Kayabuki no Sato: Miyama Kyoto Perfecture

Miyama, Wajah Kyoto yang Berbeda

Kalau mendengar kata "Kyoto", yang terbayang mungkin adalah kuil-kuil tua, jalanan dengan rumah tradisional Jepang, kimono, bunga sakura, atau suasana Gion yang penuh cerita. Tetapi Kyoto ternyata memiliki wajah lain. Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, di kawasan pegunungan sekitar  50 kilometer di sebelah utara Kyoto, ada sebuah kawasan bernama Miyama. 



Wilayah ini berada di Nantan City, Kyoto Prefecture, dan dikenal sebagai salah satu tempat yang masih mempertahankan lanskap pedesaan tradisional Jepang. Kawasannya cukup luas, sekitar 340 kilometer persegi, dan sekitar 90 persen wilayahnya berupa hutan. Kalau dilihat dari kejauhan, memang seeksotis itu wilayah ini, deretan rumah tradisional dengan latar belakang pegunungan.

Yang terbayang saat mendengar kata "Miyama" adalah sebuah desa tradisional di Jepang di sebuah kaki pegunungan yang diselimuti salju tebal dengan lampu-lampu yang membuatnya terlihat magical. Ini gambaran dari poto Miyama dari hasil googling. Kebetulan waktu itu akhir bulan Maret dan berada di penghujung musim salju menuju musim semi.  Jujur ada harap, kami bisa menyaksikannya.

Baca: Fushimi Inari Kyoto

Beberapa rekan perjalanan bercerita bahwa sehari sebelumnya mereka bertemu dan ngobrol dengan wisatawan dari Malaysia yang baru saja mengunjungi Miyama dan mendapatinya masih diselimuti salju. Jujur kami juga berharap bisa menemukan pemandangan dan pengalaman yang sama. Mobil kami melaju dari Kyoto, namun sepanjang jalan tidak juga melihat tanda-tanda salju tebal. 


Kayabuki no Sato, Desa dengan Atap Jerami

Salah satu tujuan wisata favorit di Miyama adalah Kayabuki no Sato, atau Thatched Roof Village. Tujuan kami memang ke sana.  Di kawasan ini berdiri rumah-rumah tradisional dengan atap jerami yang menjadi ciri khas Miyama. Dari sekitar 50 rumah di kawasan tersebut, 39 masih mempertahankan atap jerami tradisionalnya. Kawasan ini ditetapkan sebagai "Important Preservation District for Groups of Traditional Buildings" pada tahun 1993. 

Atap rumah di Miyama menggunakan "susuki atau miscanthus", rumput yang memang tumbuh di kawasan tersebut. Masyarakat Miyama secara turun-temurun memelihara padang rumput untuk memastikan bahan atap tetap tersedia. Atap jerami bahkan perlu diganti secara berkala, sekitar setiap 30–40 tahun.

Sebuah rumah bisa tetap berdiri selama puluhan tahun bukan hanya karena bangunannya kuat, tetapi karena ada pengetahuan, keterampilan, bahan alam, dan kerja bersama yang terus diwariskan. Rumah beratap jerami itu bukan lagi sekadar beautiful Japanese scenery. Ia menjadi simbol tentang tradisi yang dipelihara.


Mobil kami parkir di sebarang kawasan rumah tradisional, ada semacam pusat infromasi dan tempat menjual souvenir dengan parkiran mobil yang cukup luas. keluar dari mobil dan melihat pemandangan di luar serasa sedang melihat lukisan.  Di depan mata tampak deretan rumah beratap jerami yang dikelilingi perbukitan hijau, rasanya seperti masuk ke halaman sebuah buku cerita.

Kami menyeberang jalan yang juga luas dan menapaki jalan menuju desa dengan suasana khas tersebut. Selain deretan rumah dengan atap jerami, ada ladang sayur-sayuran di bagian depan. Teman kami bahkan menyempatkan diri mendalami peran sebagai penduduk lokal dengan mencoba menyiram sayur-sayuran tersebut. 

Kompleks dan kawasan perumahan ini memang bukan museum, tetapi rumah yang masih dihuni. Jadi memang masih ada penduduk asli yang tinggal di sana meskipun ada rumah-rumah yang juga disewakan sebagai homestay bagi wisatawan yang ingin menginap di sana dan merasakan vibes sebagai warga lokal. 

Baca: 7 Fakta tentang Jepang yang Membuat Saya Surprise

Selain sebagai destinasi wisata, warga lokal dan tempat tinggal asli masyarakat tentu membuat kawasan ini terasa lebih hidup. Situs resmi pariwisata Miyama bahkan menekankan bahwa Kayabuki no Sato adalah living space—tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari, bukan sekadar objek wisata.

Wisatawaan akan  melihat "kehidupan yang masih berlangsung". Ada orang yang tinggal di sana. Ada aktivitas sehari-hari. Ada toko kecil, tempat makan, museum, dan ruang-ruang budaya yang hidup berdampingan dengan rumah penduduk.    

Miyama dan filosofi hidup yang dekat dengan alam

Miyama juga dikenal dengan konsep "satoyama", yaitu lanskap di antara permukiman dan pegunungan tempat masyarakat hidup berdampingan dengan alam dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.



Wilayah Miyama membentang sekitar 340 kilometer persegi dan sebagian besar wilayahnya merupakan hutan. Sungai Yura mengalir melalui kawasan ini dan sejak dahulu kehidupan masyarakat berkembang mengikuti lembah dan aliran sungai tersebut. 

Kedatangan kami di pagi hari dengan harapan masih bisa menemukan suasana bersalju sebelum diterpa matahari pagi. Ternyata cuaca cukup cerah sesampainya di sana. Udara pegunungan, suara air sungai. sawah yang berubah warna mengikuti musim. Yang menarik adalah upaya masyarakat mempertahankan cara hidup dan lanskapnya.

Baca: Osaka Castle

Bahkan karena rumah-rumah jerami sangat rentan terhadap kebakaran, desa ini melakukan pemeriksaan sistem pemadam kebakaran dengan menyemprotkan air secara serentak dua kali dalam setahun, pada musim semi dan musim gugur. Upaya tersebut merupakan bagian dari perlindungan terhadap lanskap budaya Miyama. 

Ada satu hal yang perlu diingat. Karena Kayabuki no Sato merupakan kawasan tempat tinggal masyarakat, kita sebagai wisatawan perlu menghormati kehidupan warga. Kita tidak boleh memasuki rumah tanpa izin. Jangan mengganggu aktivitas penduduk. Perhatikan batas-batas area yang boleh dimasuki.

Dan tentu saja, jangan lupa bahwa apa yang bagi kita adalah "pemandangan indah" adalah rumah dan lingkungan hidup seseorang. Pelestarian lanskap dan penghormatan terhadap kehidupan warga menjadi perhatian utama dalam pengelolaan kawasan tersebut. Saya pribadi lebih banyak fokus mengambil gambar, eh untung ada rekan seperjalanan yang mau juga mengabadikan saya di suasana Miyama, beberapa candid, Hmm alhamdulillah punya bukti pernah menikmati tenangnya Miyama, potret Jepang yang berbeda. 

Miyama at a glance

  • 📍 Lokasi: Miyama, Nantan City, Kyoto Prefecture, Japan
  • 🏡 Ikon utama: Kayabuki no Sato
  • 🌿 Karakter: pedesaan Jepang, satoyama, rumah tradisional beratap jerami
  • 🏯 Status: Kayabuki no Sato ditetapkan sebagai Important Preservation District for Groups of Traditional Buildings pada 1993. 
  • 🚆 Transportasi umum: JR Kyoto → Sonobe/Hiyoshi → Nantan City Bus → Kayabuki no Sato. 
  • 🚗 Dari Kyoto: sekitar 80 menit dengan mobil, menurut informasi pariwisata resmi Miyama. 
  • Saran: sisihkan waktu khusus agar tidak perlu terburu-buru.
  • ❤️ Catatan penting: Kayabuki no Sato adalah kawasan tempat masyarakat tinggal; hormati privasi dan aktivitas warga. 
Usai menikmati suasana khas masyarakat tradisional Jepang dan sejenak menikmati hening dengan kembali ke alam. Kami kembali ke Kyoto untuk agenda berikutnya yaitu menonton Kimono Show di Nishijin Textile Center Kyoto.

8 comments

  1. Pemandangannya beneran kayak keluar dari buku cerita ya, Mbak! Walau belum berkesempatan ketemu salju tebal, tapi suasana pedesaan yang asri, tenang, dan dikelilingi perbukitan hijau ini tetep kelihatan magical banget. Setuju banget dengan pengingatnya kalau ini adalah living space, jadi kita sebagai wisatawan memang harus tetap santun dan menghormati warga lokal. Karena jadi ingat kejadian beberapa waktu lalu kalau gak salah di Jogja. Malah jadinya warlok gak nyaman, karena mulai banyak perilaku wisatawan yang dirasa agak mengganggu.

    ReplyDelete
  2. Waktu baca bahwa atap ini perlu diganti secara berkala, terus terang sempat kepikirannya itu kayak setahun sekali atau bahkan beberapa bulan sekali, tapi ternyata sampai 40 tahun yaa daya tahannya. Awet juga kalau begitu. Nah kalau pemilik rumah sudah sepuh, biasanya untuk mengganti atap ini akan dikerjakan oleh anaknya (kalau ada) atau minta tolong ke orang gitu ya? Dan bahan untuk atapnya itu apakah ada yang menjual dalam bentuk jadi (tinggal rakit/pasang) atau harus cari sendiri?

    ReplyDelete
  3. Seru banget mba perjalanannya, yang baca aja bisa masuk core memory apalagi yang kesana langsung. Semoga suatu saat aku juga bisa ke sana.

    ReplyDelete
  4. jujur aku agak takut pas baca atap rumahnya masih dari jerami. Tapi pastinya pemerintah sana sudah melakukan tindakan preventif dan pengawasan ya, mbak agar kawasan ini tetap aman dan terlindungi. Cakep banget ini tempatnya dan masih terlihat kehidupan asli masyarakatnya

    ReplyDelete
  5. Kayabuki no Sato ini cantik banget! Desa dengan rumah-rumah tradisional beratap jerami seperti ini memberikan sisi Jepang yang berbeda dari destinasi mainstream. Rasanya cocok banget buat menikmati suasana yang lebih tenang sambil melihat bagaimana tradisi dan kehidupan masyarakat lokal masih dipertahankan.

    ReplyDelete
  6. Beneran nggak nyangka sih kalau ternyata Jepang punya area yang beneran tradisional banget. Asli menakjubkan banget. Sampe ada agenda penyemprotan air berkala dalam kurun waktu setahun dua kali supaya desa tersebut aman.

    Miyama, beneran the real dekat dengan alam. Indah dan b aman.

    ReplyDelete
  7. Wah perjalanannya mengingatkan saya pada masa kecil Mbak. Rumah kami dulu beratapkan ilalang yang dirakit pake tali bambu gitu. Duh jadi rindu masa itu...

    ReplyDelete
  8. Di Miyama juga ternyata ada sejenis kampung adat di kampung saya ya, hehe...

    Kayabuki no Sato, atau Thatched Roof Village itu kalau dari atap rumahnya aja mirip kampung adat di Jawa Barat kan ya?

    Hanya mungkin jenis rumput nya yg berbeda
    Di Sunda mana ada jenis rumput susuki atau miscanthus
    Yang ada kirai dan eurih. Haha...

    Kalau di Jepang rumah tradisional dengan atap jerami yang menjadi ciri khas Miyama ini ditetapkan sebagai "Important Preservation District for Groups of Traditional Buildings" pada tahun 1993. Di Indonesia juga banyak rumah ada yg sudah ditetapkan sebagai warisan budaya juga

    Semoga kita sebagai WNI bisa seimbang antara mengagumi keindahan alam luar negeri dan menjaga kelestarian budaya Nusantara

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.