Saturday, July 15, 2017

Yuk Ajari Si Kecil Belajar Berbagi Tugas dan Peran



Children See, Children Do atau dalam bahasa agama kita pernah mendengar "pendidikan itu keteladanan."

Dua adagium ini kurang lebih bermakna sama. Intinya kalau kita mau anak-anak bersikap A maka kita harus tunjukkan pada mereka bahwa kita bisa bersikap A. Keteladanan dan contohlah yang akan ditiru anak-anak, bukan perintah atau sekedar kata-kata tanpa pembuktian. Menyuruh anak-anak sholat tapi mereka tidak pernah melihat kita sholat atau kita tak pernah mengajak mereka sholat berjamaah. Sama saja bohong, percuma.

Kondisi ini juga berlaku untuk semua hal. Termasuk ketika kita ingin mengajari anak-anak untuk mulai berbagi tugas dan peran di rumah. Tugas dan peran yang mana? tentu saja tugas dan peran yang sudah bisa kita bebankan pada mereka. 

Gak mungkinlah saya meminta Paksi untuk menggoreng telor ceplok sendiri atau meminta Ka Alinga menyetrika bajunya sendiri. Walaupun sebetulnya batasan usia menjadi relatif dan tentu selama kita bisa mengawasi dan membimbing mereka proses belajar ini bisa dimulai sedini mungkin.

Membangun Kemandirian dan Tanggung Jawab

Inti dari belajar berbagi tugas dan peran adalah menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemandirian. Bukan supaya mereka bisa mengerjakan pekerjan rumah semacam menyapu, mengepel, mencuci baju, dan seterusnya. Kalau dari proses belajar ini kemudian mereka bisa mengerjakannya dengan baik sesungguhnya itu bonus "Ibu shalihah" saja. Jangan sampai ini menjadi ajang mengeksploitasi si kecil ya bu.

Berawal dari kekhawatiran saya beberapa tahun belakangan yang melihat anak-anak tampak mudah sekali menyuruh atau meminta tolong untuk hal-hal sederhana, mudah, dan bisa dikerjakannya sendiri. Saya gerah melihat kondisi ini, mereka tampak jadi pemalas dan akhirnya bisa jadi mereka tidak cekatan dan tidak sensitif dengan hal-hal sederhana yang seharusnya bisa mereka lakukan sendiri.

Mandi harus dimandikan, makan diambilkan dan disuapi, mengambil air minum minta tolong, mengelap lantai karena air minum mereka tumpah tidak bisa. Hal-hal sesederhana ini tidak seharusnya selalu dibantu. Mereka harus belajar melakukannya sendiri. Sebetulnya sudah lama saya tidak memiliki ART yang stay di rumah. ART hanya bertugas membereskan rumah dan menyetrika. Mengurus anak-anak sebelum dan sesudah berangkat kerja adalah tugas saya. Selama saya tidak ada, ada Mbah Utinya yang saya titipi. Saat saya berangkat kerja, Mbah Uti ke rumah. Meski sebagian besar waktu anak-anak dihabiskan di sekolah. Namun waktu bersama Utinya juga sangat mendominasi.

Cara mendidik kami agak berbeda. Mbahnya lebih sering bersikap meladeni dan melayani anak-anak. Asal anak-anak anteng, apa saja mau mereka, jika perlu dituruti. Mau ini mau itu dibantu. Lama-lama saya gerah karena usaha saya untuk membuat mereka mandiri sejak dini menjadi percuma dan tentu membuat anak-anak jadi berat karena dibiasakan semaunya. Anak-anak juga bingung nilai.

Akhirnya saya sampaikan pada suami soal ini. Saya mau anak-anak jangan selalu diladeni. Anak-anak harus paham tanggungjawabnya sendiri. Jangan dimanja bahkan mau minum saja diambilkan. Saya khawatir selain anak-anak jadi pemalas, mereka tidak paham tanggungjawab. Lebih buruk lagi mereka tidak bisa apa-apa saat sudah besar. Karena apa? karena semua diladeni dan mereka tahu beres.

Buat saya ada waktunya anak-anak dibantu dan ada waktunya mereka harus bisa melakukannya sendiri. Mereka harus belajar mandiri dan bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Saat ada saya atau ayahnya (atau Mbahnya) di samping mereka, mereka bisa minta tolong. Naah kan ada masanya mereka tidak didampingi oleh kita. Ada saatnya mereka berada di luar zona nyaman. Bagaimana mereka bisa survive, jika kita idak pernah membiasakan mereka melakukannya secara mandiri.

Tidak berarti kemudian kita lepas tangan sama sekali. Dalam proses belajar kita tetap mendampingi dan melihat mereka melakukannya, baru kita lepas setelah yakin mereka bisa melakukannya. Sekali-kali kita bisa juga membantu mereka melakukannya. Wujud tanda sayang dan perhatian, tanpa mengacaukan makna kemandirian pada mereka.

Kita harus punya batasan pada usia berapa anak-anak harus bisa mandi sendiri, makan sendiri, memakai baju, dan mengurus keperluannya sendiri. Tentu anak-anak tidak ujug-ujug bisa melakukannya sendiri. Pasti awalnya dimandikan, disuapi, dipakaikan baju, disisirkan rambutnya, dan seterusnya. Bersama waktu berilah kesempatan mereka melakukannya sendiri dalam pendampingan dan pengawasan kita.


"Ayo adek sikat giginya sendiri. Nih sikatnya, odolnya secukupnya saja yaa. Naah seperti yang Ibu ajarkan kemarin cara menyikat giginya yaa..."

"Ayo kakak guyur sendiri badannya, Nah ini sabunnya. gosok-gosok ke seluruh badan. perut, dada, leher, ketiak, tangan, kaki, kemaluan, pantat, punggung, jangan lupa lehernya ya..."

"Coba kakak ambil piring kesukaan kakak. Nah sendok nasinya, pilih lauknya. Coba deh mamam nyuap sendiri ditemani Ibu mamamnya..."

Seperti itulah proses awal mengajak mereka mandiri. Tugas dan peran yang harus mereka mampu lakukan sendiri, kelak tanpa bantuan kita. Sekali waktu tentu tidak masalah kita mandikan mereka setelah mereka main hujan-hujanan atau kita suapi mereka sambil bermain. Tapi tetap mereka sudah tahu bahwa mandi, makan, berpakaian merupakan tugas yang harus bisa mereka lakukan sendiri.

Awalnya kadang masih ada tabrakan nilai di antara saya dan Mbahnya anak-anak. Saat anak-anak meminta sesuatu lalu dengan cekatan Mbahnya langsung menanggapi dan siap melakukannya sementara saya langsung alarm. "No, you can do that honey, do it by yourself". Kondisi ini memang tidak lepas dari perbedaan latar belakang saya (dan keluarga saya) dan suami (dan keluarganya).

Sejak kecil sebagai gadis kampung yang dibesarkan di keluarga yang tidak pernah punya ART, kami anak-anak perempuan Mimi telah diberi peran dan tugas pekerjaan rumah sejak kecil. Bukan hanya soal mengurus diri sendiri bahkan membantu mengurus pekerjaan rumah. Saya dan adik berbagi tugas, pagi hari siapa yang bangun duluan biasanya dia yang mendapat tugas mencuci piring dan beres-beres rumah, yang bangun lebih lambat dapat tugas mencuci baju.

Kami keluarga besar, Kakak saya sulung perempuan sudah tidak di rumah saat saya beranjak menjadi gadis kecil. Kakak kuliah di Jakarta. Di atas saya, 4 orang kakak laki-laki yang sayangnya tidak paham akan tugas dan pekerjaan rumah. Mereka mengurus diri sendiri saja sudah bagus. Pekerjaan rumah ya urusan perempuan. Duh sebel!! Kami juga membantu Mimi di dapur. Mulai dari potong-potong sayur, mengulek bumbu, dan hal-hal yang mudah lainnya.

Hasilnya? saya tidak kelabakan saat kemudian harus kuliah merantau di negeri orang. *somboong* Begitu juga saat baru memulai kehidupan baru dengan Ayahnya anak-anak sekarang. Saat sekarang mencari ART yang cocok sulitnya seperti mencari jarum dalam jerami, sebetulnya saya tidak terlalu galau kalau saya tidak merasa kecapekan. Keterbatasan waktu (terlebih saat saya harus tugas keluar kota) dan kadang rasa lelah yang datang saat pekerjaan tengah menggunung, kedua kondisi ini yang membuat saya merasa butuh bantuan.


Iya saya butuh bantuan bukan karena saya tidak mampu melakukannya apalagi karena malas. Jadi buat saya,  Bude As yang datang pagi dan pulang siang membantu membereskan rumah dan mengurus setrikaan sudah cukup. Saya bisa masak untuk anak-anak untuk sarapan dan bekal dan itu memberi kenikmatan batin tersendiri. Untuk makan malam jika tidak cukup waktu, saya bisa memesan catering, mereka makan siang di sekolah. Ehh kok ini malah curhat yaa. Balik lagi ah ke soal pembagian peran dan tanggung jawab.

Rumah Milik Bersama, Kenyamanan Bersama, Kita Jaga Bersama

Setelah selesai dengan pemahaman akan tanggung jawab pribadinya, ada waktunya anak-anak diperkenalkan dengan tanggung jawab bersama. Dalam rumah, segala sesuatu menjadi terkait satu sama lain. Meski masing-masing sudah bisa mandi sendiri, berpakaian sendiri, makan sendiri, (sayangnya tidur gak bisa pisah dari Ibunya, ngumpul numplek satu kasur) ada hal-hal yang ternyata harus dilakukan bersama demi kenyamanan bersama.

Proses belajar tanggung jawab bersama menjadi jauh lebih menantang. "Kenapa harus aku, urusanku kan sudah selesai." 

Hal yang mungkin paling pertama kita temui adalah saat menjelaskan pada para kakak bahwa adek yang usianya lebih muda terkadang belum bisa secekatan kakaknya, sehingga dalam beberapa hal menuju kemandirian si adik, sang kakak perlu berperan. Membantu memilihkan baju si adik, membantu mengenakannya, membantu mengambilkan minumnya, dan seterusnya.

Tidak ada ART di rumah buat saya ada hikmahnya. Tidak masalah saya harus kerepotan melakukan ini dan itu, karena saya kemudian punya alasan mengajarkan mereka tentang berbagi peran dengan meminta bantuan kecil dari anak-anak. Kak Al bantuin Ibu nyuci yuuk. Saya angkat laundry bag ke atas. 

Sesampainya di depan mesin cuci. Saya minta kakak memasukkan baju-baju kotor. Baju harus dipisah-pisahkan mana yang bisa digabung mana yang tidak. Lalu kakak yang saya minta memencet tombolnya, ini dulu, lalu itu, baru ini. Masukkan deterjen sekian banyak. dan seterusnya. Sampai sejauh ini saya belum melepaskan Kakak untuk melakukannya sendiri, namun melibatkannya membuat Ia tahu bagaimana caranya sekaligus Ia senang ikut berkontribusi.

Ka Zaha, sebetulnya anak yang ringan tangan. Bude As yang membantu di rumah senang saat akan memasukkan baju-baju yang selesai disetrika, Ka Zaha membantu memilihakan baju miliknya, milik kakaknya dan adiknya. Kemudian Bude tinggal memasukkan ke lemari. Biasanya saat hari libur. Saat sedang "pintar" tanpa diminta Ia sering merapihkan lemarinya sendiri, bahkan kabarnya membantu merapihkan lemari kakaknya dan diupahi Rp.5.000 oleh sang kakak. Saat ruangan agak berantakan, Ka Zaha sudah bisa menata-nata dan membereskannya. 


Meskipun butuh waktu cukup lama, sekarang anak-anak sudah mau dan bisa merapihkan sendiri mainannya setleah bermain. Sering tidak ada ART di rumah dan Bude As yang sudah sepuh dan kadang sakit "memaksa" mereka berperan membereskan mainan mereka sendiri. Kalau tidak dirapihkan sendiri tidak ada yang bertanggung jawab, kalau hilang tidak boleh nangis. Setalah main di luar rumah juga harus dirapihkan dan dikembalikan ke tempat semula. Kalau tidak, bisa saja dipungut orang karena dikira dibuang dan seterusnya

Merapihkan mainan mereka menjadi penting sebagai sarana belajar bertanggungjawab. Setelah main rumah-rumahan, main peran atau main masak-masakan, mereka biasanya saling berbagi tugas sendiri. Misalnya, Dek Paksi dan Ka Al memasukkan mainan ke tempatnya, mengembalikan kursi dan kondisi rumah sedangkan Ka Zaha menyapu. Hanya saja pembagian peran ini kadang menimbulkan keributan. Ka Zaha sering protes dan menilai pembagian tugas yang dilakukan Ka Alinga kurang adil. Lalu mereka biasanya ribut.

Belajar Berbagi Peran

Saat menghadapi masalah seperti ini biasanya saya biarkan dulu. Saya berikan kesempatan mereka menyelesaikan sendiri. Dalam kasus makin sengit dna tak ada jalan keluar baru saya turun tangan. Ka Alinga ini memang type supervisor. Sebagai si sulung dia memang banyak mengarahkan adik-adiknya. Menurut saya bagus untuk membangun sikap leadershipnya. Hanya saja dalam kondisi tertentu memang tampak agak melenceng. Ka Al menjadi terlihat bossy, tunjuk sana sini, perintah ini itu, lalu lupa dengan pembagian tugas untuknya sendiri. 

Belum lama kejadian saat saya mengadakan kumpul-kumpul di rumah dengan teman-teman kuliah lalu lanjut seminggu kemudian dengan teman kantor. Acara intinya selain silaturahim makan siang bersama. saya menyiapkan semuanya sendiri. Kecuali belanja ke Pasar dibantu Ayahnya anak-anak. 

Bahkan saat ada acara dengan teman-teman kuliah, Ayah harus ke kantor (meski libur) karena ada urusan yang harus diselesaikan. jadilah saya benar-benar sendiri. Hari Minggu, Bude yang biasa datang setengah hari juga libur. Kalaupun masuk membantu memasak bukan tugas Bude, jadi saya tidak ingin menambah bebannya. Kalau urusannya beres-beres rumah, saya masih bisa minta bantuan Bude.

Ka Alinga sekali-sekali saya ajak membantu. Tapi kadang ogah-ogahan, dia mau malas-malasan dan menonton TV saja. Tidak masalah asalkan tidak rewel. Ka Zaha mengajak main Dek Paksi di luar bersepeda dan main dengan Jason (tetangga). Ka Zaha ini malah lebih ngemong kadang-kadang. Ka Zaha juga membantu Ibu dengan menjadi juru icip. 

Teman-teman Ibu datang terlambat. Mereka kumpul lebih banyak justru menjelang sore. Menjelang isya mereka baru pulang. Banyaknya teman seusia anak-anak membuat mereka akrab dan main bersama. Setelah tamu pulang tinggallah saya bingung, hmm piring, gelas, dan peralatan kotor menumpuk. Meja kursi masih berantakan. Saya kemudian fokus mencuci piring dan sejenisnya. "Kakak tolong dibantu yaa, bawa semua gelas, piring, dan yang harus dicuci ke sini ya." Lalu Kak Al tampaknya mengerahkan Ka Zaha dan Dek Paksi.

Tak lama saya mendengar sayup-sayup mereka mulai bekerja sama membereskan ruangan. Ada yang menyapu (kelihatannya kurang bersih), ada yang mengepel, merapihkan makanan dan seterusnya Selesai saya mencuci piring dan menatanya, ruang tamu dan ruang keluarga sudah rapih (Hmm jangan dibayangkan rapih kinclong yaa, setidaknya agak beres lah ya, maklumlah hasil kerja tangan-tangan mungil). 

"Naah ini kok sudah dipel tapi sampahnya masih ada.."
"Susah bu...itu kan yang nyapu Zaha, gak bersih nyapunya bla bla bla" Sahut Ka Al
"Ih enak aja Kakak, soalnya kakak nyuruh-nyuruh aja buu, dia maunya enak sendiri yang gak susah kerjanya " Ka Zaha protes.


Saya lalu ajak mereka duduk bareng. 

"Tahu gak sih, ibu tuh senang banget, banggaa banget. Kalian anak-anak pintar, sudah mau bantuin Ibu. Makasih ya sayang, sholih sholihah Ibu.."

Wajah muram mereka berubah lebih cerah

"Makasih kakak sudah mengoordinir adik-adik, dan membagi tugas untuk bantu Ibu" Saya melihat Ka Al memasang senyum di wajahnya.

"Tapi Kaka curang bu, mau enak sendiri" Ka Zaha menyela, "Iya bu" sahut Paksi menambahkan.

"Naah jadi begini Kak, kalau kakak membagi tugas dan minta adik-adik melakukan ini dan itu, bukan berarti kakak bebas tugas. Kaka juga harus punya peran. Kakak harus contohkan juga ke adik-adik. Ibu kalau minta tolong kalian membantu kan, Ibunya juga mengerjakan sesuatu kan"

Akhirnya saya harus meluruskan yang agak melenceng dari mereka. Bagaimanapun saya sangat terharu mereka sudah punya kesadaran membantu Ibunya dan sudah mau berbagi peran.


Dalam hal ini teladan sangatlah penting, termasuk juga bagaimana mencontohkan diri menjaid teladan bagi mereka. Utamanya kami sebagai orang tua, Para kakak juga harus memberi contoh dan menjadi teladan saat mengarahkana adik-adiknya. Kembali ke adagium di atas tadi yaa. 

Lalu apakah semudah itu membiasakan anak-anak belajar berbagi peran? tentu tidak. Butuh waktu, kesabaran, konsistensi, dan juga keteladanan dari kita sebagai orangtua.

Yuuk ajari si kecil berbagi tugas dan peran. Jangan lupa dengan tugas dan peran kita sebagai orang tua yaa.

6 comments :

  1. Anakku klo udah main perintah yg ada saya ngomel, jadi dia nggak berani nyuruh2, klopun nyuruh pasti mengunakan kata 'tolong'
    Ya gtu sih mba emang klo anak biasa dilayanin dia bakalan main perintah, 'berkaca sama adik2ku betapa manjanya mereka'

    ReplyDelete
  2. Yippiieeee, dpet pelajaran parenting lg nih, makasih ya mbk ophiiii, udh berbagi pengalaman berharganya, :)

    ReplyDelete
  3. Share link artikel ini untuk kakak ipar saya. Soalnya anak2 nya pada manja banget. Apa2 minta ART yang kerjain. Pantesan ART nya gak betahan dan sering gonta ganti. hihi

    ReplyDelete
  4. Pernah nih kemarin ketemu sama orang Amrik. Seorang ibu yang naik pesawat ke Makassar bersama 6 orang anaknya. Usianya dekat-dekat semua.

    Senang banget saya bisa kenalan dengan beliau. Salutnya ya itu. Anak-anaknya bisa saling berbagi peran. Ada yang handle si adik ke sekian, ada yang ngurus barang, dll :)

    ReplyDelete
  5. Setuju mba... Biar anak2 bisa mandiri.Masak harus dilayani terus-terusan.. Kan nggak selamanya anak2 dibawah naungan ortu kan ya

    ReplyDelete
  6. kalau aku dari kecil anakku sdh dibiasakan mandiri jd saat anak bungsuku umur 4 tahun aku gak pakai pemabntu lagi dan mereka sdh siap dana ku senang walau aku kerja tp aku terbantukan dg kemandirian anak2, bahkan sekolah dari SD mereka sdh naik angkot sendiri

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.

Back to Top