Meski Ibu Bekerja, Selalu ada Cinta untukmu Anak-anakku!


Tips Menjaga Cinta Anak bagi Ibu Bekerja.
"Ibuu, kata Kakak sama dek Paksi, kalau mau disayang Ibu aku harus sakit panas kayak mereka."
Ka Zaha dengan kemanjaannya yang khas mengadu pada saya
"Maksudnya gimana?"
"Iya katanya supaya disayang sama Ibu aku sakit dulu kayak mereka bu, kan dari kita bertiga yang belum pernah sakit sampai dirawat di rumah sakit cuma aku"
"Halaah ya gak gitu dong Ka"
"Kata mereka enak kalau pas sakit dan lagi dirawat di rumah sakit. Bobonya sama Ibu, ditemenin dan ditungguin Ibu terus. Mamamnya disuapin Ibu. Ibu gak kemana-mana nemenin terus sepanjang hari..."
Jlebb!!!


Ka Alinga dan Dek Paksi mengiyakan dengan tatapan mata kocak menggoda Ka Zaha. Saling berpandang, mengangguk-angguk lalu menyeringai penuh rasa menang.

Duuh kalian ini lhoo... Ibu harus gimana sih supaya kalian tahu betapa sayangnya Ibu sama kalian. betapa hati Ibu penuh dengan cinta sama kalian. Betapa semua yang Ibu lakukan tak pernah lepas dari kalian sebagai motivasi dan tujuannya. Kenapa hanya karena Ibu harus bekerja lalu kalian menyangsikannya. Hiksss baper tingkat dewa :(

"Lhoo gak sakit juga Ibu sayang kok sama kalian. Emang kalian gak tahu kalau Ibu bla bla bla...."

Panjang lebar saya membela diri.

Hmm entahlah ada gunanya atau tidak menjelaskan dengan sedemikian lengkap. Mungkin pembelaan diri saya gak akan masuk dalam logika bocah-bocah kecil itu.

Setelah saya berbusa-busa, panjang kali lebar...

Mereka kemudian tertawa-tawa.
"Iya buu...iya..."
Lalu berebutan memeluk saya. Hmm menghibur Ibunya yang tak bisa menutupi galaunya.
"Tapi kalau kita sakit Ibu gak terlalu galak seperti biasanya... Kita juga dimanjaa banget hehehe...Enak pokoknya..."
Duuh nak, itu bukan galak. itu disiplin.

Ah sudahlah! Ibu tidak akan memaksakan sudut pandang Ibu karena kalian berhak berpikir, merasa, dan mengekspresikan apa yang kalian pikir dan kalian rasa. Akan ada masanya, kalian paham bahwa apapun yang Ibu lakukan, tidak pernah tertinggal rasa cinta Ibu pada kalian di dalamnya.

Saya menyadari betul pentingnya kehadiran fisik sebagai wujud paling nyata sebuah cinta di mata anak-anak. Mungkin orang dewasa bisa bercinta eh maksudnya saling mencintai dalam jarak, namun bagi anak-anak kontak fisik dan kehadiran fisik merupakan hal yang sangat esensial dalam memaknai cinta.

Wanita bekerja bukan super woman, meraka hanyalah para "risk taker" yang pemberani dan tangguh. Salah satu tantangan paling berat bagi saya sebagai Ibu bekerja adalah saat anak-anak menyangsikan cinta saya karena saya tidak selalu ada di samping mereka setiap saat.

Saat sedang lelah sang hayati, biasanya hal ini membuat hari jadi demikian kelabu, semangat menjalani hari seorah raib entah kemana. Berganti rasa sesal dan rasa bersalah. Rasa yang sesungguhnya tidak selalu benar dan tidak selalu tepat.

Well, kalau ada orang lain yang menyangsikan cinta saya sama anak-anak. Saya sudah ambil sikap yang sangat jelas "cuek beibeh ajah". What ever laah!

Monggo, judge me as what you think of! I won't care...

Semacam, "Aaah ini mah anak-anaknya Mbah Uti, Ibunya paling tahu beres,"

Ah untung gak dibilangin anak-nya embak. Alhamdulillah gak punya embak yang stay di rumah. Dulu ada juga sih, tapi tak pernah berumur panjang. Kebayang lebih nyerinya mendengar ungkapan yang tampak demikian mudah keluar dari mulut. "Hmm anak embaknya ya". Pliss deh :( Stop saying that ugly words!

Oh iya, postingan kali ini amat kental aroma curhatnya. Derita Ibu bekerja, dilema Ibu bekerja, dan sejenisnya. Eits tapi jangan kabur dulu yaa. Sebagai pejuang yang harus bekerja meninggalkan anak-anak di rumah kami juga pejuang cinta yang tak boleh diragukan ketangguhannya. *uhuk* Mengingat sebagian waktu di mana Ibu bekerja tidak bisa selalu berada di sekitar anak-anak dalam jarak yang terjangkau, mungkin kami memang dituntut untuk berusaha lebih, agar rasa cinta tetap terasa hangat di hati mereka meski kami jauh. Jauh di mata namun selalu ada di hati.

11 tahun pernikahan, 10 tahun menjadi Ibu dari 3 orang permata hati, penyemangat jiwa, bintang di langit kelam membuat saya seperti terus disadarkan untuk menjaga hangatnya nyala api cinta di hati saya untuk anak-anak agar mereka merasakan dan merasa nyaman menjalani hari dengan rengakuhan cinta Ibunya.


Cinta, perhatian, dan yang paling penting ketulusan yang harus selalu dijaga. Beberapa hal yang saya anggap sebagai wujud cinta saya pada mereka, pun cara saya agar mereka merasakan bahwa cinta Ibunya benar-benar nyata:


❤ 

Tidak malu atau gengsi mengekspresikan cinta dan kasih sayang.


Saya type Ibu yang sangat ekspresif. Menunjukkan cinta dan sayang pada anak-anak saya lakukan secara verbal dan non verbal. Jadi saya sangat terbiasa menyampaikan secara verbal ke anak-anak,
"Ibu saya Kakak, Ibu sayang Adek,"
atau memanggil mereka dengan palingan sayang dan cinta semacam:
"Cintaku, sayangku, sholeh-sholehahku, rajaku, kesayanganku".

Hmm bukan obral-obral sih. Saya yakin dengan mereka sering mendengar ucapan-ucapan tersebut dan kemudian otak mereka merekammnya akan terpatri di hati mereka rasa percaya kalau Ibunya ini mencintai dan menyayangi mereka.

Penting gitu mereka tahu kalau kita mencintai mereka?

Menurut saya penting, sangat penting. Mereka membutuhkan dicintai, membutuhkan disayangi, membutuhkan menjadi penting di hati kita. Well, vise versa, sebetulnya demikian juga kita sebagai orang tua bukan?.

Saking terbiasanya, saat ada hari di mana saya lupa mengucapkan kalimat-kalimat sakti ini terkadang mereka yang mengingatkan dan menagih.
"Ibu belum bilang sayang aku, hari ini" dan seterusnya.

Karena pembiasaan ini pula kemudian mereka menirukan hal yang sama. Children see children do. Mereka juga tidak malu atau kikuk mengucapkan hal yang sama pada Ibunya ini.

Saat hari yang demikian melelahkan membuat seluruh semangat saya hampir tak tersisa. Lalu sesampainya di rumah atau menjelang kami naik ke tempat tidur ada ucapan; "Aku sayang sama Ibu... " Ahhh rasanya seluruh penat hilang tanpa sisa. Apalagi kalau kemudian langsung dikerubuti dan dihujani pelukan dan ciuman dari ketiga krucils saya. What a priceless momen :)

Secara non verbal, ungkapan cinta dan kasih sayang juga hal yang menjadi rutinitas buat saya (dan saya tularkan juga pada Ayah mereka yang aslinya agak kaku :D). Pelukan hangat, ciuman, perhatian, sentuhan.

Naah bakal saya ceritakan di bagian tersendiri nih.

❤❤ 

Tiada hari tanpa sentuhan, pelukan, ciuman, dan kontak fisik wujud kasih sayang


Iya, dan mereka sangat suka saya peluk dan saya cium. Saya memang membiasakan juga hal ini. Saya percaya selain menumbuhkan kehangatan hubungan antara kami. Sentuhan, pelukan, dan ciuman merupakan therapy bagi jiwa. Saya percaya sekali, bahkan membuktikannya saat dulu Dek Paksi harus dirawat pada masa awal kehadirannya di dunia. Meletakkan tubuh mungilnya yang penuh dengan alat-alat bantu di dada saya membuat tubuhnya yang semula dingin menjadi lebih hangat. Membisikannya kata-kata penuh optimisme dan doa saat dia dalam pelukan saya membuat Ia seperti "sadar" dalam ketidaksadarannya.


Tidak hari tanpa peluk cium dan kontak fisik tanda sayang. Seperti halnya ucapan kasih sayang. Anak-anak juga biasanya menagih jika dalam satu hari saya belum cium, peluk, atau sentuh mereka. Kadang saat saya pergi pagi terburu-buru atau tidak sempat berinteraksi dengan mereka, sore atau malam saat saya sudah di rumah atau menjelang tidur, kami melakukan rapel peluk dan cium. Dulu sempat kami punya komitmen kalau dalam satu hari tidak boleh kurang dari 9 pelukan. Hmm ini bukan ngasal, tapi ada reason dan philosophy-nya. Lupa tapinya apa hahaha. *faktor U*

Sepanjang hari saat ada bersama mereka, hujan cium dan peluk hal yang biasa. Bukan semata-mata karena mereka membuthkannya. Nyatanya pelukan, ciuman, dan sentuhan tulus mereka juga teraphy jiwa buat saya Ibunya.

Saya sendiripun tak enggan meminta pada mereka saat saya membutuhkannya.

"Kak atau Dek, sini sebentar naak, Ibu mau dipeluk, peluk yang lama yaa. Mau ciumnya juga dung... Lagi, satu lagi..."

Hyaa jadi pingin ciumin dan pelukin mereka satu-satu deh.

❤❤ ❤ 

Stay connected!


Oke, Ibu bekerja, berapa lama sih bisa bareng-bareng sama anak-anak? Hmm dari 24 Jam, 10-11 jam sih saya harus di kantor (Jam kantornya hanya 8 jam, plus perjalanan ke dan pulang dari kantor masing-masing 2 jam). Selama 10-11 jam tanpa saya, 8 jam mereka ada di sekolah masing-masing bersama guru dan teman. Sisanya mereka istirahat dan main di rumah. Ada Neneknya yang menemani. 

11 Jam yang menjadi resiko dan pengorbanan saya berjarak dengan mereka. Semoga Allah ridhoi pengorbanan kami para Ibu bekerja dan Allah jaga anak-anak kami selama jauh dari jangkauan kita. Amiin

Agar tetap terjaga komunikasi ada baiknya selalu pantau anak-anak. Saat anak-anak di sekolah, pastikan kita punya nomor kontak guru/wali kelasnya dan para guru menyimpan nomor kita. Jika ada hal-hal urgent yang harus segera dikomunikasikan menjadi lebih mudah.

Saat anak-anak dulu masih kecil, Ibu mertua saya agak risih jia saya telpon ke rumah (lewat hp beliau karena di rumah tidak saya pasangkan telepon rumah) dan sekedar pingin tahu kabar mereka. "Nanti anak-anak malah rewel terus inget sama Ibunya!" Sejak warning itu saya tidak pernah lagi sibuk menelpon anak-anak. 

Untungnya mereka segera bisa sekolah. Guru-guru zaman now justru sangat aktif mensharing kegiatan anak-anak di sekolah lewat whatsapp. Bahkan dalam bentuk video. Jadi meski saya tidak menemani mereka di sekolah eh sekarang mana boleh sih anak-anak ditungguin orang tua di sekolah yaa. saya tetap masih bisa nyambung komunikasi dengan mereka.
"Tadi Adek habis menyusun balok bikin robot ya di sekolah?" "Kok Ibu tahu..."
Seneng sih kalau bisa tetap terhubung dengan mereka meskti terpisah jarak dan fisik.
Karena pentingnya tetap terhubung inilah, saya dan suami punya semacam kesepakatan agar kami tidak dinas ke luar kota/negeri dalam waktu bersamaan. Tujuannya supaya tidak blank sepanjang hari komunikasi dengan mereka. Iya, karena saya hanya berani menghubungi anak-anak lewat ayahnya. Serunya sekarang kan bisa video call sama mereka juga. Mereka tahu kegiatan saya dan sayapun bisa mengikuti perkembangan mereka terkini. 

Thanks to technology. Video call benar-benar memangkas jarak. Bisa tetap kasih cium meski bibir mentok di layar HP hahaha...

Bahkan bisa tetep ngaji dan belajar Iqro' lewat video call. Alhamdulillah bangeet.

❤❤❤❤ 

Menyiapkan (sendiri) keperluan anak-anak.

Ini memang kewajiban Ibu-Ibu? Eh kata siapa kewajiban Ibu. Kalau kata salah satu Ustadz yang punya kewajiban menyiapkan keperluan seluruh keluarga adalah suami alias ayah. Nah karena salah satunya alasan kesibukan mencari nafkah tugas ini kemudian didelegasikan ke Ibu. Padahal kalau Ayahnya punya uang bisa bayar orang lain juga untuk membantu menyiapkan keperluan seluruh anggota keluarga. 

Oke terlepas dari konsepnya, tugas ini selayaknya bisa kita handel sendiri sebelum anak-anak menjadi mandiri. Saya kebetulan memang sudah lama tidak punya ART yang stay di rumah. Meski lebih lelah tapi ada manfaatnya juga di mana saya dan anak-anak menjadi lebih dekat karena saya harus menyiapkan sendiri keperluan mereka. Tidak semuanya sih, mencuci saya lakukan sendiri terkadang saya ajak Kakak menemani memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci atau membantu mengambilkan hanger untuk menjemur bajunya. Sambil kerja sambil ngobrol deh. 

Keperluan harian juga saya siapkan sendiri. Menyiapkan sarapan dan menyiapkan bekal sekolah serta menyiapkan lauk untuk makan malam mereka. Sekarang mereka semua termasuk Dek Paksi sudah bisa menyiapkan baju dan keperluan sekolah mereka sendiri. Sekali dua kali saat sedang pintar, Dek Paksi ngambek dan minta Ibu yang menyiapkan. Tapi saat sedang sangat pintar, "aku ambil sendiri bajunya." Lalu pakai baju sendiri dan tahu-tahu sudah rapih dan ganteng menghadap Ibu. Kita kasih tepuk salut buat Dek Paksi 👏👏👏👏

❤❤❤❤❤ 

Memasak untuk Anak-anak

Lagi-lagi berkah gak punya ART nih. Mau gak mau saya harus masak sendiri untuk anak-anak. Hmm capek?repot? Iya banget. Tapi rasanya gak terbayarkan saat mereka kemudian bilang masakan Ibu enak. Mereka makan dengan lahap atau bahkan suatu waktu menagih saya makan menu yang pernah saya buatkan.

"Ibu aku mau cumi goreng tepungnya lagi, enaaak."
"Ibu nanti bakar ikan sama sambal kecap lagi yaa."
dan seterusnya...

Bukan berarti saya jago masak lho. Saya cuma bisa masak aja. Banyak juga yang merupakan hasil uji coba setelah mengulik dari Mang Google. Gagal? ya pernah juga pastinya. Entah gosong, terlalu asin, terlalu pedas, atau sejenisnya. Gak apa-apa, yang penting sudah berusaha dan kalau terus dilakukan akan lebih banyak yang berhasil daripada yang gagal. Pasti itu!

Saya sering bilang sama anak-anak, kalau Ibu memasak dengan cinta. Meskipun sederhana, insyaAllah buat mereka rasanya enak aja. Apalagi Ka Zaha yang selera makannya hampir sama dengan Ibunya. Buat Ka Zaha lebih enak masakan Ibu daripada makan restauran terutama kalau menunya modern. Maklum kita sesama penyuka masakan tradisional.

Dari lidah turun ke perut lalu bersandar di hati. Jiyaaah.

💗💗💗💗💗💗 

Menyuapi makan dengan tangan.


Iya, saya suka menyengaja menyuapi mereka anak-anak (kadang Ayahnya ikutan juga pingin disuapi) dengan tangan saya saat makan. Biasanya ini saya lakukan saat selera makan mereka sedang tidak bagus. Saya ambil piring besar. Masukkan nasi dan lauk pauk, lalu menyuapi mereka bertiga dari piring yang sama. Selain biasanya mereka makan menjadi lebih lahap dipastikan saya menambah porsi makanan.

Entah kenapa, momen seperti ini sering mereka kangeni. "Aku mau makan disuapi Ibu pake tangan..." Saya juga merasa ada kedekatan tersendiri melakukannya. Saya melihatnya sebagai bentuk cinta yang meski sangat sederhana namun mengena di hati.

💗💗💗💗💗💗💗 

Menjadi bagian dari kehidupan dan keseharian anak-anak.


Terlibat langsung dalam aktivitas mereka dan to some extend mengikuti "rule" yang mereka buat membuat kita menjadi makin dekat dengan mereka.  Intinya meski kita bekerja dan sebagian waktu kita tidak bisa kita habiskan bersama mereka, jangan sampai kita hilang dari radar pencarian mereka. Meski anak-anak di sekolah, kita di kantor, minimal kita tahu apa yang mereka lakukan hari ini. Jika ada peristiwa, kejadian, atau kegiatan spesial kita wajib tahu.

Alhamdulillah Ibu-ibu zaman now, tergabung dalam wa group mommies. Biasanya selalu saja ada update entah dari guru, wotk, atau para mommies yang biasa disebut macan ternak (mama cantik anter anak) tentang kegiatan di sekolah, bukan hanya kegiatan kadang gosip-gosip juga bisa kita nikmati di grup ini hehehe.

Seperti minggu ini usai penilaian akhir semester dan anak-anak tengah kelas meeting, saya bisa tetap nyambung dengan obrolan krucils karena saya tahu misalnya tim sepak bola kelas 5B menang hari ini. Ka Al antusias bercerita dan saya bisa menimpali berdasarkan info dari group mommies. De Paksi juga hari ini mendengar dongeng dari Ka Ulil dan mendapat kunjungan dari teman-teman tuna daksa serta penyerahan infaq untuk mereka. Miss yang sharing photo-photo kegiatannya. Saat kami ngobrol sepulang sekolah, adek bingung: "Kok Ibu tahuu?", "Hmm tahu dung..."


Selain itu saat mereka sedang bermain atau sekedar berinteraksi satu sama lain, biasanya saya ikut nimbrung menjadi bagian dari mereka. Tanpa diajak/diundang sekalipun. Misalnya saat mereka tengah main sekolah-sekolahan, saya suka nimbrung dan pura-pura jadi Ibu kantin. Sekalian mengingatkan mereka makan, karena saat keasyikan main kadang mereka lupa makan. Atau, saat mereka sedang main peran. Ada yang menjadi dokter, banker, atau librarian. Saya suka ikutan jadi pasien, nasabah, atau pengunjung perpustakaan. Mereka makin senang saya terlibat.


Mendengarkan cerita, curhat, atau bahkan sekedar ocehan gak jelas dari mereka juga bagian dari usaha melibatkan kita dalam kehidupan mereka. Meski tampak sepele, namun kehadiran kita yang mereka rasakan saat mereka butuh pendengar sesungguhnya adalah semaian cinta yang akan mereka jaga selamanya. Jika kita melakukannya secara konsisten, sampai dewasa mereka akan tahu kemana harus bercerita atau curhat. Bukan kepada orang lain tapi pada Ibunya.

Sebagai Ibu bekerja saya juga berusaha memanfaatkan waktu di rumah seefektif mungkin untuk membuat saya hadir di antara mereka mulai dari bangun tidur hingga mereka tertidur. Meski kadang ada pekerjaan kantor yang tersisa dan harus dikerjakan di rumah atau kerjaan ngeblog yang harus diselesaikan biasanya saya mengambil waktu saat mereka tidur atau mereka tengah main di luar atau memiliki kesibukan mereka sendiri. 

Saat ada bersama mereka, saya usahakan tidak melakukan "personal things". Kalau pekerjaan rumah dan sejenisnya, tentu bukan urusan pribadi dan mereka bisa memakluminya. Kadang jika sangat terpaksa saya meminta izin dan pengertian mereka. "Kalian main dulu ya, Ibu boleh selesaikan dulu tulisan Ibu ya, satu jaam saja." dan seterusnya.

💗💗💗💗💗💗💗💗 

Bercanda dan melucu

Sumpah anak-anak saya demen banget kalau saya sudah mulai melakukan sesi canda dan melucu. Apa karena saya kelewat galak ya? hahahaha.

Tapi anak-anak sangat antusias saat saya mengeluarkan joke-joke dan membuat mereka tertawa ngakak dan terpingkal-pingkal. Saat saya pura-pura melakukan hal konyol untuk mengundang tawa mereka. Rasanya senang sekali mendengar renyahnya tawa mereka. Hmm sayangnya bakat stand up comedy saya sudah lama gak terasah. Kebanyakan menghadapi stress kerjaan kayaknya hahaha. Tapi meskipun kadang candaan saya garing namun mereka tetap bisa ketawa. Saya ikut tertawa juga dung menertawakan mereka.

Mereka bahkan sering meminta sesi khusus bercanda. "Ibuu, ayooo becanda dulu." dan sesi bercanda terutama dengan dek Paksi (apalagi kalau kedua kakaknya bergabung) rasanya tidak selesai satu jam. Saya kadang terharu dan sedikit menyesal mengenal gadget. Sering gadget menjadi penghalang kehangatan komunikasi kami. Well, saya sering diingatkan sama anak-anak, "Ibuu jangan main hp mulu, ayo main sama kita. Ayoo becanda...!"

💗💗💗💗💗💗💗💗💗 

Be well prepared!

Menjadi Ibu itu harus selalu siaga. Terlebih lagi Ibu bekerja karena tidak bisa selalu ada di dekat anak-anak dalam segala situasi. Saat mereka kurang sehat atau bahkan sakit, kita tentu selalu berharap bisa mendampingi mereka. Namun apa daya, kadang kita harus memilih sesuatu yang sebetulnya tidak ingin kita pilih. Halaaah mulai deh deramaah. Well, menyiasati kondisi yang tidak terduga, antisipasi wajib hukumnya.

Stock obat penurun panas, salah satu yang wajib dilakukan oleh semua Ibu. Kejadian banget nih, saat Ka Alinga sakit beberapa waktu lalu pas saya lagi tugas luar kota. Waktu video call, Kakak lapor kalau badannya panas. Bahkan saya bisa meminta langsung si Kakak untuk mengambil Tempra Syrup yang selalu siap di box obat di laci ruang makan. Tempra Syrup kan mengandung paracetamol yang bekerja sebagai antipiretika pada pusat pengaturan suhu di otak dan analgetika dengan meningkatkan ambang rasa sakit. Jadi fungsinya menurunkan panas dan meredakan nyeri.

Saya minta dia cek ulang takarannya. Hmm saya gak terlalu khawatir sebetulnya soal dosis karena memang dosis Tempra sudah tepat. Tidak over dosis atau kurang dosis. Tempra ini aman di lambung. Praktis juga karena tidak perlu dikocok dan larut 100%. Jadi Kakak bisa meminumnya sendiri. 

Stock paracetamol menurut saya wajib banget di semua rumah. Saya juga simpan satu di mobil. Sebagai simpanan di rumah karena anak-anak rasanya butuh kapan saja tiba-tiba demam atau panas. Kalau di perjalanan jauh juga jangan sampai repot mencari apotik padahal anak sudah butuh, apalagi pas kita terjebak di tengah kemacetan. Be well prepared wajib banget kan?

Saat ada yang terpaksa harus ke dokter karena sudah lebih dari 3 hari panas atau demamnya tidak membaik, dokter juga biasanya say "yes" kok dengan paracetamol pilihan saya.

"Ibu punya paracetamol di rumah kan?" "
Iya, saya ada Tempra Syrup dok"
"Ya sudah lanjutkan aja diberi Tempra Syrupnya selama masih panas sambil diminumkan juga obat yang saya resepkan ya..."

Naah last but not least...

💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗 

Berlibur atau travelling bareng

Naah ini nih penting banget. "Ngapain sih phi, anak-anak amsih kecil-kecil aja diajak travelling?" Well, kayaknya harus dibuat satu postingan khusus untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi travelling bareng mereka itu efek terbesar yang kami rasakan adalah bonding yang makin kuat. Yang paling utamanya tentu fun bareng kan ya? tapi dari kegiatan fun ini anak-anak belajar banyak lho, soal disiplin, tepat waktu, toleransi, berbagi, bekerja sama, sabar. Wiiih sungguh kaya nilai yang bisa mereka dapatkan. Sebaliknya nilai-nilai sejenis juga menjadi pembelajaran penting bagi kita sebagai orang tua. 

Travelling bareng menyisakan banyak kenangan indah di memori mereka. Saat sedang bercengkarma, kenangan-kenangan itu menjadi pemicu kehangatan komunikasi kami. Sesuatu yang sangat bermakna bagi kami. Jadi tetaplah yaa, kita menabung supaya bisa travelling bareng krucils. Kalaupun tidak yang jauh-jauh, liburan pendek semacam staycation juga tidak kalah berkesannya.

Well, to sum up, just wanna say to all working moms that we are deserved to our kid's love no matter what. Just show that you have the great one, that they will give you more. Semangat moms  *kisses


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.

26 comments

  1. hehe lucu juga si kaka ya. MEmang anak2 itu pemikirannya suka ngagetin hehe..keren tipsnya mbak

    ReplyDelete
  2. Waaahaha.... curhatnya kereeeeeen.
    Love it

    ReplyDelete
  3. Makjleb ya mak komen anak-anak, suka diluar dugaan ^^

    ReplyDelete
  4. Tiada hari tanpa pelukan,ciuman....aku juga suka uwel2 bubuky

    ReplyDelete
  5. Jleb banget ya.. Tulisan ini ngingetin banget. Aku meskipun di rumah juga sering kurang waktu sama anak. Hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi kita nikmati aja apapun perannya ya mbaa
      yang pasti cinta kita ke anak2, tak terdefinisikan lah yaa

      Delete
  6. betul ya mbak, walau kita sbg ibu bekerja bukan karena kita gak sayang anak ya, tapi aku merasakan manfaat untuk anak2ku itu lebih mandiri dan waktu bersama iu jd lebih bikin rindu selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ophi juga berharap anak2 kelak jadi lebih mandiri
      tp memang mau gak mau mrk sdh mulai bs mandiri dlm beberapa hal krn ibunya kerja ini mah

      Delete
  7. Dulu saat masih kerja aku juga selalu berusaha menyiapkan kebutuhan anak-anak sendiri, sebelum berangkat kerja.
    Berusaha untuk tetap dekat sama anak-anak, walau waktunya terbatas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya wajib berusaha utk itu spy tetap kuat bonding sama mrk meski waktu kita tak banyak

      Delete
  8. Nah bukan galak ya tapi disiplin 😆 aku bilang bukan galak, tapi tegas hihii... Semua yg dilakukan ibu yg terbaik untuk anak2 😍 10 tahun menjadi ibu pasti luar biasa ya mbaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bismillah aja uci, niatnya yang terbaik, semoga Allah ridho n anak2 kelak ngerti

      Delete
  9. aah... pemikiraan anak2 suka bikin kita terharu ya mba... bahkan terkaget2 :)

    ReplyDelete
  10. Aku juga sering punya panggilan buat si kecil, misalnta : sayangku, kasihku, cintaku, hehe.

    Sebagai ibu bekerja, kadang nerasa kurang kebersamaan dengan anak ya mbak Ophi. Itu juga sering kualami

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa makanya tingkatkan kualitasnya krn kuantitas wkt kit mmg terbats sm mrk

      Delete
  11. " Melucu, traveling bareng, anak2 kami libur sekolahe gak bareng. Yg dua sehari2nya tinggal di asrama. Saat jdwl perpulangan pas workday, al hasil gathering paket lengkap adlh moment prestisius.

    Semoga sukses lombanya mbak Ophi, tulisannya penuh pencerahan neh."

    ReplyDelete
  12. Aahh... Mbak Ophi.. paket lengkap banget sih sebagai ibu. Anak-anak tampaknya sudah paham banget sama kondisi ibunya sebagai ibu bekerja. Bahagia terus yaa Mbak Ophi.. salam sayang buat trio krucils yang pinter-pinter :)

    ReplyDelete
  13. Semoga senantiasa diberikan kesehatan yaa mbak Ophi. Biar bisa melakukan segala urusan baik pekerjaan maupun urusan di rumah dengan baik :)

    ReplyDelete
  14. i feel u mba dan menyiapkan segalan sesuatu sendiri tnp art itu yg sll aku lakukan sblm kerja meski ada art yg datang hehehe

    ReplyDelete
  15. Makasiih informasinya momss.. Bermanfaat sekalii buat saya dalam mengasuh anak sayaa...

    ReplyDelete
  16. Teh Opie, dah lama ga ketemu. eh, ketemunya di Blog. kisahnya ringan tapi menginspirasi. Kadang-kadang aq juga ngerasa bersalah karena sering ninggalin anak-anak, akibat kerjaan kantor dan dinas luar kota. Tapi daripada merasa bersalah, lebih baik selalu berusaha meluangkan dan menciptakan waktu yang berkualitas agar anak-anak tidak merasa ditinggal bundanya. I am not a perfect mom, but I am trying to do my best for my little family. miss u banget teh Opie dan juga Iim

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.