Sehari Menjadi Perempuan Jepang dalam Balutan Busana Tradisional Jepang

Busana Tradisional Jepang

Jepang sungguh kaya akan budaya termasuk dalam urusan busana. Jepang dengan karakter budaya yang lekas menjaga warisan budaya dalam berbusana dengan terus menjaga dan melestarikannya. Di tengah gempuran berbagai trend fashion dunia, Jepang masih melestarikan dan membudayakan gaya busananya yang khas. 

Saya sejujurnya hanya tahu kimono dan belakangan sejak mengunjungi Jepang mengenal juga Yukata. Upss ternyata ragam busana tradisional Jepang cukup banyak. Berdasarkan rujukan dari media sosial Tokyo Japan TV ada 9 jenis busana tradisional jepang yang masing-masing memiliki karakteristik baik dari sisi bahan (fabrik), corak, style (gaya busana), maupun penggunaannya.  Hmm bahkan pelengkap busana seperti obi, tabi, zori dan geta juga melengkapi keunikan busana tradisional Jepang. Setidaknya yang paling banyak dikenal adalah 9 macam tata busana sebagaimana tampak dalam gambar di bawah ini.


Sumber : Tokyo Japan TV

👘 Kimono — over 1000 years of history

🎐 Yukata — summer tradition since Edo period

🎓 Hakama — worn in ceremonies & graduations

💃 Furisode — symbol of youth & elegance

🌿 Tomesode — formal wear for special occasions

☀️ Jinbei — comfortable summer outfit

🎉 Happi — festival spirit clothing

🤍 Shiromuku — traditional wedding kimono

🎀 Komon — everyday patterned kimono

Baca juga: Miyama Kyoto

Pakaian tradisional Jepang memang memiliki sejarah panjang dan beragam jenis yang digunakan untuk berbagai situasi, mulai dari acara formal, festival musim panas, hingga kehidupan sehari-hari pada masa lalu.  Setidaknya saya akan mencoba memberikan gambaran  5  jenis  pakaian tradisional Jepang yang paling populer berikut ini:

1. Kimono 

Pakaian tradisional paling ikonik di Jepang. Berbentuk jubah berpotongan T lurus yang menjulur hingga pergelangan kaki dengan lengan lebar. Bahan yang digunakan umumnya sutra atau silk yang memberi kesan mewah. Komono biasa digunakan pada acara formal seperti pernikahan, upacara minum teh, festival budaya, atau kelulusan. Pelengkap diikat menggunakan sabuk kain tebal yang disebut Obi.

2. Yukata

Versi ringan dan informal dari Kimono yang terbuat dari bahan katun tipis tanpa furing. Biasanya dipakai saat musim panas, terutama ketika menghadiri festival kembang api (Hanabi Taikai) atau saat menginap di penginapan tradisional (Ryokan). Karakteristik khas Yukata lebih mudah dikenakan dan jauh lebih sejuk dibandingkan Kimono. Warna dan corak Yukata juga biasanya lebih cerah dan meriah dibandingkan dengan warna dan corak Kimono.

3. Hakama 

Pakaian berupa celana longgar berlipat atau rok lebar yang dikenakan di luar Kimono. Secara historis dipopulerkan oleh kaum samurai. Saat ini dipakai oleh pria pada acara formal (seperti pernikahan atau upacara kedewasaan), wanita saat upacara kelulusan universitas, serta praktisi bela diri tradisional (seperti Kendo, Aikido, dan Kyudo).



4. Haori & Michiyuki 

Haori merupakan jaket sepinggang atau sepinggul yang dikenakan di atas Kimono sebagai outer/luaran. Dibiarkan terbuka di depan dan diikat dengan tali kecil (Haori-himo). Sedangka michiyuki adalah mantel luar berbahan tebal yang digunakan untuk melindungi Kimono dari debu dan cuaca dingin saat beraktivitas di luar ruangan.

5. Jinbei & Samue 

Jinbei merupakan akaian santai musim panas yang terdiri dari atasan berlengan pendek (sering kali dengan jahitan terawang untuk sirkulasi udara) dan celana pendek. Populer dipakai pria dan anak-anak di rumah atau saat festival santai.

Nah kalau Samue itu pakaian kerja tradisional yang terbuat dari katun atau linen, terdiri dari atasan berlengan panjang dan celana panjang. Awalnya dipakai oleh biksu Zen saat melakukan pekerjaan fisik, kini sering dipakai sebagai pakaian santai di rumah.

6. Happi 

Jubah pendek berlengan longgar yang biasanya dihiasi dengan lambang keluarga, tulisan kanji, atau simbol organisasi pada bagian punggung dan kerah. Happi umumnya dipakai oleh peserta festival (Matsuri) atau pekerja toko tradisional.

Baca juga: Kimono Show

Nah yang unik dari busana tradisional Jepang adalah  pelengkap busana atau aksesori dan alas kakinya. Ada Geta, sandal bakiak kayu dengan gerigi (ha) di bagian bawahnya, sering dipadukan dengan Yukata. Lalu ada Zori, sandal tradisional yang lebih formal (terbuat dari jerami, kain, atau kulit), dipadukan dengan Kimono. Nah kalau Tabi itu merupakan kaos kaki tradisional dengan ibu jari terpisah yang dirancang khusus untuk dipakai bersama Geta atau Zori.

Experiencing a Local Woman, Wearing Kimono and Hakama

Nah salah satu pengalaman yang paling berkesan saat ke Jepang adalah saat merasakan pengalaman as local.  Kami berkesempatan mengenakan pakaian tradisional Jepang di Takatsuki, Osaka. Hari itu kami tidak sekadar mengenakan pakaian untuk berfoto. Kami seperti diajak untuk sejenak masuk ke dalam salah satu bagian dari budaya Jepang—merasakan bagaimana rasanya mengenakan pakaian yang memiliki aturan, bentuk, dan sejarah yang berbeda dari pakaian sehari-hari yang biasa saya kenakan.


Kami diajak ke Takatsuki City Johnai Public Hall  atau Takatsuki Education Center, masih di Osaka. Di sana kami memilih busana tradisional Jepang yang umumnya adalah Yukata. Kalau Kimono kan biasanya agak sulit dan ribet juga dikenakan, Yukata terasa lebih simpel dengan warna dan corak yang cerah. Duh senengnya karena kami dipandu oleh orang Indonesia yang sudah menjadi warga Jepang dengan dua anak balitanya yang lucu. Suaminya orang lokal. 

Usai memilih baju dan mengenakkannya, tentu saja dengan bantuan. Kami kemudian jalan kaki menuju taman dengan bunga sakura yang mulai bermekaran, photo-photo dan makan bekal ala piknik di Jepang. Yes, hanami. Piknik untuk melihat bunga-bunga bermekaran di musim semi ala Jepang.

Berasal dari kata hana (bunga) dan mi (melihat). Dulu kala pada Zaman Heian, tradisi hanami ini hanya dilakukan oleh para kaum bangsawan. Pada Zaman Edo, tradisi ini menyebar luas ke seluruh lapisan masyarakat. Menjadi simbol untuk merayakan datangnya musim semi, menghargai keindahan alam, serta mensyukuri momen singkat kehidupan yang berharga. Seseru itu ternyata.

Baca:  7 Fakta tentang Jepang yang bikin Surprise

Oh iya sebelum menceritakan serunya hanami, saya mundur ke belakang saat saya entah kenapa kepincut memilih sepajang baju yang kemudian saya kenakan. Saya tidak paham kalau yang saya pilih adalah kombinasi Kimono dan Hakama. Bukan Yukata seperti yang selama ini sering saya bayangkan ketika berbicara tentang pakaian tradisional Jepang. Ternyata saya jatuh cinta pada kimono yang dipadukan dengan hakama.

Kimono tentu sudah sangat familiar di telinga kita. Namun, hakama mungkin tidak sepopuler kimono. Hakama adalah pakaian tradisional Jepang yang dikenakan di bagian bawah tubuh, berbentuk seperti rok atau celana panjang dengan lipatan-lipatan khas. Pada perempuan, kombinasi kimono dan hakama cukup sering dijumpai dalam acara-acara formal, termasuk upacara kelulusan di Jepang.

Saya mengenakan kimono berwarna marun agak keunguan dengan motif bunga-bunga kecil, dipadukan dengan hakama berwarna ungu tua. Di bagian pinggang terikat obi berwarna ungu yang memberikan kontras cantik dengan warna kimono. pada bagian belakang obi ada pita cantik paduan ungu muda dan tua. Kalau dilihat detailnya pada hakama atau roklipit yang saya gunakan juga ada corak bunga-bunga sakura di bagian bawah kanan dan beberapa titik, seperti bordir yang mempercantik hakama yang saya kenakan.

Sekilas tampak sederhana. Namun ketika benar-benar mengenakannya, saya baru menyadari bahwa pakaian tradisional bukan hanya tentang kain dan motif yang indah. Cara memakainya pun memiliki tata aturan tersendiri. Lapisan pakaian, posisi kerah, ikatan di pinggang, hingga bagaimana kain jatuh di tubuh semuanya membuat penampilan akhirnya terlihat begitu khas. 

Hmm dan karena saya mengenakan jilbab motif Kimono dan Hakama dengan corak polos yang mendominasi membuat paduan yang aman dan tidak tabrak motof jika dibandingkan apabila saya memilih motof dan corak bunga-bunga yang cerah. Tidak lupa saya juga melengkapinya dengan Geta, sendal kayu yang khas dan unik. Tidak lupa dilengkapi dengan clucth warna gold yang tampak. Setiap dari kami memang bisa memilih set baju tradisional ini lengkap dengan alas kaki dan tas tangannya.

Saya pun harus menyesuaikan cara berjalan. Hakama yang panjang dan berlipit membuat langkah terasa berbeda. Gerakan tubuh menjadi lebih terukur. Secara tidak langsung, pakaian itu seperti mengajarkan saya untuk memperlambat gerakan—berjalan lebih hati-hati, lebih anggun, dan lebih sadar terhadap apa yang sedang dikenakan.


Dari pengalaman kecil seperti mengenakan Kimono dan Hakama, saya sedikit memahami bahwa pakaian tradisional sesungguhnya merupakan bagian dari cara sebuah masyarakat memaknai kehidupan.

Baca juga: Magical Fushimi Inari

Sebelum pergi ke taman untuk Hanami, kami mengabadikan penampilan dengan busana tradisional jepang di beberapa sudut di dalam gedung Takatsuki City Johnai Public Hall.  Kemudian berjalan keluar dan berfoto di lingkungan sekitar. Seru dan excited rasanya mengenakan pakaian tradisional sambil menikmati suasana kota.

Hmm saya jadi terinspirasi untuk mencoba busana lokal suatu negara atau daerah saat berkunjung ke negara atau daerah tersebut dan menikmatinya ala warga lokal. Kalau kamu gimana? bakalan suka mengenakan busana tradisional Jepang ini gak?

No comments

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.