Monday, April 3, 2017

Belajar Demokrasi dari Rumah


Jiyaah judulnya gaya banget sih. Apa yang terjadi Minggu siang kemarin di rumah membuat saya merasa bahwa ternyata anak-anak tengah mempraktikkan dan belajar tentang demokrasi dalam arti yang paling sederhana. Saya membiarkan mereka melakukannya agar mereka belajar. Diam-diam saya pun belajar.

Bukan kali ini saja sebetulnya. Kami memang membiasakan proses diskusi, musyawarah, dan pengambilan keputusan bersama. Kadang rempong sih dengan ide-ide krucils ini tapi alangkah baiknya mereka bisa menyampaikan apa yang mereka pikirkan dengan leluasa. Ramee deh, padahal cuma tiga. kwek kwek kwek... anak bebek kali yaa. Hmm Ibunya, Ibu bebek sih. 
Demokrasi, demos berarti rakyat, kratos artinya kekuasan. Jadi kekuasaan di tangan rakyar. Dalam hal ini, kami menyediakan ruang bagi seluruh anggota keluarga kecil kami termasuk anak-anak, trio krucils untuk menyampaikan hak suaranya dalam proses pengambilan keputusan di rumah. 

Tidak semua hal, tapi hampir semua hal mereka dilibatkan. Apakah selalu didengar? pastinya, tapi tentu kami juga memiliki pertimbangan yang kemudian membuat mereka akhirnya mengiyakan atau menyetujui. Intinya belajar berdemokrasi, berani berpendapat, menghargai perbedaan pendapat, danmenghormati keputusan bersama.

Kami Belajar dari Rumah, Sejak Dini.

Saya sudah berencana, Minggu siang kemarin akan menghadiri salah satu event blogging yang memang sifatnya voluntary. Saya berminat datang karena tertarik dengan tema dan kemasan acaranya. Saya sudah konsultasikan dari seminggu sebelumnya pada Ayah Trio.

"Yah kira-kira anak-anak ngizinin gak ya, Hari Minggu depan aku ikut acara ini?".
"Coba nanti kita lihat, nanti anak-anak diajak aja, biar mereka main sama aku pas kamu hadir di sana. Kan tempatnya di mall".
Saya belum mendaftar sampai hampir 2 hari menjelang acara.

Hari Kamis sampai Sabtu ternyata saya harus dinas ke Makassar. Kali ini izin Krucils agak sulit keluar karena 3 bulan ini saya hampir tiap minggu selalu ada dinas keluar kota. Saya janji setelah Maret mungkin sudah tidak ada lagi tugas keluar kota. Dengan alasan Hari Kamis masih tanggal 30 Maret akhirnya mereka bisa mengeluarkan izin. 

Sabtu dan Minggu hakikatnya adalah hak Trio Krucils untuk bisa bareng Ibunya. Jadi saat ada acara atau kegiatan apapun memang saya selalu minta izin dulu sama mereka.


Dengan prediksi mereka mau diajak ke mall dan main sama ayahnya sementara saya mengikuti event tersebut, saya kemudian mendaftar namun tentatif. Hari Sabtu pesawat yang mengantar saya ke Jakarta ternyata delay. Penerbangan pukul 8.15 wita dipindahkan ke pukul 09.55 wita artinya sampai ke Jakarta lebih siang.

Semula saya berencana langsung mengajak anak-anak main setelah menjemput saya. Kami kemudian memang langsung jalan namun karena waktu yang terbatas, semua berubah dari rencana.

Minggu pagi saat saya ajukan izin, mereka sudah say "No". 
"Ibu gak boleh pergi ke acara blogger" bahasa anak-anak kalau saya ikut acara blogging. 
"Gak boleh". 

Saya pikir nanti saya rayu lagi mereka, toh acaranya siang sampai sore. Seharian sejak pagi setelah sarapan dan nonton TV mereka sibuk main rumah-rumahan. Saya sempatkan ikut main juga. Sambil sekali sekali saya singgung soal rencana kepergian saya siang hari. Mereka masih say "No". Ayahnya juga ikut merayu. Hasilnya masih "No".

"Emang acara itu penting banget buat Ibu?"

Duuh pertanyaan yang sulit dijawab.

"Iyaa gak penting banget sih tapi Ibu pingin dateng, acaranya bagus trus Ibu sudah janji sama temen."
"Emang gak bisa ibu batalkan?"
Sebenarnya masih bisa karena memang ini voluntary sih sifatnya.

Saya diam.

"Hmm boleh Ibu pergi tapi ada syaratnya. Pertama, Ibu ngajak kita. Yang kedua kalau sudah selesai, kita jalan-jalan." Ka Al spontan mengajukan syarat.

Saya masih diam. Yang pasti kalau mereka ikut, gak bisa ikut eventnya. Selesai acara jalan-jalan. Sesuai jadwal acara selesai 18.30. Mau jalan-jalan kemana? Saya juga pasti sudah lelah.


Melihat saya terdiam. Ka Al memanggil adik-adiknya. Mereka kemudian tampak berdiskusi. Tentu saja Ka Al yang memimpin dan mendominasi. Mereka berkumpul di "rumah" dek Paksi yang posisinya di Car Port. Sementara saya duduk di ruang tamu di "rumah" Ka Al. Sekitar 15 menit mereka berdiskusi lalu mereka menemui saya. Menyerahkan selembar kertas, lalu menyusulkan selembar kertas lainnya.

"Ini ya bu hasil diskusi kami. Kami sudah sepakat Ibu baca, kalau Ibu setuju,  tinggal tanda tangan."



Tulisan tangan Ka Al dan ditandatangai mereka bertiga.

Saya (Ka Al): Setuju (asal PR saya bisa selesai bersama anda pake kata anda lho wkwkwk  dan ke -2 syarat tadi
Zaha: Setuju (PR saya selesai dan tidak memakai mobil dan nanti sama seperti syarat kakak)
Paksi: Setuju (asal pulangnya cepat dan kau mau nonton di rumah bersama Ibu dan Klo pulangnya lama saya tidak setuju).
Silahkan anda perkirakan! beri saya (Alinga) jawaban nanti saya sampaikan.
ditandatangani Alinga (T-1)  saya gak paham T-1 ini maksudnya apa, Zaha (T-2), Paksi (T-3) dan Ibu. 
Pada lembaran kedua tertulis:

Kami meminta untuk:
1. nanti sore ke tamkul
2. nonton film di rumah
3. bermalam kamar VIP
Untuk menggantikan ketidakbisaan anda pergi.
Silahkan dipertimbangkan.
ditandatangani Alinga, Zaha, Paksi, dan Ibu. 
"Ibu baca dan tandatangani yaa."

Well, pastinya saya baca. Kesepakatan dan syarat yang mereka bertiga ajukan, intinya mereka keberatan saya pergi. Toh agak sulit saya tetap pergi dan bisa memenuhi semua syarat mereka. Jadi saya pasrah. Saya komunikasikan ke koordinator event tersebut bahwa saya bakal batal datang karena tidak mendapat izin anak-anak.


Saya kemudian tidak pergi. Sementara mereka melanjutkan main rumah-rumahan dan girang luar biasa karena saya tidak jadi pergi, saya manfaatkan untuk sejenak istirahat.
"Naah kan ibu jadi bisa istirahat kalau gak jadi pergi."
Saya juga menunaikan janji menemani mereka menyelesaikan PR dan memutarkan film di rumah. Tidak ada acara jalan ke taman kuliner (tamkul) karena hujan. 

Oh iya bermalam di kamar VIP, maksudnya mereka menata kamar tidur mereka, ala-ala kamar VIP dan meminta saya dan ayahnya masuk kamar bareng lalu biasanya mereka bakal perform entah menyanyi menari, melucu, atau sekedar bercerita.

Pengambilan keputusan seperti ini bukan yang pertama terjadi. Dalam banyak hal kami memang membiasakan untuk menyampaikan masalah dan melibatkan anak-anak dalam pengambilan keputusannya. Tentu saja untuk hal-hal yang memang terkait dengan mereka.

Sesepele atau sepolos apapun pendapat mereka tentu menjadi perhatian bersama. dalam proses negosiasi dan diskusi ini juga mereka belajar menerima "kekalahan". Ketika bukan pendapat atau mau-nya mereka yang akhirnya disetujui bersama maka semua harus legowo. 

Mari Hargai Kesepakatan Bersama.

Minggu lalu misalnya. Ada rencana nonton bersama setelah mengantar si kakak ke dokter yang ternyata memakan waktu tidak sebentar dan membuat mereka bosan. Saya izin dari kantor karena awalnya akan memeriksakan si Kakak di klinik kantor ternyata tidak bisa langsung ke dokter internis sesuai jadwal hari itu namun harus ke dokter anak dulu yang jadwalnya hari lain. Ah kepalang izin akhirnya kami mengantar kakak ke dokter di rumah sakit langganan. Setelah selesai urusan dokter, saya harus kembali ke kantor untuk absen. 

Pulang dari kantor kondisi macet luar biasa. Kakak Al dan Dek Paksi menagih janji ayahnya mengajak nonton. Sakit sih sakit, tapi kalau main, berenang, nonton, lupa deh sama sakitnya. Lupa sama malam-malam nangis, perut kesakitan, dan minta Ibu mijitin sepanjang malam. Saya dan Ka Zaha keberatan utnuk nonton karena kami sudah lelah. Well, kunci ada di Ayah. Suara ayah menentukan kami nonton atau pulang ke rumah.

Sebelumnya saya sampaikan pada mereka. Apapun nanti jawaban ayah, kita semua harus legowo. kalau Ayah pilih tidak nonton. Ka Alinga dan Dek Paksi harus menerima dengan besar hati. Tidak marah atau ngambek. Kalau Ayah memilih nonton, Ka Zaha dan Ibu mau gak mau harus ikut. Gak bisa ngambek atau marah juga. Okee?

"Ahh pasti Ayah ikutan Ibu, ayah takut Ibu marah kalau gak ikutan Ibu"  Kakak sudah su├║dzon duluan. 
"gak gitu dung Ka". Hmm kesannya Ibu nih galak banget yaak, sampe ayah takut Ibu marah. Padahal sih kayaknya begitu hehehe. 

"Belum tentu, intinya sepakat dulu yaa, apapun keputusannya kita semua terima yaa. ka Zaha juga kalau ternyata kita akhirnya nonton gak boleh ngambek." Muka Ka Zaha sudah ditekuk dan tampak cemberut.
"Aku gak mau nonton buu..."
"Tapi kan sudah kesepakatan." 
"ya udah aku ikut Ibu aja".


Ternyata, dengan pertimbangan jam macet menuju rumah, Ayah memilih mengajak anak-anak nonton. Kami akhirnya melipir ke Sency, Trio Krucils dan Ibu ke Musholla untuk sholat Maghrib. Ayah ke lantai 5 membeli tiket dan langsung sholat di lantai 6. 15 menit kemudian kami ketemu lagi di lantai 5. 

Sempat kecewa karena mereka pikir bakal nonton Beauty and The Beast ternyata ayah membelikan karcis Power Rangers. Namanya anak-anak, melihat keseruan Power Rangers, lupa deh sama Beauty and The Beast. Alhamduliiah saat pulang jalanan sudah lebih longgar. Kami sempat mampir makan malam di salah satu warung tenda seafood di arteri Pondok Indah. 

Berbeda pendapat boleh, tapi harus saling menghargai. Kita bisa bicarakan perbedaan pendapat. Kalau sudah diambil kesepakatan bersama, kita harus hormati dan komitmen. Belajar berdemokrasi, mengemukakan pendapat, menghargai perbedaan, menghormati dan menepati kesepakatan sejak dini, diimulai dari rumah. 

34 comments :

  1. Mbaaa, itu lucu banget surat perjanjiannya. Lalu 'anda' jadi menandatangani nggak? Hahaha.
    Salut deh ama demokrasi di rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya akhirnya menandatangani nih hahahaha

      Delete
  2. ya ampun mba, seru banget ya cara mereka berdiskusi gemes ahahhaha
    jadi kepengen cepet punya anak yang gede hahahha

    ReplyDelete
  3. ih seru banget ya, anak2 bisa menuangkan keinginannya , semoga mba juga jadi ibu bijak selalu ya

    ReplyDelete
  4. ahhh mba Ophi, artikelmu selalu penuh dengan informasi yang berguna.. Aku juga lagi berusaha nerapin demokrasi ke anak2 di rumah. Yg no 1 dan 2 masih oke, yang no 3 nih belum bisa, hihihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. mba zata bisa ajaah, makasiiiih

      Delete
    2. sukses yaa klo yg kecil memang msh angot2an hahaha tergantung kakak2nya jg

      Delete
  5. mau dong jiplak hehe.. bagus juga ya mengajarkan anak bertanggung jawab. Aku juga suka kelimpungan kalau masalah tanggung jawab

    ReplyDelete
  6. Hahaha aduk ngakak pas baca kata "anda". Resmi sekali ya anak2 ini sampai bikin surat pernyataan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih metang2 ibu sm bapaknya orang hukum wkwkwkw

      Delete
  7. Kece kesepakatannya Mbk, aku udah sering tapi gak pakai tanda tangan sih, biasanya harus ngomong 4 mata dulu membuat kesepakatan hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi anak2ku gitu mba, suka nulis surat atau ya gini bikin kesepakatan gini

      Delete
  8. Wahhh ini hebat nya putra-putri nya bisa mengambil kesepakatan melalui musyawarah yang bahkan membuat Ibunya ikut berfikir, heeeeee
    Inspiratif nih tindakan bijak oleh anak-anaknya, semoga kedepan bisa jadi Generasi Penerus bansga yang lebih baik. Amin

    ReplyDelete
  9. Hehehe, lucu dan mendidik banget, keren...

    ReplyDelete
  10. Surat perjanjiannya lucu banget kayak orang dewasa aja tapi efektif buat ngajarin demokrasi ke anak ya mbak? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hhaha iya kayak surat perjanjian apaan gitu. pdhal sy gak pernah ajarin ttg surat perjanjian gini

      Delete
  11. Ya Allah anak2nya pinter2 banget mbak. Semoga selalu menjadi kebanggaan orang tua ya mbak

    ReplyDelete
  12. Suka kalimat terakhirnya mbak : Belajar berdemokrasi, mengemukakan pendapat, menghargai perbedaan, menghormati dan menepati kesepakatan sejak dini, diimulai dari rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba tujuannya kan lebih ke situ kita yaa

      Delete
  13. Hahahaha seru juga ya diskusinya Trio :)
    Daku sama anak-anak juga punya kesepakatan bersama yang ditandatangani, kesepakatan menggunakan internet :D
    ya lumayanlah, anak-anak jadi paham gimana musyawarah untuk mufakat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah mungkin klo sdh gedean ada kesepakatan macam itu juga makpuh

      Delete
  14. Waaah seru banget sih Mbak, anak-anakku. Semua memang melihat dari kebiasaan orang tua yaa? mereka diajarkan untuk saling terbuka dan mau menerima pendapat dari orang lain. Suka bangeeeet, keren dech pakai surat kesepakatan dan perjanjian segala yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah iya nih pake ikatan legal formal segala hihi

      Delete
  15. Aku jg ngajarin anakku utk demokrasi, tukar pendapat dan nerima kekalahan sih, tapi ga sampe tahap nulis surat perjanjian dan ditandatangani sik hahahahaha :p. Keren anak2mu :).

    Anak2 kyk mereka memang hrs diajarin dr dini yaa.. Biar gedenya bisa tepa selira, bisa nerima kekalahan, bisa santun kalo sdg berdiskusi.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak tahu idenya dr mana. tp mrk mmg suka nulis surat atau nulis segala macem mba
      termasuk perjanjian/kesepakatan gini mba

      Delete
  16. Pinteerr banget mbaak yaa trio ini, pakai tanda tangaan juga :D hehehe. .
    Belajar demokrasi dari kecil biar bsa menghargai pendapat orang lain sejak dini dan belajar mengemukaakan pendapat yang dimiliki. Ah salut banget sama trio kece :D hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin, semoga mrk bs terus menjalaninya ke depan.
      biar tepo seliro

      Delete
  17. Wah serunya pendidikan demokrasi untuk trio krucilnya Mba. Saling menghargai pendapat orang lain. Dan sepakat dengan hasil mufakat yang telah dicapai. Keren bangeeet!

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.

Back to Top