Thursday, July 14, 2016

Kapan Si Kecil Siap Masuk Sekolah?

Kapan si Kecil Siap Masuk Sekolah? Menjelang tahun ajaran baru seperti sekarang, pasti banyak orang tua yang sedang bersiap memasukkan si kecil ke sekolah untuk pertama kalinya. Tahun ini, saya juga mempersiapkan si bungsu Dek Paksi memasuki masa pertamanya sekolah. Taman Kanak-Kanak atau TK yang sama di mana Kakak tengahnya, Ka Zaha dulu bersekolah. 



Pengalaman tiga anak memberikan pelajaran yang berbeda kepada saya tentang kapan anak-anak siap bersekolah. Masing-masing ternyata punya kecenderungan yang berbeda. Sayapun tidak kaku dengan satu patokan saat memutuskan mereka masuk sekolah.

Berbekal pengalaman dari kedua kakaknya. Saya sudah merasa lebih mantap dan nyaman dengan situasi dek Paksi di tahun ini. Rasanya, kali ini saya melihat antusiasme yang tinggi untuk masuk sekolah pada Dek Paksi. Bukan berarti kedua kakaknya dulu tidak antusias atau malas-malasan, namun secara psikologis kegembiraan dan keceriaan serta semangat Dek Paksi menunjukkan kesiapannya mulai bersekolah tahun ini juga membuat saya siap melepaskannya sekolah.

Usia Berapa Si Kecil Siap Bersekolah?

Tidak ada ukuran atau patokan yang bisa kita jadikan standar. Jawabannya akan sangat tergantung pada kondisi masing-masing anak. Namun demikian kita bisa mengukur dari usia sekolah pada umumnya. Jika usia masuk sekolah dasar/SD adalah 6-7 tahun maka usia TK adalah 4-5 tahun. Untuk usia yang lebih dini namun sudah minat bersekolah, anak-anak bisa dimasukkan ke sekolah bermain seperti kelas toddler dan kelas kelompok bermain/playgroup. 

Ka Alinga, dulu sudah masuk sekolah sejak usia 2.8 tahun. Lahir di bulan-bulan akhir membuat penghitungan usianya agak nanggung. Tentu saja masuk kelas bermain. Kebetulan sekolah alam yang kami pilihkan untuknya sesuai dengan karakternya yang senang mengekplorasi, tak mau diam, dan sangat aktif. Entah apakah faktor anak pertama membuatnya cukup bertanggungjawab menjalani masa bermain sambil bersekolah saat itu atau memang dia sudah ingin bersekolah.

Saya yang cukup khawatir memasukannya terlalu dini ke sekolah akhirnya merasa lega karena Ka Alinga menunjukkan perkembangan yang baik. Ka Alinga tampak menikmati masa-masa sekolahnya di level preschool ini hingga 3 tahun. Dari sisi akademis tidak ada hambatan berarti namun dari sisi psikologis terlihat Ka Alinga belum mengimbanginya. Meski Ka Alinga cukup cakap dan cerdas secara akdemis, namun dia sangat pemalu, sensitif,  dan mudah menangis.

Saat masuk SD di usia 5.8 tahun saya sebelumnya sudah menawarkan apakah kakak mau menunda sekolah dulu dan menunggu tahun depan masuk SD? ternyata dia tetap pingin lanjut masuk SD. So far alhamdulillah perkembangan dan minat belajarnya cukup baik, sangat baik malah. Setidaknya dari sisi tanggungjawab dia sudah bisa memanage dirinya sendiri sejak menjalani kelas 3 kemarin. Masuk kelas 4 saya sudah lebih santai melepaskannya belajar. 



Berbeda dengan Ka Alinga, Ka Zaha yang lahir bulan April memasuki sekolah pertama di usia 3,5 tahun di Kelompok Bermain. Sekolah yang berbeda dengan kakaknya. Minat belajarnya berbeda dengan sang kakak. Memasukkannya ke play group lebih dimaksudkan agar Ka Zaha belajar berinteraksi dan menikmati bermain di luar rumah. Jujur saya khawatir kalau di rumah pasti terpapar tontonan TV yang tidak bermutu. Kemudian Ka Zaha masuk TK di sekolah yang berbeda. Sekolah yang sama dengan yang akan dimasuki Dek Paksi. 

Meski lebih matang dari sisi usia, namun kesiapan bersekolah tampak berbeda antara Ka Alinga dan Ka Zaha. Ka Zaha lebih menikmati proses bermain di KB dan TKnya. Ka Alinga sudah lancar membaca sejak TK B, Ka Zaha masih terbata-bata membaca saat memasuki SD. Minatnya belajar tidak setinggi Ka Alinga. Rasa tanggungjawab belajarpun berbeda. Ka Zaha belum mau diberi target tertentu, sekolah TK ya bermain. Dia lebih santai menjalani masa bermain belajarnya di TK. Saya hanya ingin menekankan bahwa usia bukan (satu-satunya) patokan.

Meski kemudian Ka Zaha lebih strugling saat melewati masa kelas I nya di SD (yang sama dengan Ka Alinga), namun progressnya sangat baik. Ka Zaha mengejar ketinggalannya. Saya mendorong agar dia bisa menikmati proses belajar dan tidak merasa tertekan. Asalkan kakak enjoy belajar dan sekolah, Ibu senang. Ibu tidak mengharuskan Ka Zaha untuk menduduki posisi atau ranking tertentu. 

Melihat kakaknya yang dulu mendapat rangking bagus, awalnya justru membuat Ka Zaha pesimis. Terlebih dia sendiri menyadari, kelancaran membacanya tertinggal dari kakaknya. Bersama waktu akhirnya Ka Zaha sudah menunjukkan progres dan perkembangan yang menggembirakan. Dia hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri dan menikmati proses belajar. 


Untuk Dek Paksi, saya memutuskan untuk tidak memasukkanya ke Kelompok Belajar. Selain pertimbangan type anak laki-laki yang "lebih santai" dan khawatir mudah bosan, proses belajar dan bermain sudah dialaminya bersama kakak-kakaknya di rumah. Alhamdulillah memiliki anak usia berdekatan bermanfaat untuk proses belajar bermain di rumah. Semacam playdates yang sehari-hari mereka lakukan bersama setelah kakak-kakanya pulang sekolah.


Meski belum masuk TK, sejak usia 2 tahunan Dek Paksi sudah belajar lagu-lagu yang dinyanyikan di TK. Proses belajar dan mendengar, berinterkasi dengan kakak-kakaknya merupakan faktor positif yang dengan mudah diadaptasinya. Saat ini Dek Paksi sudah belajar menyebutkan dan mengenal huruf, warna, angka. Sudah terbiasa membacakan beberapa doa harian pendek, surat-surat pendek dan bacaan sholat. saya sejujurnya tidak mengajarinya secara khusus. Lebih banyak mengingatkan kakak-kakaknya untuk mempraktikkannya dalam keseharian yang kemudian menularkannya pada adiknya. belajar bersama, bermain bersama,  beraktivitas bersama, sudah merupakan proses belajar bermain seperti di sekolah. 

Saat akhirnya saya tanya, "apakah adek sudah mau sekolah seperti kakak?" dan dia menjawab dengan antusias, "mau!" saya kemudian mendaftarkannya dan mengikutkan sesi trial class di TK tersebut. Tahun ini di usia 4.8 tahun, Dek Paksi akan memulai sekolahnya.

Perhatikan Tanda-tanda si Kecil Siap Bersekolah

Minat dan keinginan si kecil untuk bersekolah merupakan petunjuk yang paling tepat mengetahui kesiapan mereka bersekolah. Antusiasme dan rasa ingin tahu serta semangatnya memulai masa belajar di sekolah bisa kita kenali dari beberapa tanda yang secara umum merupakan petunjuk kesiapannya belajar. 


  • Terbiasa dengan aktivitas belajar di rumah dan biasa menggunakan alat tulis.


Dek Paksi misalnya sudah terbiasa menggunakan alat tulis seperti pensil, krayon, pensil warna, buku gambar, buku mewarnai, dan sejenisnya. Kondisi ini antara lain karena Dek Paksi terlibat aktif dalam kegiatan belajar-bermain bersama kakak-kakaknya. Saya selalu menyiapkan tiga set alat belajar untuk mereka bertiga. Mulai dari meja lipat, buku-buku dan kertas, pensil, penghapus dan alat tulis lainnya. Menggambar bersama, mewarnai bersama, bermain peran sekolah-sekolahan di mana ka Alinga menjadi Guru dan seterusnya.


  • Senang Mendengarkan Cerita


Si kecil antusias dengan kegiatan mendengarkan cerita baik melalui mendongeng atau membacakan buku cerita. Saat proses ini berlangsung, biasanya mereka tampak antusias dan aktif merespon. 


  • Sudah Bisa Bermain Sendiri maupun Bersama


Sibuk dengan mainanya sendiri, berlarian di dalam dan di luar, naik sepeda, main games, atau membulak balik buku cerita merupakan kegiatan Dek Paksi saat sedang sendiri tanpa Kakaknya. Saat Kakak-kakanya pulang sekolah, Dek Paksi lanjut main bersama. Ada juga teman seusianya di lingkungah rumah dan mereka sering beraktivitas dan bermain bersama. Dek Paksi sudah bisa memutuskan kapan ingin main sendiri dan kapan ingin main bersama teman atau kakak.


  • Memahami Instruksi Sederhana


Belajar memahami instruksi sederhana harus sudah dimulai dari rumah. Hal ini memudahkan si kecil beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang akan menuntutnya lebih mandiri. Semua hal harus bisa dikerjakan sendiri karena Guru di sekolah tidak menangani satu per satu anak. Setidaknya bekali si kecil dengan himbauan merapihkan mainannya sendiri, melepaskan sepatunya sendiri, menyimpan barang pribadinya sendiri, serta mampu menemukan benda yang dibutuhkannya sendiri. 




  • Menunjukkan Kemandirian


Salah satu pertimbangan penting melepaskan anak-anak bersekolah adalah bahwa mereka sudah mulai menunjukkan sikap mandiri. Tentu saja bukan sepenuhnya mandiri dan dilepas ya.  Dengan proses belajar dan mulai mengenalkan instruksi sederhana tadi, biasanya akan tumbuh sikap kemandirian anak-anak. Dek Paksi misalnya sudah bisa mandi sendiri dengan sedikit bantuan dan pengawasan, sudah bisa memilih sendiri pakaian yang akan dia kenakan setiap harinya, memakaikan baju tersebut dengan sedikit bantuan, dan menyisir rambutnya sendiri. Tentu ada proses belajar dan pembiasaan sebelumnya. 

Meskipun masih berantakan, Dek Paksi sudah bisa makan sendiri dan bahkan mengambil minum sendiri. Ala bisa karena biasa. Jauh hari sebelumnya, sejak dini kebiasaan-kebiasaan ini harus sudah dilakukan. Jangan membiarkan anak-anak berpikiran bahwa untuk semua hal tersebut mereka akan selalu diladeni atau dibantu.


  • Mengenal Toilet Training


Untuk toilet training, alhamdulillah semua anak-anak saya sudah bisa melakukan bersih-bersih BAK saat memasuki usia sekolah. Untuk BAB, setelah selesai biasanya mereka akan memanggil saya atau Utinya untuk membersihkan diri. Namun saya pribadi menargetkan saat masuk SD, anak-anak sudah bisa membersihkan diri dari BAB. Penting untuk membekali hal ini agar mereka lebih merasa nyaman dan percaya diri. Ka Zaha pernah mogok ke sekolah TK karena dia merasa tidak nyaman saat pingin BAB di sekolah. Ka Zaha malu dan risih saat minta bantuan gurunya membersihkan diri dari BAB sementara dia belum bisa melakukannya sendiri. 

Biasanya untuk BAB selalu diusahakan saat berada di rumah. Namun ada masa tertentu saat jam bilogisnya untuk BAB ada di rentang waktu sekolah. Kemudian saya mencoba mempercepat belajar membersihkan diri dari BAB untuk Ka Zaha dengan harapan masuk SD sudah tidak ada PR toilet training lagi. Selain itu saya berusaha mengembalikan jam biologisnya untuk BAB di pagi hari saat bangun tidur atau malam hari menjelang tidur.



  • Tahu Bagaimana Caranya Mengungkapkan Perasaan dan Pikiran


Di rumah saya sudah membiasakan anak-anak untuk menyampaikan keinginan, kemauan, atau kebutuhannya kepada kami. Dengan bahasa dan gaya mereka tentunya. Melatih komunikasi seperti ini penting agar saat dihadapkan pada situasi serupa di lingkungan yang berbeda mereka bisa tetap menyampaikannya. Saat ingin buang air kecil, saat haus, saat jatuh atau sakit, semua harus disampaikan. Saat butuh bantuan atau pertolongan mereka bisa menyampaikannya tanpa sungkan kepada guru atau temannya. 

Tidak harus dalam kalimat yang lengkap dan terstruktur, yang paling penting mereka punya keberanian untuk mengungkapkannya. Sampaikan pada si kecil, bahwa saat di sekolah, mereka bisa menyampaikan apapun yang mereka rasakan dan pikirkan pada guru. Hal ini mendorong rasa percaya dirinya untuk memulai berkomunikasi. Mengingat tidak semua anak punya keberanian yang sama. Terlebih jika si kecil belum lancar toilet training. Ingatkan untuk menyampaikan hal ini pada gurunya saat dia ingin BAK atau BAB.


  • Minta Menemani atau Mengikuti Kakak atau Saudaranya ke Sekolah

Si kecil ingin menggunakan baju seragam? ingin mengantarkan dan menemani kakak atau saudaranya belajar di sekolah?, atau bahkan betah ikut bermain di arena bermain kakak atau saudaranya di Sekolah? Kemungkinan besar dia sudah pingin sekolah juga. Dulu saat awal-awal sekolah TK, Ka Zaha masih ingin ditemani. Mbah Uti membawa serta Dek Paksi ke Sekolah saat menunggui Ka Zaha. Dek Paksi melihat sendiri keseruan bermain di sekolah. Tampaknya hal ini juga yang menarik minatnya. Ka Zaha pun menjalani kisah yang serupa. Sambil mengantar dan menjemput Ka Alinga, biasanya Ka Zaha dibawa ke Sekolah dan ikut berinteraksi selama di sana.

Ajak Si Kecil Mencoba "Trial Class"

Sebelum memastikan dan mendaftarkan si kecil alangkah baiknya memberikan kesempatan mereka mengikuti trial class. Jika ada beberapa pilihan akan lebih baik diikutkan semua. Kita akan bisa melihat kenyamanan dan kesiapan mereka secara langsung. Setelah mengikuti trial class, baru tanyakan pada mereka. Apakah mereka mau sekolah atau di sekolah yang mana mereka merasa lebih nyaman?

Saat mengikuti trial class untuk Dek Paksi beberapa bulan lalu, di sekolah TK Ka Zaha yang sudah familiar buat Dek Paksi yang saya khawatirkan hanyalah apakah Dek Paksi mau saya tinggalkan sendiri. Meskipun terbiasa ditinggal saya bekerja, namun saat bersama Ibu atau ada Ibu di sekitarnya, biasanya Dek Paksi bakal nempel kayak perangko.

10 menit pertama, Dek Paksi minta saya duduk di sebelahnya mengikuti kegiatan kelas saat itu. Dek Paksi menyimpan sendiri tas yang berisi bekal yang saya bawakan. Tapi kemudian memegang tangan saya kembali dan meminta menemaninya mengikuti sesi awal kelas. Kemudia saya mengambil jarak dan duduk di kursi di dekat pintu kelas. Sesekali dia masih menoleh dan melihat ke arah saya. Senyum lebar dan jempol saya siapkan setiap kali dia melihat ke arah saya. 

Tak lama, bu gurunya bilang: "Ibu sudah boleh keluar kelas yaa, aku sudah berani belajar di sini sama teman-teman, tidak usah ditunggu"  Paksi mengiyakan. lalu saya keluar ruang kelas dan menunggu tak jauh di luar kelas. Saat break time dan waktunya bermain di luar, Dek Paksi sudah terlihat asyik bermain dan bercengkrama dengan teman barunya. "Ibu boleh menunggu aku di luar yaa. nanti kalau aku sudah selesai kata Bu guru, Ibu dikasih tahu..." Waah akhirnya, saya langsung melipir keluar  dan langsung buka laptop di lobby depan sekolah. Alhamdulillah... Kamu siap sekolah ya nak! InsyaAllah


Support agar Si Kecil Minat Bersekolah

Selain pengenalan dan pembiasaan melihat dan terlibat proses belajar baik di rumah maupun saat menemani saudaranya di sekolah, alangkah baiknya melibatkan si kecil saat melengkapi keperluan sekolahnya. Ajak mereka mengukur baju seragam sekolah dan ceritakan bagaimana kerennya saat mereka mengenakannya kelak. Biarkan si kecil memilih sepatu dan tas, tempat bekal dan minum, serta perlengkapan sekolah seusai dengan selerannya. Libatkan mereka dalam proses mencari dan memilih perlengkapan tersebut.

Minat dan keinginan bersekolah si kecil tentu tidak muncul begitu saja. Sebagian besar minat dan keinginan ini muncul karena terstimulasi dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya. Sangat penting bagi kita orang tua untuk mulai mengenalkan kegiatan belajar di sekolah sebagai hal yang menyenangkan kepadanya. Selain memotivasi, tentu saja si kecil akan lebih mudah beradaptasi kelak.

Selamat menyiapkan si kecil di hari pertamanya moms...semoga sharing ini bermanfaat!

31 comments:

  1. Hohoho anakku juga mau TK tahun ini insyaallah ... Semoga ga ada drama2 dan dilancarkan semuanya ... Selamat dek paksiii semoga makin pintar dan soleh yaaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin, sama2 ya mba... smoga lancar jugaa

      Delete
  2. Jd inget dl wkt sekolah TPQ, mau sekolah gara2 kakak sekolah hihihi

    Tetanggaku byk yg usia 4-5 thn baru sekolah TK. Ada jg yg langsung SD. Semua tergantung kesiapan anak. Klo gak sekolah Paud/tk, paling nggak di rmh diajak blajar jg

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sih yang penting sudah ada pembiasaan suasana belajar dan anaknya memang mau muali sekolah

      Delete
  3. Anakku baru mau dua tahun. Jadi Malaya masih santai hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba..masih santai..paling dikenalin dikit di rumah aja

      Delete
  4. Bagus banget tipsnya, makasih mak sudah berbagi.. untuk perdana berarti ajarin anak toilet training dulu ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. saam2 mak... klo aku menekankan itu sma anak2 spy mrk nyaman pas di sekolah

      Delete
  5. Iya mba.. yang penting si anaknya sudah siap dulu ya..

    Bintang waktu pertama KB umur 2.4 tahun.. lima hari trial nangis terus dan akhirnya kita stop... e sebulan setelah itu malah minta sendiri. Pengen sekolah. Hihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba anak2 macem 2 sih modelnya...tp klo sudah minta sendri berarti dah siap dianya

      Delete
  6. Bahkan setiap anak punya kesiapan yang berbeda ya, Mbak. Ilmu tambahan nih buat siap2 kali aja nanti diperluin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba beda2...jd lihat tiap anaknya..kakak aadik aja beda2

      Delete
  7. anak sy umur 4 thn 10 bulan..blm mau skul..tp udah pintar menggambar...udah bisa nulis huruf...nyanyi dll..ga dimasukin playgrup jg..belajar mandiri di rumah dengan neneknya..tp kalau disebut2 mau sekolah tidak mau..katanya nanti lama hiks...mungkin harus trial dulu ya biar dia terbiasa dengan suasana sekolah

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba...cobain trial aja dulu..dan liat respon dia juga..klo blom mau gpp kan msh 4 tahunan. nanti klo sdh 5 tahun masuk TK msh bisa kekejar kok

      Delete
  8. Faktor lingkungan memang ngaruh jg ke minat ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba..sangat signifikan pengaruhnya menurut saya

      Delete
  9. Semangat belajarnya kakak semoga makin pinter :)

    ReplyDelete
  10. Biasanya di sekolah ada ajang untuk masa percobaan tiga hari untuk beradaptasi. Alhamdulillah anakku makin mandiri mba setelah sekolah

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba..anak2ku juga kelihatan jauh lbh mandiri stlh sekolah

      Delete
  11. Aku kalo ngeliat ponakan yang baru masuk sekolah rasanya gimana gitu, perasaan anak udh tambah gede aja, ada rasa terharu sekaligus senang :)

    ReplyDelete
  12. Tiap anak memang unik ya mbak, say juga tidak memaksakan anak sekolah harus umur berapa, senengnya anak saja. Semoga dek Paksi lancar sekolahnya ya mbak.

    ReplyDelete
  13. Artikel yang bermanfaat
    Dua anak saya sekolah dari 4 tahun lebih (lahir januari & maret)
    salam sehat utk ananda mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mas.. salam juga buat anak2 ya

      Delete
  14. Lumayan nih baca artikel buat anak dimasa 4-5 tahun lagi nanti. Sekarang mah naknya masih dalam masa kandungan.

    Terus share yah mbak, semoga sehat selalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin makasih mas...
      Syukurlah klo bermanfaat buat bekal nanti yaa

      Delete
  15. Good point :)

    Saya setuju dengan pemikiran mbak yang tidak memaksakan anak untuk cepat2 masuk sekolah. Lebih baik gimana siapnya saja. Terkadang ada juga (maaf) orang tua yang buru2 nyekolahin anaknya ke TK di umur 3-4 tahun. Padahal si anak masih suka main2.

    *Maklum, saya ngomong gini karena dulu masuk SD pas umur 7 tahun, dan gak sempet masuk TK dulu. Haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahah sy juga dulu gak pake TK kok mas...langsung SD
      Zaman dulu si kampung sy blom ada TK

      Delete
  16. kalau adek saya, tahun ini masuk SD. Nah waktu hari pertama, si Abang udah ngajarin adek toilet training. Soalnya celananya udah pake resleting, gak kayak TK dulu. Hehe. Jadi setuju banget kalau poin toilet training diajarkan. :)

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.