ke depan. Tapi mungkin Allah menyiapkan rencana yang ini, umroh sekeluarga."

Saya juga mengulas salah satu hadits nabi yang menyatakan bahwa haji dan umroh itu menghapuskan kefakiran (kemiskinan) dan dosa-dosa seperti api menghilangkan karat/kotoran pada besi, emas, dan perak.

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

تَابِعُوا بين الحجِّ والعمرةِ ، فإنَّهما ينفيانِ الفقرَ والذنوبَ ، كما يَنفي الكيرُ خَبَثَ الحديدِ والذهبِ والفضةِ ، وليس للحجةِ المبرورةِ ثوابٌ إلا الجنةُ

"Iringilah ibadah haji dengan (memperbanyak) ibadah umroh (berikutnya), karena sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana alat peniup besi panas menghilangkan karat pada besi, emas dan perak. Dan tidak ada (balasan) bagi (pelaku) haji yang mabrur melainkan surga." (HR Imam at-Tirmidzi).

"Masa kita gak percaya sama perkataan Rasul? Gak akan merugi, gak akan kita jadi miskin yah! palingan tabungan kita mulai dari nol kayak di pom bensin."

Entahlah saya demikian menggebu. Pemikiran ini juga datangnya cepat dan karena harus diputuskan dengan cepat supaya bisa segera diurus ini dan itu. Saya entah kenapa merasa perlu meyakinkan Ayahnya anak-anak. 

Pun kondisinya saat itu qadarullah sangat kondusif. Anak-anak sedang libur sekolah, mereka juga sudah memiliki paspor karena saya sengaja membuatkan mereka paspor untuk rencana travelling ke luar negeri yang saya masukan ke wish list di tahun 2019-2020. Pastinya rencana awal gak jauh-jauh lah, ke Singapura atau Malaysia saja. Saya juga sudah searching terkait dengan rencana tersebut. Jadilah di awal 2019 sekitar bulan Maret, kami mengurus paspor anak-anak untuk tujuan tersebut.

Baca juga: Mengurus Paspor Anak-anak di Kanim Tangerang

Kami hanya perlu melengkapi syarat kartu kuning untuk bukti vaksin meningitis sebagai syarat pergi umroh atau haji. Proses inipun berjalan lancar. Anak-anak yang biasanya takut disuntik, alhamdulillah kooperatif. Semua terasa dimudahkan. Seolah-olah memang inilah memang jalan yang harus kami pilih.

Baca juga: Suntik Vaksin Meningitis untuk Umroh

Alhamdulillah keputusan kami untuk berangkat umroh berlima dengan hanya menanggung biaya berempat bisa jadi jalan Allah untuk menunjukkan kepada kami bahwa sesuai janjinya kalau Ia kehendaki kami menjadi tamuNya dan kami terpanggil maka jalan keluar itu ada. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya, karena penyikapan ini hakikatnya ada di wilayah kita. Saat kita menyambut panggilan itu, tidak sulit bagi Allah memampukan kita.

Kenyataan ini juga seperti kembali menguatkan kepada saya bahwa matematikanya manusia itu beda sama matematikanya Allah. Gak bisa kita semata-mata berhitung berdasarkan kalkulator dan otak kita semata. Tidak ada bisa sampai pada kondisi itu kalau benar-benar hanya mengandalkan matematika kita. Termasuk bahwa pengorbanan materi yang kita keluarkan untuk bisa bertamu ke rumah Allahpun jika dianggap sebagai modal atau investasi maka tidak akan juga bisa membayar nilai keutamaan beribadah di kedua Rumah Allah di Haramain. Bahkan dengan hitungan matematika kita sekalipun. Betapa tidak pahala shalat di Masjidil Haram adalah 100.000 kali dari shalat di masjid lainnya.

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.)

Demikian pula dengan keutamaan sholat di Masjid Nabawi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah)

Blessing in Disguise

Qadarullah, umroh itu mungkin hal yang harus sekali lagi kami syukuri karena ternyata dalam perjalanannya. Investasi syariah kavling produktif itu kemudian mangkrak. Iya, kami tertipu. Setelah perjuangan yang cukup panjang dan juga biaya yang tidak sedikit, kami memang kemudian bisa mengurus akta atas tanah kavling tersebut. Namun tentu memiliki bukti sah kepemilikan inipun tidak sepadan dengan jumlah uang yang telah kami keluarkan. 

Karena yang kami bayarkan adalah investasi atas tanah diyakini yang produktif karena dikelola sesuai dengan rencana awal yang dijanjikan kepada kami. Developernya sendiri saat itu digugat oleh konsumen pada project dia di kota lain dan dipenjarakan karena tidak bisa membayar ganti rugi. Allahu'alam.

Meski terpukul luar biasa namun rasa percaya, Allah Maha Adil. Kita hanya punya kewajiban berikhtiar. InsyaAllah pada waktunya akan Allah mampukan saya untuk tetap bisa menyekolahkan anak-anak saya ke jenjang pendidikan tinggi dari pintu yang lain. Saya percaya. 

Kami memang sudah melihat tanda-tanda ketidakberesan tahun pertama. Namun karena promosi mereka terus gencar. sosial media mereka juga tampak meyakinkan. Setiap kami konfirmasi ke bagian customer relation selalu dijawab sedang progress dan seterusnya. Saya kok jadi agak dejavu dengan kejadian penipuan  First Travel yang karena gencar promosi sehingga tidak tercium ketidakberesan internal mereka. Mereka justru terus mencari "korban" untuk membiayai operasional perusahaan dengan menunda kewajiban pada customer lama mereka. 

Kalau teman-teman baca tulisan saya tentang kisah panjang menuju umroh saya yang pertama tentu paham karena saya adalah korban First Travel. Sempat sangat down dan luar biasa sedih waktu itu, "apakah saya belum pantas dipanggi?" itu yang menjadi pertanyaan yang paling menghunjam. Alhamdulillah saya memilih bangkit dan memataskan diri untuk Allah panggil. 

Gagal berangkat dengan First Travel di awal 2107 (yang mana mundur hampir satu tahun dari jadwal yang mereka janjikan), saya berangkat umroh dengan suami atas izin Allah di Desember 2017 dan bertahun baru di Kota Makkah setelah sebelumnya tour di Turki. Fa bi ayyi alaai rabbikumaa tukadzibaan. First travel mangkir dan tidak pernah mengganti uang kami (dan ribuan jemaah lainnya) meskipun kami mengajukan lewat jalur keperdataan.

Qadarullah Allah gantikan bahkan tambahkan dengan nikmat yang lebih banyak. MasyaAllah, Tabarakallah. Alhamdulillah uangnya dari Allah karena kalau mau dijelaskan dengan logika, agak nekat juga kepergian saya di Desember 2017 itu.  Lagi-lagi saya kok yakin semua menjadi mudah saat itu karena disaat itulah waktu terbaik Allah panggil kami.

Alhamdulillah, umroh selalu menjadi sarana healing yang paling nikmat buat saya. Terlebih jika bisa bersama anak-anak menjalani ibadah mulia ini. Alhamdulillah juga perjalanan dan kegiatan selama di Madinah dan Makkah berjalan lancar. Anak-anak penuh semangat dan kooperatif. Paling permasalahan yang cukup jadi PR adalah anak-anak malas makan di hotel yang memang merupakan jatah dari Travel. Bosan katanya. Ya gimana kan memang gak bisa memilih menu. 

Anak-anak saya tidak suka makan pedas terutama si bontot yang susah makan. Jadilah kami lebih sering makan di luar. Anak-anak sih senang sekali jam makan siang setelah sholat zhuhur dan setelah ashar jelang maghrib kami biasanya ke foodcourt di pusat perbelanjaan di sekitar Masjidil Haram. Ngantri al baik demi anak-anak mau makan dan mencoba berbagai jenis masakan di foodcourt dan resto di sana. Tapi seru aja sih, karena di umroh pertama sebelum saya hampir tidak pernah jalan-jalan cuma hotel masjid hotel masjid. Waktu lebih banyak dihabiskan di masjid karena semua waktu sholat diniatkan untuk berjamaah di masjid.


Perjalanan ibadah dengan anak-anak ini juga membuat saya banyak melakukan explore baik di dalam masjid maupun di sekitar masjid karena harus bisa mengatur ritme agar anak-anak tidak merasa  bosan karena di masjid terus. Kami mengekplore ke hampir semua spot di dalam dan sekitar masjid. Kami benar-benar di hotel hanya untuk istirahat. Alhamdulillah meski bukan hotel bintang 5 di pelataran masjid baik di Madinah maupun mekkah. Hotel kami tidak terlalu jauh. 

Hotel di Madinah hanya 2 blok dan pas di pintu utama Gate 25. Kadang anak-anak jalan duluan dari hotel karena antrian lift. Hotel di Mekkah berjarak sekitar 700 meter dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Berangkat sebelum shubuh kembali setelah dhuha untuk sarapan. Lalu kembali ke Masjid sebelum Zhuhur dan baru pulang setelah Isya. Jadi sepanjang siang kami di Masjid atau di sekitaran Masjid. Hotel hanya untuk numpang tidur saja.

Baca juga: Wisata Religi Turki



Selain itu kami juga mengikuti tour/wisata di dalam kota maupun keluar kota yakni ke kota Thaif. Alhamdulillah anak-anak juga ikut dengan senang dan antusias.  Setiap tour anak-anak mendengarkan denga antusias penjelasan ustadz/muthawwif terkait sejarah dan fadihilah dari tempat yang kami kunjungi. "Ibu ini seperti yang aku pelajari di pelajaran SKI (Sejarah Kebudayaa Isalam)" kata Kakak. "Waah jadi visa langsung memvisualisasikan sejarah yang dipelajari di sekolah ya Kak." 

Selama dalam pesawat saat perjalanan berangkat maupun pulang, kami juga alhamdulillah tidak terdapat kendala meski harus duduk terpisah. Ini merupakan penerbangan anak-anak keluar negeri yang pertama sekaligus terlama (kecuali Ka Alinga yang di usia 3 bulan terbang dari Melbourne ke Jakarta for good). Alhamdulillah meski harus transit di Oman karena menggunakan Oman Air namun anak-anak happy dan sehat.


Anak-anak juga alhamdulillah sehat sepanjang perjalanan ibadah kami selama 12 hari tersebut. Hanya satu kali ada kejadian kurang menyenangkan. Dek Paksi muntah saat jamaah sholat maghrib, saat itu kami sholat di rooftop dan angin cukup kencang sebelumnya dari ba'da ashar kami sudah di rooftop, anak-anak main lari-larian, becanda, berphoto di sana karena angin yang semilir membuat suasana nyaman. Rupanya dek Paksi masuk angin, dia juga memang super aktif dan gak mau diam. Namun alhamdulillah setelah muntah dan dibersihkan dibaluri minyak kayu putih dan minum tolak angin (maaf sebut merk), dek Paksi pulih dengan cepat dan kembali aktif.

Alhamdulillah nikmat yang selalu kami syukuri. InsyaAllah sharing inipun dalam rangka tahaddus bi ni"mah. Selain menyimpan memori, barangkali bisa bermanfaat bagi mereka yang tengah berusaha meneguhkan niat untuk bisa menjadi tamu Allah. Bismillah langitkan do'a dan harap, pantaskan diri, semoga Allah segera panggil. Amiin.

8 comments

  1. Wah alhamdulilah sekeluarga sudah umroh termasuk anak-anaknya, luar biasa rasanya bisa berangkat satu keluarga begini. Jadi pengin juga, memang kalau niatnya ibadah dengan nama Allah pasti ada saja jalannya. Terima kasih informasinya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 mba... bawa keluarga insyaAllah jd tambah seru deh mba

      Delete
  2. Senang membacanya mba, Allah memampukan dan memanggil orang2 yang terpilih, semoga Allah juga memilih saya dalam waktu dekat

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, ceritanya menginspirasi sekali bun

    ReplyDelete
  4. Mba ophi, ikuta seneng ih bacanyaa. Walaopun yg ttg first travel dan investasi syariah itu, nyesek yaaa :(. Biar aja itu nanti jadi urusan mereka dengan Allah mba. Sama seperti Hutang yang ga dibayar.

    Aku kangen tanah suci. Pengen kesana lagi dengan anak2. Trakhir kali kan hanya berdua suami. Itupun ga maksimal Krn kami ga cocok dengan ustad yg mengguide. Dia sempet2nya kampanye salah satu calon presiden dan menjelek2kan calon lawan. Aku ga suka..

    Makanya kalo nanti ikut travel lagi buat umroh, aku mau sortir dulu, dan cek backgroundnya. Kalo sampe ada bau2 ga netral terhadap politik, mending aku blacklist.

    Waah mba ke Thaif jugaaa? Aku sukaaa banget kota Thaif. Dingin ya mbaaa. Seneng banget kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah kok muthawwifnya gitu yaa hahaha.. Iya mba pilih yang bagus sekalian krn akan banyak dpt tambahan ilmu bgt klo dapet yg bagus mba. Mba di Thaif sekarang ada kereta gantung jg dan katanya lebih challenging dr yg di genting. tahun 2019 blom ada. Nasi Mandi dan Kafsyah di Thaif jg mantep banget ya mba

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.